Profesor Kulit Hitam Termuda Cambridge Mundur di Tengah Isu Plagiarisme

Profesor sosiologi pendidikan itu mundur kurang dari tiga tahun setelah bergabung dengan Cambridge.

Diterbitkan 07 Agustus 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Jason Arday, akademisi yang menjadi profesor kulit hitam termuda dalam sejarah Universitas Cambridge, mengundurkan diri dari jabatannya di universitas tersebut dan Jesus College, tempat ia menjadi anggota akademik.

Pengunduran diri itu diumumkan pada Rabu (5/8/2026) malam waktu Inggris dan berlaku seketika. Keputusan tersebut disampaikan setelah Cambridge membuka penyelidikan baru terkait kualifikasi akademik dan sejumlah jabatan kehormatan yang pernah dicantumkan Arday.

Arday, yang berusia 37 tahun ketika diangkat sebagai profesor sosiologi pendidikan di Cambridge pada 2023, mengatakan sorotan dan berbagai tuduhan yang diarahkan kepadanya telah berdampak besar terhadap dirinya serta keluarganya.

Ia menegaskan pengunduran dirinya tidak boleh dianggap sebagai pengakuan atas tuduhan tersebut. Menurut Arday, mundur merupakan satu-satunya cara untuk mengakhiri polemik dan memperoleh kembali ruang bagi kehidupan pribadinya.

Universitas Cambridge menyatakan penyelidikan dibuka setelah menerima "informasi baru" mengenai kualifikasi akademik dan jabatan kehormatan Arday. Sejumlah pengaduan lain mengenai dugaan pelanggaran akademik turut diperiksa berdasarkan aturan penelitian universitas.

Cambridge tidak memerinci informasi baru tersebut dan menyatakan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut hingga proses pemeriksaan selesai. Jesus College sebelumnya mengatakan akan menjalankan proses secara paralel.

Sebelumnya, Cambridge membela Arday dengan menyebutnya sebagai korban "kampanye keji". Sikap itu antara lain didasarkan pada hasil pemeriksaan Liverpool John Moores University, kampus yang memberikan gelar doktor kepada Arday pada 2015.

Pemeriksaan tersebut tidak menguatkan tuduhan plagiarisme. Masalah pengutipan yang ditemukan dinilai kemungkinan merupakan kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja.

Sikap Cambridge kemudian berubah setelah muncul pertanyaan baru mengenai karya penelitian, kualifikasi, dan riwayat akademik Arday. The Times mengaku menyerahkan bukti baru kepada universitas yang mengindikasikan adanya data penelitian yang tidak mungkin secara statistik dan diduga dibuat-buat.

Arday membantah telah memalsukan data. Ia mengatakan sejumlah ketidaksesuaian dalam karyanya dapat berasal dari kesalahan administratif atau pencatatan.

Tuduhan Plagiarisme

Polemik ini menguat setelah Nathan Cofnas, mantan peneliti filsafat di Cambridge, secara terbuka mempertanyakan karya dan kualifikasi Arday pada Juli 2026.

Pada 24 Juli, The Times menerbitkan analisis terhadap disertasi doktoral Arday. Media tersebut mengaku menemukan sejumlah bagian yang sama atau hampir sama dengan karya peneliti lain yang telah diterbitkan sebelumnya.

Arday membantah melakukan plagiarisme. Ia mengakui terdapat sejumlah kesalahan dalam karya akademik awalnya, tetapi mengatakan kesalahan itu antara lain berkaitan dengan kurangnya bimbingan ketika mengerjakan program doktor.

Selain karya ilmiah, pertanyaan muncul mengenai sejumlah jabatan profesor tamu dan peneliti tamu yang pernah dicantumkan dalam biografi Arday. Beberapa universitas yang disebut dalam riwayat tersebut membantah pernah mempekerjakannya dalam jabatan yang diklaim.

Sejumlah pencapaian pribadinya ikut dipertanyakan, termasuk klaim bahwa ia menyelesaikan 30 maraton dalam 35 hari, berlari sejauh 600 mil dalam enam hari, serta mengumpulkan dana sebesar 5 juta pound sterling untuk kegiatan amal.

Setelah mendapat pertanyaan mengenai klaim tersebut, Arday mengoreksi sebagian keterangannya. Ia mengatakan kegiatan penggalangan dana dilakukan bersama sebuah kelompok, bukan seorang diri.

Bantah sebagai Pembohong

Arday menolak tuduhan bahwa dirinya sengaja berbohong atau menjiplak karya orang lain. Ia mengatakan sejumlah lembaga dan jurnal akademik sebelumnya telah memeriksa tuduhan terhadapnya tanpa menemukan pelanggaran akademik.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Arday mengatakan kritik merupakan bagian dari kehidupan akademik. Namun, menurut dia, tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang dihadapinya telah melampaui perdebatan ilmiah.

Arday dikenal luas setelah kisah hidupnya mendapat perhatian publik. Ia didiagnosis mengalami autisme dan keterlambatan perkembangan ketika berusia tiga tahun. Menurut riwayat hidupnya, ia baru dapat berbicara pada usia 11 tahun serta belajar membaca dan menulis ketika berusia 18 tahun.

Setelah menempuh pendidikan tinggi dan memperoleh gelar doktor, Arday menjalani karier akademik di sejumlah universitas sebelum diangkat menjadi profesor di Cambridge pada 2023.

Didukung Ribuan Orang

Polemik tersebut memicu perdebatan mengenai integritas akademik, proses pemeriksaan yang adil, serta kemungkinan adanya unsur rasial dalam serangan terhadap Arday.

Lebih dari 15.000 orang telah menandatangani petisi yang digagas Good Law Project untuk mendukungnya. Para pendukung Arday menilai tuduhan terhadapnya telah berkembang menjadi serangan pribadi yang tidak proporsional.

Pengunduran diri Arday terjadi menjelang penerbitan memoarnya yang berjudul Great and Unfortunate Things. Hingga Kamis (6/8), laman resmi Simon & Schuster UK masih mencantumkan jadwal penerbitan buku tersebut pada 27 Agustus 2026.

Hingga 6 Agustus 2026, Universitas Cambridge belum mengumumkan hasil penyelidikan terhadap Arday. Dengan demikian, berbagai tuduhan mengenai plagiarisme, manipulasi data penelitian, dan ketidaksesuaian riwayat akademiknya belum menghasilkan kesimpulan resmi.