Mood Swing dan Loyo, Pria 60 Tahun Baru Tahu Miliki Hormon ASI Berlebih

Pria 60 tahun mudah marah dan loyo ternyata mengalami ketidakseimbangan hormon. Kadar hormon perempuan dan prolaktinnya terdeteksi tinggi.

Diterbitkan 17 Januari 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pria berumur 60 tahun terdiagnosis mengalami gangguan hormonal serius setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar testosteronnya jauh di bawah batas normal. Bahkan, hormon pria tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan hormon perempuan, sebuah kondisi yang dinilai tidak lazim.

Kasus ini diungkap Founder Steros Men's Health & Anti-Aging Clinic, dr. Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AAM), saat pasien datang bersama istrinya dengan keluhan tubuh lemas dan penurunan energi yang semakin terasa dari waktu ke waktu.

Awalnya, kata Ivonne, pasangan tersebut hanya berniat menjalani suntik vitamin dan infus karena sang suami tampak mudah lelah dan kurang bertenaga. Namun, di balik keluhan fisik tersebut, tersimpan persoalan lain yang lebih kompleks.

Sang istri mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir perilaku suaminya mengalami perubahan signifikan.

Pasien menjadi mudah marah, emosinya tidak stabil, sulit tidur, dan kerap mempermasalahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dipersoalkan. "Pasien ini makin hari makin loyo, gampang tersinggung, dan sulit mengendalikan emosi," ujar Ivonne menirukan keluhan sang istri.

Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis pasien, tetapi juga mulai mengganggu keharmonisan rumah tangga yang telah dibangun selama lebih dari tiga dekade. Situasi inilah yang kemudian mendorong dokter untuk melakukan pemeriksaan hormon secara menyeluruh guna mengetahui penyebab medis yang mendasarinya.

Hormon ASI yang Melebihi Kebanyakan Perempuan

Hasil pemeriksaan laboratorium mengungkap kondisi hormonal yang mengejutkan. Kadar testosteron pasien berada di bawah angka 100, jauh di bawah batas normal untuk pria seusianya, bahkan lebih rendah dibanding hormon perempuan.

Tak hanya testosteron, dokter juga menemukan kadar hormon prolaktin pasien justru lebih tinggi dibandingkan wanita, padahal prolaktin identik dengan ibu menyusui dan seharusnya tidak dimiliki laki-laki.

"Lalu satu lagi yang buat saya kaget, prolaktinnya di atas ibu-ibu menyusui. Laki-laki seharusnya tidak punya prolaktin, tapi pasien ini memilikinya," ujar Ivonne.

Ketidakseimbangan hormon ini menjelaskan berbagai keluhan pasien, mulai dari kelelahan berkepanjangan, mudah marah, gangguan tidur, hingga penurunan fungsi seksual yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Menurut Ivonne, kondisi tersebut kerap disalahartikan sebagai masalah psikologis atau perubahan karakter akibat usia, padahal akar permasalahannya bersifat biologis dan dapat ditangani secara medis jika terdeteksi lebih awal.

Andropause Picu Gangguan Emosi dan Rumah Tangga

Berdasarkan pemeriksaan tersebut, pasien didiagnosis mengalami andropause, yaitu penurunan hormon testosteron pada pria seiring bertambahnya usia. Kondisi ini dapat berdampak luas, tidak hanya pada fisik, tapi juga emosi dan relasi sosial.

Ivonne menjelaskan bahwa testosteron memiliki peran penting dalam menjaga energi, kestabilan emosi, kualitas tidur, hingga fungsi seksual pria. Ketika hormon ini turun drastis, berbagai gangguan dapat muncul bersamaan.

"Dampaknya bukan hanya pada vitalitas seksual, tetapi juga mood swing, mudah marah, kelelahan, dan gangguan tidur," ujarnya.

Pada kasus ini, ketidakseimbangan hormon menyebabkan pasien menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan sering meluapkan emosi kepada istri maupun orang di sekitarnya.

Perubahan ini secara perlahan mengganggu keharmonisan rumah tangga yang telah terjalin puluhan tahun.

Menurut Ivonne, tanpa penanganan yang tepat, kondisi andropause dapat terus memburuk dan menurunkan kualitas hidup pria secara keseluruhan.

Â