Korban Tewas Tragedi Ceuta Bertambah Jadi 141 Orang

Tragedi migrasi di perbatasan Maroko-Spanyol menewaskan 141 orang setelah gerbang menuju Ceuta dibuka.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madrid - Sedikitnya 141 orang dilaporkan tewas setelah otoritas Maroko membuka gerbang perbatasan menuju Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Insiden ini disebut sebagai bencana migrasi paling mematikan dalam sejarah modern Maroko.

Dikutip dari Middle East Eye, Kamis (6/8/2026), organisasi hak-hak migran Caminando Fronteras menyatakan rumah sakit di wilayah utara Maroko telah menerima 63 jenazah yang ditemukan di perairan Maroko hingga Selasa. Namun, pemerintah Maroko belum memberikan konfirmasi resmi mengenai angka tersebut.

Sementara itu, pejabat Spanyol mengatakan kepada Cadena SER bahwa otoritas setempat menemukan 78 jenazah lainnya di perairan Spanyol. Dengan demikian, jumlah korban tewas mencapai 141 orang, melampaui berbagai tragedi sebelumnya di perbatasan Maroko-Spanyol.

Sebelumnya, insiden desak-desakan di perbatasan Melilla pada 2022 menewaskan sedikitnya 23 orang berdasarkan data resmi, sementara kelompok hak asasi manusia mencatat 37 korban jiwa. Adapun di Pantai Tarajal, Ceuta, sebanyak 15 orang tewas pada 2014.

Puluhan ribu orang memasuki Ceuta melalui perlintasan Tarajal setelah otoritas Maroko membuka gerbang perbatasan pada Kamis.

Jenazah para korban kini berada di sejumlah rumah sakit di Tetouan, Tangier, Fnideq, dan M'diq. Sebagian besar korban merupakan pria asal Maroko berusia antara 20 hingga 30 tahun. Korban tewas juga mencakup migran asal Afrika Sub-Sahara, perempuan, dan anak-anak.

Menghadapi besarnya jumlah korban, otoritas Spanyol memberlakukan protokol "korban massal", yang biasanya digunakan dalam penanganan bencana besar seperti kecelakaan kereta api maupun kecelakaan penerbangan.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan sekitar 72.000 orang memasuki Ceuta pada 30 dan 31 Juli.

Sejak itu, Spanyol telah memulangkan sekitar 70.000 orang ke Maroko. Sementara itu, sekitar 1.000 anak tanpa pendamping masih berada di Ceuta.

 

Kemarahan Publik Meningkat

Di Maroko, kemarahan publik terus meningkat menyusul keputusan otoritas membuka gerbang perbatasan serta belum adanya pihak yang dimintai pertanggungjawaban atas banyaknya korban jiwa.

Ibu dari pesepak bola Maroko, Faten Ben Omar El Azizi, yang bermain untuk klub Moghreb Atletico Tetuan dan meninggal saat menyeberang, menuntut penjelasan sebelum putrinya dimakamkan.

"Anak-anak muda telah hilang... Siapa yang pertama kali membuka gerbang itu? Mengapa mereka membukanya hingga anak-anak kami terbunuh?" katanya dalam sebuah video yang dipublikasikan Al Ayoum 24.

Di sisi lain, Uni Eropa memuji "respons cepat" Spanyol dalam menangani situasi tersebut. Menteri Kehakiman Irlandia Jim O'Callaghan mengatakan Uni Eropa mendukung Spanyol dan menilai persoalan migrasi membutuhkan "respons Eropa yang bersatu".