Anemia Defisiensi Besi, Masalah Sejak Sebelum Indonesia Merdeka yang Tak Kunjung Tuntas

Anemia defisiensi besi masih jadi masalah sejak sebelum merdeka. Kondisi ini berdampak pada kesehatan, prestasi, dan kualitas generasi muda.

Diterbitkan 15 April 2026, 13:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anemia defisiensi besi bukanlah persoalan baru di Indonesia. Masalah kesehatan ini bahkan sudah tercatat sejak sebelum Indonesia merdeka, dengan berbagai istilah seperti 'kurang darah', 'pandu atau lemah pucat', hingga 'kurang getih'. Ironisnya, hingga kini anemia masih menjadi tantangan besar yang belum sepenuhnya teratasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa anemia bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan kesehatan masyarakat yang telah berlangsung lintas generasi.

Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengatakan bahwa data menunjukkan prevalensi anemia di Indonesia masih tinggi, bahkan pada kelompok rentan seperti ibu hamil, angkanya bisa mencapai lebih dari 40 persen.

Angka ini sudah melampaui batas yang ditetapkan sebagai masalah kesehatan masyarakat global. Oleh sebab itu, kata Ray, anemia defisiensi besi harus dilihat sebagai isu serius yang berdampak luas.

"Anemia defisiensi besi ini bukan sekadar kurang darah biasa. Ini adalah masalah kesehatan bangsa yang sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka dan sampai sekarang belum selesai," ujarnya dalam diskusi media 'Studi IHDC Ungkap​ Stunting – Asupan Gizi dan Anemia Defisiensi Besi ​serta Dampaknya terhadap ​Working Memory Anak Usia Sekolah​' pada Rabu, 15 April 2026.

Menurut Ray, kondisi ini bahkan sudah tercatat dalam sejarah kedokteran komunitas di Indonesia. Pada masa awal pencatatan kesehatan melalui sistem seperti Bandung Plan, anemia sudah masuk sebagai salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat dan berkontribusi terhadap tingginya angka kesakitan.

Dampak anemia pun tidak bisa dianggap sepele. Selama ini, banyak orang mengaitkan anemia hanya dengan kelelahan atau penurunan kadar hemoglobin. Padahal, efeknya jauh lebih luas, terutama pada anak dan remaja.

"Anemia defisiensi besi tidak hanya memengaruhi IQ, tapi juga performa akademik, daya tahan tubuh, hingga kesehatan mental. Anak-anak dengan anemia lebih rentan mengalami kecemasan dan gangguan emosional," ujar Ray.

 

Dampak Anemia Defisiensi Besi

Lebih lanjut, Ray menyoroti dampak anemia terhadap fungsi kognitif yang lebih spesifik, yakni working memory. Fungsi ini berperan penting dalam proses belajar, pemecahan masalah, dan kemampuan menyerap informasi.

"Working memory adalah salah satu kunci utama prestasi akademik. Jika anak mengalami anemia defisiensi besi, maka secara hipotesis kemampuan ini akan terganggu, dan ini berpengaruh langsung pada kualitas sumber daya manusia ke depan," tambahnya.

Sayangnya, penelitian terkait hubungan anemia dengan working memory di Indonesia masih terbatas. Sebagian besar studi sebelumnya lebih fokus pada aspek IQ atau kognitif secara umum.

Melihat celah ini, kata Ray, IHDC melakukan kajian untuk memperkuat bukti ilmiah terkait dampak anemia terhadap fungsi kognitif anak.

Hasilnya menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Anak-anak dengan anemia cenderung memiliki skor working memory yang lebih rendah, yang pada akhirnya dapat memengaruhi prestasi akademik mereka.

Tidak hanya berdampak pada individu, anemia juga memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan. Penurunan produktivitas akibat anemia dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu negara.

"Kalau prevalensi anemia tinggi, produktivitas kerja menurun dan ini bisa berdampak pada ekonomi nasional hingga 4 persen. Jadi ini bukan hanya isu kesehatan, tapi juga isu pembangunan," pungkas Ray.

Dengan besarnya dampak yang ditimbulkan, anemia defisiensi besi seharusnya menjadi perhatian serius semua pihak.

Upaya pencegahan dan penanganan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari edukasi gizi, peningkatan akses terhadap makanan bergizi, hingga intervensi kesehatan yang tepat sasaran.