Liputan6.com, Jakarta - Bijak bermedia sosial menjadi salah satu modal penting bagi para pengguna media sosial Pasalnya, pikiran, pendapat, bahkan pilihan pribadi yang diunggah di dunia maya bisa saja memicu perdebatan besar yang justru merugikan diri sendiri.
Maka dari itu, psikiater Lahargo Kembaren mengingatkan agar lebih bijak dalam memilah apa yang aman dibagikan kepada warganet.
Menurutnya, secara psikologis dan etika digital, ada 3 filter sederhana yang perlu dilalui sebelum mengunggah konten, yakni:
Advertisement
1. Kebutuhan atau Impuls
Sebelum mengunggah sebuah konten, pengguna sosial media (sosmed) harus memastikan apakah konten tersebut terkait kebutuhan atau impuls (tindakan spontan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya).
“Kalau di-posting saat emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko disalahpahami,” kata Lahargo dalam keterangan pers dikutip pada Senin (23/2/2026).
2. Perhatikan Dampak Sosial
Pengguna medsos yang bijak pandai memilih isu dan cara menyajikannya. Isu identitas negara, keluarga, atau anak sering menjadi sensitif karena menyangkut nilai kolektif masyarakat.
3. Gunakan Prinsip Future Self
Prinsip future self merujuk pada dampak konten di masa depan. Termasuk prediksi terkait potensi konten hingga beberapa tahun ke depan.
“Tanya diri sendiri: ‘Apakah saya tetap nyaman jika posting-an ini dilihat lima tahun lagi?’ Media sosial itu ruang publik permanen. Tidak semua yang terasa benar untuk diucapkan, aman untuk dipublikasikan,” jelas Lahargo.
Kenapa Orang Suka Ungkap dan Unggah Pilihan Pribadi di Media Sosial?
Lahargo juga mengungkap alasan di balik kerapnya orang mengungkap dan mengunggah pilihan pribadi di media sosial. Beberapa alasannnya adalah:
Butuh Validasi
Otak manusia mendapat dopamin dari respons sosial (suka, komentar, bagikan). Ini membuat individu terdorong membagikan hal-hal yang sifatnya pribadi.
Signal Identitas Diri
Unggahan sering dipakai untuk menunjukkan nilai diri, posisi sosial, perspektif atau cara pandang terhadap dunia.
Regulasi Emosi
Sebagian orang menulis di medsos untuk menenangkan diri, seperti menulis jurnal, tapi ini dilakukan di ruang publik.
“Kadang yang di-posting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami,” kata Lahargo.
Advertisement
Contoh Kasus
Belakangan, viral di media sosial soal alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mengutarakan pilihan pribadinya di medsos. Ia mengupayakan agar anaknya tidak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Ibu itu bahkan mengutarakan ucapan kontroversial, “Cukup aku aja jadi WNI, anak-anakku jangan.”
Secara umum, Lahargo memberi penjelasan terkait faktor psikologis di balik keluhan stres jadi WNI.
Menurut Lahargo, stres menjadi WNI adalah fenomena yang dapat dialami oleh seseorang karena berbagai faktor, tidak semua orang juga mengalaminya. Dalam tinjauan psikologis, ada beberapa faktor yang biasanya berperan, yakni:
Collective Stress
Collective stress atau stres kolektif terjadi ketika seseorang terus menghadapi isu sosial, ekonomi, atau kebijakan publik, maka akan muncul rasa tidak berdaya terhadap sesuatu yang terasa besar dan sulit dikendalikan. Ini membuat sebagian orang merasa lelah secara emosional atau burn out.
Fenomena ini juga terlihat dari tren diskusi publik dan konten viral yang mengekspresikan kekecewaan terhadap kondisi negara atau masa depan, yang kemudian diperkuat oleh media sosial.
Social Comparison dan Future Anxiety
Social comparison atau perbandingan sosial dan future anxiety atau kecemasan akan masa depan terjadi ketika seseorang melihat situasi dan bayangan bahwa hidup lebih baik di luar negeri. Hal ini dapat memicu munculnya perbandingan sosial.
“Bukan berarti individu membenci negaranya, tetapi mereka sedang mencari rasa aman dan kepastian untuk kehidupan di masa depan,” kata Lahargo.
Bias Kognitif Akibat Paparan Berita Negatif
Lahargo menambahkan, jika seseorang lebih banyak mengonsumsi konten yang bernuansa krisis, kekhawatiran dan kegagalan sistem, maka otak akan cenderung melakukan catastrophizing.
“Catastrophizing yaitu melihat situasi terasa lebih berat daripada realitas objektif, jadi lebay, terlalu berlebihan menyikapinya. Banyak orang bukan lelah menjadi WNI, tapi lelah merasa tidak punya kendali atas masa depan,” kata dokter yang bergerak di Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI).
Mengeluh di Media Sosial, Itu Ruang Ekspresi Sementara
Lantas, ketika mengalami hal ini, apakah perlu mengeluh di media sosial tau lebih baik datang ke fasilitas kesehatan jiwa?
Jika dilihat secara psikologis, Lahargo menilai bahwa keduanya punya fungsi berbeda, yakni:
Mengeluh di Media Sosial
Mengeluh di media sosial adalah usaha untuk katarsis atau pelepasan emosi sementara dan membantu seseorang merasa didengar.
“Namun, media sosial bukanlah ruang pemulihan, itu hanya ruang ekspresi sementara,” kata Lahargo.
Datang ke Psikolog atau Psikiater
Sedangkan, datang ke psikolog atau psikiater adalah langkah tepat yang bisa diambil apabila keluhan sudah mengganggu tidur, relasi, atau fungsi kehidupan sehari-hari.
Datang ke profesional kesehatan jiwa dapat membantu menguraikan stres secara terstruktur, bukan hanya ventilasi emosi tapi juga mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.
“Curhat di media sosial boleh saja sebagai ekspresi, tapi pemulihan dari stres yang dialami tetap butuh ruang aman yang tidak menghakimi salah satunya lewat konsultasi ke profesional kesehatan jiwa,” kata Lahargo.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4747697/original/068152300_1708409408-young-people-using-reels.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782564/original/078010800_1782891228-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_14.17.55.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782471/original/014509800_1782888266-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_13.43.00.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2797336/original/032322400_1557127403-gedung_pancasila_kemlu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1089741/original/013009000_1450598881-20151220-Ilustrasi-Kapal-Tenggelam-AFP-Photo-03.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8453238/original/073560000_1782350375-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263225/original/037460900_1781869308-IMG-20260619-WA0012.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374767/original/055896900_1680005299-Thumbnail_Liputan6.com.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1592251/original/098062600_1494590046--mayat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8227712/original/076317800_1781087868-WhatsApp_Image_2026-06-10_at_17.27.32.jpeg)