Pantai D-Day hingga Gunung Olympus Resmi Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO

Sidang UNESCO tahun ini mencakup perluasan perlindungan dan penetapan sejumlah situs dalam daftar darurat karena terancam konflik.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Pantai-pantai di Normandia, Prancis, yang menjadi lokasi pendaratan pasukan Sekutu dalam operasi D-Day, serta Gunung Olympus di Yunani, resmi masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO. Penetapan itu, sebagaimana dinyatakan UNESCO, diputuskan pada Minggu (26/7/2026) dalam sidang Komite Warisan Dunia di Busan, Korea Selatan.

Komite UNESCO juga meresmikan 19 situs arkeologi Asuka-Fujiwara di Jepang. Di Afrika, status serupa diberikan kepada Bentang Alam Migrasi Boma-Badingilo, menandai kepemilikan situs Warisan Dunia pertama bagi Sudan Selatan.

Situs D-Day di Prancis mencakup lima pantai pendaratan, yakni Omaha, Utah, Sword, Gold, dan Juno, serta lokasi penyerbuan Pointe du Hoc. Lebih dari 150.000 tentara Sekutu mendarat di kawasan tersebut pada 6 Juni 1944 dalam operasi yang menjadi bagian penting dari upaya membebaskan Eropa Barat dari pendudukan Nazi.

Hingga kini, kawasan itu masih menyimpan berbagai jejak pertempuran, mulai dari benteng Jerman dan bekas pengeboman hingga struktur pelabuhan Sekutu serta kapal-kapal yang tenggelam. Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs (ICOMOS) meminta pengawasan dan pelestarian diperkuat karena kawasan tersebut menghadapi ancaman dari pariwisata, perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, dan pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di sekitarnya.

Pengakuan terhadap Olympus, gunung tertinggi di Yunani itu merupakan hasil upaya selama 12 tahun. Gunung setinggi 2.918 meter tersebut ditetapkan sebagai situs warisan campuran budaya dan alam karena kekayaan keanekaragaman hayatinya serta kedudukannya dalam mitologi Yunani sebagai tempat bersemayamnya 12 dewa dan takhta Zeus.

Sementara itu, penetapan Asuka dan Fujiwara di Prefektur Nara mencakup 19 situs arkeologi dari Abad ke-6 hingga ke-8. Situs-situs tersebut menggambarkan proses terbentuknya negara terpusat pertama di Jepang yang dipengaruhi sistem pemerintahan China dan Semenanjung Korea.

Adapun Boma-Badingilo di Sudan Selatan mencakup kawasan lahan basah, dataran banjir, dan sabana yang menjadi jalur migrasi sekitar 6 juta kob bertelinga putih, antelop tiang, dan gazel Mongalla. Kawasan itu menjadi habitat bagi gajah, singa, citah, serta berbagai satwa liar lainnya, sekaligus menopang kehidupan masyarakat yang selama berabad-abad menggantungkan hidup pada peternakan, pertanian, dan perikanan.

Keempat situs di atas merupakan bagian dari total 10 situs budaya dan alam baru yang resmi disahkan dalam sidang di Busan. Komite UNESCO memperluas pula perlindungan warisan peradaban dengan memasukkan karya arsitektur modern Aalto di Finlandia dan kawasan arsitektur modernis Tashkent di Uzbekistan ke dalam daftar dunia.

Langkah pelestarian serupa diberikan kepada lanskap agrikultur bersejarah perkebunan "Rocas" di Sao Tome dan Principe, jaringan benteng pertahanan abad pertengahan Capetian di Prancis, serta jaringan gedung teater rakyat Abad ke-18 di Italia. Sementara itu di Asia, komplek tungku pembakaran kuno yang menjadi pusat produksi porselen bersejarah di China melengkapi jajaran situs baru yang diakui secara global.

Di luar daftar reguler di atas, Komite Warisan Dunia merespons situasi krisis global dengan menetapkan enam situs darurat yang berada dalam bahaya, termasuk situs arkeologi Sebastia di Tepi Barat dan kastel bersejarah di Lebanon selatan. Melalui penetapan ini, UNESCO mendesak komunitas internasional untuk memperkuat sinergi pembiayaan, pemantauan, dan perlindungan hukum demi menyelamatkan situs-situs tersebut dari ancaman kerusakan akibat konflik bersenjata yang sedang berlangsung.