Sukses

Wajib Tahu, Gejala dan Penanganan Depresi

Liputan6.com, Bandung Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan 350 juta orang di dunia mengalami depresi. Jumlah itu diperkirakan meningkat pada tahun 2020, angka tersebut membuat kondisi ini menjadi gangguan kesehatan peringkat kedua teratas mengalahkan gangguan jantung koroner.

Tim psikiater Melinda Hospital Bandung, Shelly Iskandar, mengatakan depresi dapat ditangani. Terdapat dua cara untuk menangani depresi yaitu dengan medis dan non-medis yang terintegrasi. 

“Sehingga orang yang dengan depresi ini yang paling dibutuhkan adalah didengarkan kalau mau dia cerita. Didampingi, ditemani, itu akan membuat dia merasa tidak sendiri. Prinsipnya orang depresi itu merasa kehilangan. Kita berusaha mengisi kehilangan dia itu apa?” kata Shelly saat Pelatihan Pertolongan Pertama untuk Mempertahankan Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri di RS Melinda 2, Bandung ditulis Senin (9/12/2019). 

Penanganan depresi juga dapat dilakukan dengan mengikuti kegiatan yang positif seperti berkomunitas, menekuni hobi, mengikuti kegiatan keagamaan dan lain sebagainya. Namun, apabila tingkat depresi sudah diambang batas, Shelly menganjurkan untuk segera datang ke ahli profesional kesehatan jiwa terdekat dan terpercaya.

 

 

2 dari 4 halaman

Mengenal Gejala Depresi

Gejala seseorang mengalami depresi dapat dilihat dari tiga aspek yaitu secara emosi, kognitif dan fisik. Tiga aspek itu dapat dikategorikan gejala depresi apabila terjadi selama dua minggu terakhir.

“Sedih, cemas, mudah tersinggung (irritable), hilang minat dan putus asa adalah emosi yang menjadi gejala depresi," kata Shelly.

Lalu, aspek kognitif gejalanya yaitu sulit konsentrasi, mudah lupa, sulit fokus, lambat berpikir dan ragu-ragu. Gejala aspek fisik diantaranya merasa lelah sepanjang hari, mengalami gangguan makan, siklus tidur terganggu, sakit kepala dan nyeri.

Seluruh gejala tersebut dapat dipicu oleh peristiwa dalam menjalani kehidupan, dimulai dari perpisahan atau loss of love, kesedihan serta berduka. Sama halnya dengan stressor psikososial perkawinan atau hubungan, akademis pekerjaan atau ekonomi. 

Shelly menambahkan stres kronis seperti disfungsi keluarga dapat pula menjadi pemicu depresi. Sama halnya dengan penggunaan obat-obat tertentu.

“Depresi dapat memengaruhi pola pikir, perasaan dan perilaku. Penderita depresi sering mengalami kesulitan studi dan pekerjaan, kehilangan minat dalam melakukan hobi dan mengatur keuangan atau kehidupan,” terang Shelly.

Selain itu, orang dengan depresi juga mengalami kesulitan dalam kehidupan sosial seperti membina pertemanan dan hubungan sosial. Penyebabnya oleh beberapa faktor biologis ketidakseimbangan zat kimia otak dan faktor psikososial.

 Trauma psikis, kematian orang terdekat, masalah studi atau pekerjaan atau hubungan sosial menjadi penyebab lahirnya depresi. Seseorang yang mempunyai keluarga dengan depresi, cenderung lebih mudah merasa tertekan pada masa - masa sulit.

 “Depresi juga sering ditemukan pada mereka yang mengalami penyakit fisik serius, menahun dan dapat memperburuk kondisi sakitnya,” ucap Shelly.

3 dari 4 halaman

Jenis Depresi

Berikut jenis depresi menurut Pedoman Praktis Diagnosis Gangguan Jiwa: 

1. Major Depressive Disorder

2. Persistent Depressive Disorder

3. Bipolar

4. Postpartum Depression

5. Premenstrual Dysphoric Disorder

6. Seasonal Affective Disorder

7. Depresi Atipikal

8. Depresi Psikotik

9. Depresi Situasional

4 dari 4 halaman

Saksikan juga video menarik berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Mengapa Tingkat Depresi Remaja Meningkat pada Anak Perempuan?
Artikel Selanjutnya
Bermaksud Pamer, Bocah di Bandung Tewas Digigit Ular Weling