Bulan Ramadan, Dokter Gizi: Waktunya Menata Kembali Pola Makan

Dokter gizi klinik ungkap saat bulan Ramadan merupakan momen tepat untuk menata pola makan agar tidak menjadi gangguan kesehatan.

Diterbitkan 23 Februari 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Bulan Ramadan 1447 Hijriah sudah memasuki pekan pertamanya. Namun tidak ada salahnya menata kembali pola makan sahur dan berbuka puasa agar tidak menjadi gangguan kesehatan.

Menurut dokter spesialis gizi klinik Ikbal Gentar Alam penataan pola makan saat Bulan Ramadan diperlukan karena terjadi perubahan jumlah dan jadwal makan.

"Di luar Ramadan, waktu makan kita biasanya 2-3 kali makan pokok dan beberapa kali cemilan. Saat Ramadan, kita makan menjadi dua kali yaitu sahur dan buka puasa, kadang ditambah usai salat tarawih," terang Ikbal dilaman Rumah Sakit Al Islam, dicuplik Bandung, Senin (23/2/2026).

Namun, Ikbal mengatakan meskipun ada perubahan pola makan, ternyata dengan berpuasa di bulan Ramadan itu dapat memperbaiki kondisi kesehatan seseorang.

Puasa terbukti secara klinis dapat menurunkan kolesterol seperti LDL, trigliserida, dan kolesterol total, dapat mengontrol gula darah dan resistensi insulin, serta dapat menurunkan berat badan, bila saat puasa bulan Ramadan seseorang mau tak mau mengikuti diet yang tepat.

"Makanan saat sahur harus memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh. Pola makan saat sahur sebaiknya dimulai dengan minum air sedikit, kemudian makan makanan 4 sehat, yang meliputi karbohidrat, protein dan serat. Ada nasi, ada lauk hewani dan nabati, serta ada sayur-sayuran dan buah-buahan yang berair banyak," kata Ikbal.

Setelah makanan 4 sehat terpenuhi, kalau masih kurang dapat ditambahkan susu atau makanan lain yang disukai. Usahakan untuk dapat minum 3-5 gelas saat sahur.

Berbuka dengan Ruthab

Ikbal menuturkan Rasulullah SAW mengajarkan piihan pertama berbuka adalah dengan Ruthab atau dalam hal ini merupakan buah yang basah dan segar.

"Untuk di Indonesia Ruthab bisa kita ganti dengan karakteristik yang mirip yaitu buah-buah yang segar dan mengandung banyak air seperti pir, melon, semangka, pepaya, jeruk dan lain lain, kalau tidak ada baru dengan Tamr atau buah yang sudah dikeringkan. Baru setelah itu, dilanjutkan dengan minum dan salat maghrib," ungkap Ikbal.

Setelah salat magrib dan dzikir baru mengosumsi makan makanan 4 sehat. Usahakan untuk minum dari saat berbuka sampai tidur minimal 4-6 gelas air putih.

 

Kelompok Khusus Seperti Anak dan Bumil

Untuk kelompok tertentu seperti anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, orang dewasa kurang gizi yang prinsipnya membutuhkan asupan kalori yang tinggi dapat ditambahkan dengan cemilan lain seperti susu, atau yang lain setelah salat tarawih.

"Untuk orang-orang dengan obesitas atau riwayat tinggi kolesterol sebaiknya tidak makan cemilan lagi setelah makan makanan 4 sehat tadi," tutur Ikbal.

Ikbal menyebut sedangkan makanan seperti jus, kolak, berbagai jenis gorengan dan lainnya, sebaiknya dikonsumsi sesedikit mungkin atau dalam jumlah yang terbatas.

Pasalnya, makanan tersebut merupakan makanan dengan kadar gula (karbohidrat simpel) yang tinggi dan atau mengandung lemak jenuh yang tinggi yang kurang baik untuk kesehatan dan kemampuan imun tubuh.