Beban Kanker Indonesia Meningkat, ICCF 2026 Perkuat Kolaborasi Indonesia-Tiongkok

ICCF 2026 memperkuat kolaborasi Indonesia-Tiongkok dalam penanganan kanker melalui transfer teknologi, riset, dan penguatan tenaga kesehatan.

Diterbitkan 15 Juli 2026, 09:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya jumlah kasus kanker di Indonesia mendorong perlunya penguatan layanan kesehatan, mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, hingga pengobatan. Kolaborasi internasional dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat peningkatan kualitas dan pemerataan layanan kanker di Indonesia.

Upaya tersebut menjadi fokus dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang diselenggarakan di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan, pada Minggu, 12 Juli 2026.

Forum ilmiah yang diselenggarakan Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia bersama China Anti-Cancer Association (CACA) sebagai bagian dari Global Medical Summit Indonesia ini mempertemukan pakar onkologi, peneliti, akademisi, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan dari Indonesia, Tiongkok, serta sejumlah negara ASEAN.

Dalam pembukaan, Vice President China Anti-Cancer Association (CACA) sekaligus Secretary General Asian Oncology Society, Profesor Wang Ying, menegaskan bahwa kolaborasi yang tulus antarnegera menjadi kunci untuk melahirkan berbagai terobosan dalam penanganan kanker. “Melalui kolaborasi yang erat, kita dapat menciptakan berbagai terobosan dan keberhasilan yang lebih besar dalam upaya melawan kanker," ujarnya.

Kegiatan tersebut turut didukung Modern Cancer Hospital Guangzhou sebagai salah satu mitra dalam penguatan kolaborasi layanan kanker antara Indonesia dan Tiongkok.

Ketua Konsil Kesehatan Indonesia, drg. Arianti Anaya, MKM, yang turut membuka acara ini, mengatakan kanker telah menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar yang harus ditangani secara serius.

“Berdasarkan data tahun 2022, Indonesia mencatat lebih dari 400 ribu kasus baru kanker dengan lebih dari 240 ribu kematian. Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh pasien yang terdiagnosis kanker tidak dapat diselamatkan,” ujar Arianti.

Pemerintah Perkuat Deteksi Dini Kanker

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat upaya deteksi dini melalui fasilitas pelayanan kesehatan primer.

Salah satu program yang dijalankan adalah pemeriksaan kesehatan gratis pada hari ulang tahun. Program ini antara lain menyasar masyarakat berusia 40 tahun ke atas yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami sejumlah penyakit, termasuk kanker.

Selain memperluas cakupan skrining, pemerintah juga meningkatkan kapasitas pelayanan kanker melalui penyediaan teknologi medis serta penguatan kompetensi tenaga kesehatan.

“Kanker merupakan masalah kesehatan bersama di kawasan Asia. Karena itu, forum seperti ICCF menjadi penting sebagai tempat bertukar pengalaman, teknologi, dan praktik terbaik agar setiap negara dapat saling belajar dalam meningkatkan pelayanan kepada pasien,” kata Budi.

Penanganan Kanker Membutuhkan Kolaborasi Multidisipliner

Ketua Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia, dr. Endang Nuryadi, Sp.Onk.Rad(K), PhD, menjelaskan bahwa penanganan kanker modern tidak dapat dilakukan hanya oleh satu bidang keilmuan.

Pelayanan terhadap pasien harus melibatkan berbagai disiplin secara terintegrasi, mulai dari tindakan bedah, radioterapi, terapi sistemik seperti kemoterapi, hingga pelayanan suportif.

“Pelayanan kanker modern harus mengintegrasikan tindakan multidisipliner, mulai dari bedah, radioterapi, terapi sistemik, serta pelayanan suportif berupa rehabilitasi medik, fisioterapi, akupunktur, hingga dukungan nutrisi,” jelas Endang.

Indonesia, lanjutnya, juga terus mengadopsi berbagai teknologi radioterapi modern, seperti stereotactic radiotherapy, image-guided radiotherapy atau IGRT, total body irradiation, serta total skin irradiation.

Namun, pemerataan layanan tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangannya meliputi tingginya biaya pengadaan peralatan, keterbatasan fasilitas di sejumlah daerah, serta kebutuhan terhadap tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi khusus.

Transfer Teknologi dan Penguatan Tenaga Kesehatan

Melalui kerja sama dengan China Anti-Cancer Association, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas transfer ilmu pengetahuan, mengembangkan riset bersama, serta mengadopsi inovasi teknologi yang telah diterapkan di berbagai pusat pelayanan kanker di Tiongkok.

Kolaborasi tersebut juga membuka kesempatan bagi tenaga kesehatan Indonesia untuk mengikuti pendidikan, pelatihan, dan pertukaran pengalaman klinis.

Sebagai mitra pendukung ICCF 2026, Modern Cancer Hospital Guangzhou turut mendorong penguatan jejaring akademik dan pertukaran pengetahuan antara tenaga kesehatan Indonesia dan Tiongkok.

Melalui kolaborasi tersebut, pelayanan kanker di Indonesia diharapkan dapat berkembang menjadi lebih berkualitas, merata, dan mudah diakses oleh masyarakat di berbagai daerah.