Anemia dan Anxiety pada Anak Muda, Apa Hubungannya?

Anemia pada anak muda tak hanya sebabkan lemas, tapi juga picu anxiety. Kenali dampaknya pada otak, emosi, dan prestasi akademik sejak dini.

Diterbitkan 15 April 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anemia sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan ringan yang hanya menyebabkan tubuh lemas dan pucat. Padahal, kondisi ini bisa berdampak jauh lebih serius, terutama pada anak muda. Salah satu dampak yang mulai banyak disorot adalah kaitan antara anemia, khususnya anemia defisiensi besi, dengan meningkatnya risiko anxiety atau kecemasan.

Di Indonesia, anemia bukanlah masalah baru. Bahkan, sejak sebelum kemerdekaan, kondisi ini sudah tercatat sebagai penyakit yang banyak menyerang masyarakat. Hingga kini, prevalensinya masih tinggi dan menjadi perhatian serius dalam dunia kesehatan masyarakat.

Menurut Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, anemia defisiensi besi tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental dan fungsi otak.

"Selama ini orang hanya melihat anemia sebagai kurang darah yang berdampak pada lemas atau penurunan konsentrasi. Padahal, anemia defisiensi besi juga berkaitan dengan kesehatan mental, termasuk meningkatkan risiko anxiety pada anak muda," ujar Ray.

Apakah anemia ngaruh ke otak? Ray, menjelaskan, zat besi memiliki peran penting dalam pembentukan hemoglobin yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak.

Ketika tubuh kekurangan zat besi, kata Ray, pasokan oksigen ke otak pun ikut terganggu. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai fungsi kognitif, termasuk emosi dan kemampuan mengelola stres.

Anak muda yang mengalami anemia cenderung lebih mudah merasa cemas, gelisah, bahkan sulit mengendalikan emosi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada performa akademik hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

"Anak-anak dengan anemia defisiensi besi lebih rentan mengalami kecemasan. Ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga bagaimana otak bekerja dalam mengatur emosi dan respons terhadap tekanan," ujar Ray.

 

Dampak pada Working Memory dan Prestasi Akademik

Selain memicu anxiety, anemia juga berpengaruh pada working memory, yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat. Working memory menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang prestasi akademik.

Ketika working memory terganggu, anak akan lebih sulit memahami pelajaran, mengingat informasi, dan menyelesaikan tugas. Hal ini pada akhirnya dapat menurunkan kepercayaan diri dan memperparah kondisi kecemasan.

Ray menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap sepele, terutama di tengah upaya Indonesia memanfaatkan bonus demografi.

"Working memory adalah modal penting untuk prestasi akademik dan kualitas SDM. Jika anemia dibiarkan, dampaknya bisa panjang, mulai dari penurunan kemampuan belajar hingga gangguan mental," katanya.

Data menunjukkan bahwa anemia defisiensi besi masih menjadi masalah besar di Indonesia. Bahkan, pada ibu hamil, prevalensinya bisa mencapai hampir 50 persen.

Angka ini jauh di atas batas yang ditetapkan sebagai masalah kesehatan masyarakat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Tingginya angka anemia ini menjadi ancaman serius, karena berdampak langsung pada kualitas generasi muda.

Anak-anak yang tumbuh dengan kondisi anemia berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif dan emosional.

Lebih jauh lagi, dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga negara. Penurunan produktivitas akibat anemia bahkan bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

"Kalau anemia dibiarkan, dampaknya bukan hanya pada individu, tapi juga pada produktivitas dan ekonomi bangsa. Ini masalah kesehatan yang harus kita selesaikan bersama," pungkas Ray.