Sukses

Peneliti Kembangkan Alat Tes COVID-19, Hasilnya Keluar dalam Hitungan Detik

Liputan6.com, Jakarta - Selain vaksin dan obat, penelitian terkait alat deteksi cepat dan tepat untuk COVID-19 juga terus dikembangkan oleh para peneliti dari seluruh dunia.

Salah satu yang tengah dikembangkan adalah tes untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan bukti keberadaan virus corona dalam tubuh menggunakan sampel cairan seperti darah atau liur, dengan hasil yang dalam hitungan detik.

Dikutip dari Xinhua pada Sabtu (15/8/2020), tes COVID-19 menggunakan kecerdasan buatan ini dikembangkan oleh sebuah perusahaan startup Israel, Newsight Imaging, bekerja sama dengan rumah sakit terbesar di sana, Sheba Medical Center.

Perangkat yang dikembangkan hanya sebesar mouse komputer dan berbasiskan spektrometer pada cip yang dikembangkan perusahaan untuk menentukan komposisi sampel menggunakan cahaya.

Selain itu, untuk membedakan virus jenis lain, penyebab COVID-19, serta orang yang sehat, alat ini menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk memisahkan profil pasien.

2 dari 4 halaman

Diklaim Lebih Mudah Ketimbang Tes Usap

Mengutip Straits Times, pasien nantinya hanya memberikan sampel tubuh dengan berkumur dengan larutan garam lalu meludah ke dalam kuvet atau tabung kecil sekali pakai untuk diperiksa.

Tabung itu lalu dimasukkan ke dalam perangkat yang tersambung dengan komputer yang menunjukkan hasilnya di layar. Dalam pengembangannya, alat tes ini disebut menjadi lebih akurat dari waktu ke waktu.

"Sejauh ini kami mendapatkan hasil yang sangat menjanjikan pada metode baru ini yang akan jauh lebih nyaman dan lebih murah," kata Profesor Eli Schwartz dari Center for Geographic Medicine and Tropical Diseases di Sheba Medical Center.

Mereka menambahkan, penggunaannya pun lebih mudah ketimbang tes usap atau PCR yang umumnya digunakan untuk mendeteksi COVID-19.

3 dari 4 halaman

Masih Harus Dibandingkan dengan Tes Lain

Dalam sebuah uji klinis dengan ratusan pasien, para peneliti menyebut bahwa perangkat ini mampu mengidentifikasi keberadaan virus dengan tingkat akurasi sebesar 95 persen.

Namun, Profesor Amos Panet, ahli virologi molekuler dari Hebrew University di Yerusalem, mengatakan bahwa ia ingin melihat lebih banyak data serta perbandingan dengan metode tes lainnya, sebelum membuat keputusan akhir.

Panet mengatakan, jumlah virus yang ada dalam air liur meningkat saat pasien semakin bergejala. Padahal, tantangan besar yang sesungguhnya adalah mendeteksi orang-orang yang berada di "ambang batas."

"Ini akan menjadi pengubah permainan hanya jika kita melihat validasi dari teknologi tersebut dibandingkan teknologi yang ada saat ini," ujarnya.

Pengembang menyatakan bahwa mereka tengah dalam proses mendapatkan persetujuan terkait regulasi. Mereka memperkirakan, perangkatnya akan dihargai sekitar kurang dari 200 dolar AS (sekitar 2,9 juta rupiah).

4 dari 4 halaman

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini