Hipertensi dan Diabetes Faktor Risiko Serangan Jantung, Menkes Dorong Deteksi Dini di Puskesmas

Faktor risiko serangan jantung mulai dari hipertensi dan diabetes tak terkontrol serta merokok. Deteksi dini orang dengan kondisi tersebut bisa di Puskesmas.

Diterbitkan 15 April 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hipertensi, diabetes dan merokok merupakan faktor risiko penyakit jantung. Perlu pengendalian di hulu untuk menekan pembiayaan akibat penyakit jantung di Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mencapai Rp 17 triliun per tahun.

“Penyakit jantung merupakan salah satu pembiayaan terbesar di BPJS (Kesehatan). Yang paling banyak serangan jantung itu kan sebagian besar karena darah tinggi, gula darah tinggi, dan sering merokok,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Maka, lanjut Budi, tugas Kemenkes adalah memastikan agar puskesmas bisa melakukan skrining dan pengobatan. Bila orang tersebut mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi maka perlu menjalani pengobatan rutin agar kondisinya terkontrol sehingga tidak sampai alami penyakit jantung.

"Kalau kita punya darah tinggi, gula tinggi, merokok, dengan CKG itu bisa ditangani sejak dari puskesmasnya. Kalau (gula darah tinggi, merokok, darah tinggi) itu tersimpan tiga sampai lima tahun, pasti kena serangan jantung atau stroke, nah, Kemenkes sudah mulai mendesain bagaimana deteksi itu mulai dari puskesmas," kata Budi pada Rabu, 15 April 2026 di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta mengutip Antara.

Rencana EKG di Puskesmas

Budi juga mengungkapkan tentang rencana memasang elektrokardiogram (EKG) di seluruh puskesmas seluruh Indonesia. Bila ada indikasi sakit jantung, maka pasien tidak perlu ke rumah sakit.

"Ada tekniknya itu bisa dilakukan di puskesmas oleh penduduk-penduduk yang terhubung di sana, sehingga bisa mengurangi jumlah orang yang ke rumah sakit, bisa mengurangi beban BPJS-nya," ucap Budi.

Salah satu aspek penting untuk mendukung pelayanan penyakit jantung yakni bertukar pengetahuan. Saat ini, Kemenkes bersama Tokushukai Medical Group Jepang juga menjadikan RSJPD Harapan Kita Jakarta sebagai pusat pendidikan dan penelitian jantung terbesar se-Asia.

"Kita sudah saling tukar-menukar dokter, tukar-menukar ilmu pengetahuan, sekarang kita tukar-menukar aset lagi, bukan hanya jumlah dokternya yang makin lama makin tinggi, melainkan jumlah pengetahuannya juga makin lama makin tinggi," katanya.