50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut Imbas El Nino

Sekitar 50 juta orang diperkirakan akan terdorong ke dalam kondisi kelaparan akut sebelum akhir tahun depan.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 17:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington - Sekitar 50 juta orang diperkirakan akan terdorong ke dalam kondisi kelaparan akut sebelum akhir tahun depan akibat perkembangan cepat fenomena cuaca El Nino.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (6/8/2026), perkiraan tersebut muncul di tengah ratusan juta orang yang saat ini telah menghadapi tingkat kelaparan berbahaya akibat kekeringan yang berlangsung selama bertahun-tahun di sejumlah wilayah Afrika serta tekanan terhadap harga pangan yang dipicu oleh perang di Iran.

Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (World Food Programme/WFP) pada Rabu memperingatkan bahwa meskipun El Nino kali ini berkembang lebih lemah dibandingkan sejumlah model prakiraan, dampaknya tetap dapat mendorong banyak negara ke dalam krisis pangan yang lebih parah.

Menurut WFP, fenomena tersebut diperkirakan akan menambah lebih dari seperlima dari 225 juta orang di 45 negara yang saat ini berada dalam kondisi rawan pangan akut.

Analisis WFP menunjukkan bahwa kawasan Amerika Tengah, Amerika Selatan, Karibia, serta Afrika bagian selatan berpotensi menjadi wilayah yang paling terdampak. Sementara itu, Asia Selatan dan Asia Tenggara diperkirakan akan mengalami curah hujan yang lebih rendah dari biasanya, yang dapat menimbulkan persoalan serius bagi sektor pertanian dan para petani.

El Nino tahun ini, yaitu fenomena cuaca yang muncul setiap beberapa tahun di Samudra Pasifik dan memengaruhi pola curah hujan di berbagai belahan dunia, diperkirakan menjadi yang terkuat dalam sedikitnya 70 tahun terakhir. Sebagian pihak bahkan menyebutnya sebagai "super El Nino", meskipun istilah tersebut tidak diakui secara resmi.

Yang dipastikan, kekuatan dan dampak El Nino kali ini sangat dipengaruhi oleh krisis iklim. Pada awal tahun ini, para ahli menyatakan bahwa El Nino yang kuat dapat berpadu dengan pemanasan global dan berpotensi menjadikan tahun ini, atau yang lebih mungkin pada 2027, sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat.

Sebelumnya, sejumlah lembaga prakiraan dari sektor swasta telah memperingatkan dampak El Nino terhadap harga pangan global. Namun, laporan yang diterbitkan WFP menjadi yang pertama mengkaji secara khusus dampaknya terhadap kelaparan di tingkat global.

 

Dampak Cuaca Ekstrem

WFP menyatakan pihaknya berupaya mengurangi dampak cuaca ekstrem melalui sistem peringatan dini dan bantuan antisipatif. Untuk mendukung langkah tersebut, lembaga itu telah mengalokasikan anggaran sedikitnya 80 juta dolar AS atau sekitar 60 juta poundsterling.

Meski demikian, dampaknya diperkirakan akan berlangsung luas karena para petani membutuhkan lebih dari satu musim tanam hingga persediaan pangan mereka benar-benar habis.

Di Afrika bagian selatan, misalnya, musim tanam utama berlangsung dari Oktober tahun ini hingga Maret 2027. Namun, dampak terburuk diperkirakan baru akan dirasakan sekitar sembilan bulan setelahnya, saat memasuki musim paceklik setelah panen.

"Dampak terbesar terhadap ketahanan pangan di Afrika bagian selatan akan terjadi pada musim paceklik 2027 hingga 2028," kata Direktur Layanan Iklim dan Ketahanan WFP, Richard Choularton.

Para petani diperkirakan masih akan sedikit terbantu oleh hasil panen tahun lalu yang tergolong sangat baik.

"Pada akhir 2025, harga pangan berada pada kisaran yang menguntungkan, meskipun telah muncul tekanan kenaikan akibat perang di Timur Tengah," ujar Direktur Ketahanan Pangan WFP, Jean-Martin Bauer.