Kanker Payudara Bisa Tanpa Gejala, Jangan Abaikan Tanda Kecil Ini!

Kanker payudara bisa muncul tanpa gejala jelas. Kenali benjolan tanpa nyeri dan lakukan deteksi dini sebelum terlambat.

Diterbitkan 23 Februari 2026, 16:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kanker payudara kerap muncul tanpa ditandai gejala, seperti benjolan atau rasa sakit. Jika pun ada benjolan, tak sedikit perempuan yang mengabaikannya karena menganggap kondisi biasa yang tidak mengarah pada kanker.

"Benjolan, mungkin ada rasa nyeri, kelainan di kulit yang lebih tebal, atau keluar cairan dari puting payudara itu harus kita waspadai. Problemnya memang, kanker ini tidak menimbulkan rasa nyeri sehingga dianggap hal yang biasa atau gejala sebelum haid," kata dokter spesialis bedah konsultan onkologi, Denni Joko Purwanto dari RS EMC Alam Sutera dalam Healthy Monday bersama Liputan6.com di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Anggapan bahwa gejala-gejala itu hal biasa membuat perempuan tidak sadar bahwa dirinya mengidap kanker payudara.

"Untuk itu, segeralah memeriksakan setiap ada keluhan di payudara, baik itu benjolan dan kalinan-kelainan yang lainnya juga," katanya.

"Kapan sih mulai (periksa)? Sebetulnya sejak wanita haid, kita harus ajarkan edukasi Sadari (periksa payudara sendiri), kemudian deteksi dini, skrining di atas 40 tahun kita lakukan mammografi, di atas 30 tahun kita lakukan USG secara berkala, mudah-mudahan kelainan-kelainan kecil  bisa kita atasi dan cegah kanker. Early detection is the best protection (deteksi dini adalah proteksi terbaik)," tambah Denni.

Benjolan Tanpa Nyeri, Bukan Berarti Tidak Bahaya

Denni menambahkan, pasien kerap mengabaikan benjolan di payudara yang tidak menimbulkan rasa sakit. Padahal benjolan tak nyeri bukan berarti aman.

"Justru yang problem itu kalau ada benjolan yang tidak sakit, ya tentu sih kalau udah lanjut ya nyeri. Tapi biasanya benjolannya tidak nyeri," katanya.

Ini yang membedakan benjolan yang merujuk pada kanker dengan kondisi mastodinia atau sakit payudara jelang haid.

"Mastodinia itu nyeri, nyerinya siklus menjelang haid karena paparan estrogennya tinggi, payudaranya terasa kencang dan nyeri," tambah Denni.

Pertahankan Fungsi Estetika Payudara

Pada semua penyakit, terutama kanker, stadium menjadi salah satu penentu kesembuhan pasien. Maka dari itu, deteksi sejak dini menjadi amat penting untuk mengetahui potensi kanker dan mengobatinya sebelum parah.

“Kalau stadium-stadium awal akan lebih mudah pengobatannya, kesembuhan juga jauh meningkat dibanding dengan stadium-stadium lanjut. Bahkan, kalau skrining ada yang namanya nonpalpable atau tidak terasa apa-apa (saat diraba dengan tangan) tapi saat mammografi ada kalsifikasi (penumpukkan kalsium).”

“Nah, itu adalah salah satu tanda kanker yang dini yang disebut ductal carcinoma in situ. Dia belum menembus barrier, belum kena membran, itu awal sekali dan itu bisa dicegah supaya tidak menjadi kanker invasif dan pengobatannya lebih mudah,” jelas Denni.

Di sisi lain, pengobatan kanker payudara sejak dini juga dapat mempertahankan estetika payudara.

“Payudara kan punya fungsi estetika, nah jadi sebaiknya kita juga mempertahankan estetika dari payudara walaupun ya kena kanker. Jadi tentu ya deteksi dini akan meningkatkan pengetahuan kita pada stadium dini terapinya juga akan lebih baik,” pungkasnya.