Mendampingi Pasien Kanker dengan Empati, Bukan Belas Kasihan

Dukungan terbaik bagi pasien kanker adalah empati yang berfokus pada kebutuhan mereka.

Diterbitkan 23 Februari 2026, 18:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasien kanker memerlukan dukungan dari orang lain seperti keluarga dan teman agar bisa melewati pengobatan penyakit tersebut. Namun, bagaimana cara dukungan tanpa membuat pasien kanker merasa dikasihani?

Psikolog klinis Aldila Muslimah Pradhanti dari RS EMC Alam Sutera mengatakan bahwa saat mendampingi pasien kanker perlu mendengarkan keinginannya. Namun berfokus pada keinginan pasien kanker. 

"Perlu tanya mau dibantu atau tidak, butuh apa? Mau cerita apa? Cukup itu di awal yang ditanyakan," pesan Aldila dalam Healthy Monday EMC Healthcare bersama Liputan6com bertajuk Sinergi Medis dan Psikologis Pilar Penting Penyembuhan pada Senin, 23 Februari 2026.

"Dengan melihat sudut pandang pasien, kita coba untuk ikut merasakan, berempati," lanjutnya. 

Aldila mengatakan untuk mengesampingkan ego pribadi. Belum tentu hal yang dianggap caregiver penting itu yang diinginkan pasien. Misalnya, saat ingin menolong bantu jalan agar bisa berjalan cepat.  Bisa jadi yang ditangkap oleh pasien kanker itu malah membuat mereka tertekan karena harus diburu-buru. Maka itu, tanyakan hal yang perlu dibantu.

Ketika pasien kanker mendapatkan dukungan psikologis yang tepat hal itu akan mendukung keberhasilan terapi. Apalagi pengobatan kanker bukan 1-2 hari selesai tapi bisa tahunan jadi perlu kesabaran seperti disampaikan dokter spesialis bedah onkologi konsultan, Denni Joko Purwanto.

"Mereka yang mempunyai dukungan psikologis yang kuat, semangat, mempunyai angka kesembuhan yang tinggi," tutur Denni dari RS EMC Alam Sutera di kesempatan yang sama.

 

Semangat dari Diri Pasien untuk Jalani Pengobatan Paling Penting

Dukungan dari keluarga dan komunitas memang sangat membantu. Namun, Denni mengatakan terpenting dalam pengobatan pasien kanker adalah semangat pasien untuk menjalani pengobatan.

Jika pasien merasa berat atau tidak kuat ketika mendapatkan diagnosis kanker dan tidak mendapat dukungan sosial maka perlu dirujuk ke psikolog.

"Di situlah kami memerlukan bantuan psikolog, supaya bisa terlewati, bisa menerima keadaannya dengan semangat," kata Denni.

Ketika pasien mampu menerima bahwa kanker bukanlah akhir dari segalanya, maka semangat untuk menjalani pengobatan secara penuh biasanya akan meningkat, dan hasil terapi pun cenderung lebih baik. Terpenting dalam penanganan kanker adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. 

 

"Pasien kanker tetap bisa bekerja, berkarya, merawat keluarga, dan menjalani peran sosialnya," tuturnya.

Â