Liputan6.com, Washington D.C - Nat Turner, seorang budak sekaligus pengkhotbah terpelajar, memimpin salah satu pemberontakan budak terbesar dalam sejarah Amerika Serikat pada 21 Agustus 1831. Turner meyakini dirinya dipilih Tuhan untuk membebaskan para budak dari perbudakan.
Dikutip dari History.com, Jumat (21/8/2026), Turner merencanakan pemberontakan dengan merebut gudang senjata di Southampton County, Virginia. Setelah itu, ia berencana membawa para pengikutnya menempuh perjalanan sekitar 48 kilometer menuju Dismal Swamp, wilayah yang diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan dari pengejaran.
Turner memulai pemberontakan bersama tujuh pengikutnya dengan membunuh Joseph Travis, pemiliknya, beserta anggota keluarga Travis. Mereka kemudian bergerak melintasi pedesaan dan berupaya mengajak ratusan budak lainnya bergabung dalam pemberontakan.
Advertisement
Selama dua hari dua malam, kelompok Turner menyerang sejumlah rumah di Southampton County. Sekitar 60 orang kulit putih, termasuk pria, wanita, dan anak-anak, tewas dalam rangkaian serangan tersebut.
Penduduk kulit putih kemudian melakukan perlawanan. Pemerintah negara bagian Virginia mengerahkan sekitar 3.000 anggota milisi untuk menghentikan pemberontakan. Kelompok Turner akhirnya tercerai-berai, dengan sebagian pengikutnya tewas atau ditangkap.
Turner sendiri berhasil melarikan diri dan bersembunyi selama lebih dari dua bulan sebelum akhirnya ditangkap pada akhir Oktober 1831.
Dalam persidangan, Turner dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Ia kemudian digantung di Jerusalem, Virginia, pada 11 November 1831.
Pemberontakan tersebut menjadi salah satu pemberontakan budak paling signifikan dalam sejarah Amerika Serikat. Peristiwa itu juga memicu pengetatan aturan terhadap masyarakat kulit hitam yang diperbudak di Virginia dan negara-negara bagian Selatan lainnya.
Sejumlah undang-undang baru diberlakukan untuk membatasi pergerakan, perkumpulan, serta akses pendidikan bagi para budak. Setelah pemberontakan berakhir, sejumlah budak dan orang kulit hitam lainnya juga menjadi korban kekerasan dan pembunuhan, meskipun mereka tidak terlibat dalam aksi Turner.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6591576/original/029814400_1779430905-cek_fakta_-_sertifikat_tanah_gratis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318670/original/097009500_1786124467-efb30e6b-7dc4-4c13-a54b-d81aacb7f640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1844268/original/066529100_1516798233-Slaves_resting_by_Rugendas_01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)