2 Masjid Palestina Dibakar di Tengah Lonjakan Kekerasan Pemukim Israel

Coretan "balas dendam untuk Benayahu" ditemukan di salah satu masjid yang dibakar.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ramallah - Dua masjid di Tepi Barat yang diduduki Israel dibakar pada Sabtu (25/7/2026) malam dalam serangan yang diduga dilakukan pemukim Israel. Insiden itu terjadi di tengah rentetan kekerasan mematikan yang menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel.

Warga Palestina dan kubu oposisi Israel menuduh pemerintahan garis keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membiarkan serangan pemukim terhadap warga Palestina. Kekerasan tersebut dikhawatirkan dapat memicu gejolak yang meluas di seluruh Tepi Barat.

Setelah serangan itu, tentara dan polisi Israel disebar ke berbagai wilayah Tepi Barat. Mereka menutup sejumlah jalan utama dan memblokir akses menuju sebuah rumah sakit yang, menurut Israel, menjadi tempat persembunyian dua militan. Lebih dari 70 warga Palestina ditangkap sepanjang akhir pekan ketika aparat Israel berupaya meredam eskalasi kekerasan.

Kebakaran menyebabkan kerusakan parah pada dua masjid di Desa Qusra dan Kour, Tepi Barat bagian utara.

Di Qusra, para pelaku mencoretkan tulisan "balas dendam untuk Benayahu", merujuk pada salah seorang tentara Israel yang tewas pada Jumat (24/7). Mereka turut menuliskan kalimat "Tanah Israel ditebus dengan darah". Tentara tersebut tinggal di permukiman Israel yang berada tidak jauh dari desa itu.

Ahmed Abu Mahmoud (64) yang tinggal di sebelah Masjid Al-Rahma di Qusra mengatakan mendengar suara mencurigakan sekitar pukul 03.00. Ketika keluar rumah, ia mendapati masjid telah dibakar.

Api sudah terlalu besar untuk dipadamkannya seorang diri sehingga ia segera meminta bantuan.

"Militer datang ke sini, melihat sendiri apa yang terjadi, lalu pergi," kata Mahmoud seperti dilansir Associated Press.

Rekaman kamera pengawas dari Kour yang diperoleh Associated Press memperlihatkan tiga orang berpakaian sipil memicu ledakan besar di pintu masuk masjid pada tengah malam.

Meski pintu masuk masjid rusak, warga tetap menggelar salat di sana pada Minggu.

Militer Israel mengaku tengah bekerja sama dengan kepolisian untuk menyelidiki serangan terhadap kedua masjid tersebut.

"Pasukan keamanan mengecam keras insiden semacam ini, termasuk perusakan tempat ibadah dan akan terus bertindak tegas untuk menjaga keamanan serta ketertiban umum di wilayah tersebut," klaim militer Israel.

Militer Israel kerap mengumumkan penyelidikan atas kekerasan terhadap warga Palestina. Namun, pemukim yang terlibat dalam serangan semacam itu jarang ditangkap ataupun diadili.

Militer Israel melaporkan pula telah menyegel rumah dua militan Palestina yang diduga membunuh kedua tentara Israel. Penyegelan dilakukan sebagai tahap awal sebelum rumah-rumah tersebut dihancurkan.

Israel kerap menghancurkan rumah pelaku serangan dengan alasan tindakan itu dapat mencegah serangan serupa pada masa mendatang.

Pada Minggu (26/7), Netanyahu mengatakan pasukan Israel telah memasuki sejumlah desa di Tepi Barat untuk menyita senjata dan melakukan penangkapan.

"Kami juga siap menggelar operasi dalam skala yang lebih luas terhadap sarang-sarang teroris," ujarnya.

Rangkaian peristiwa yang menelan korban jiwa pada Jumat belum sepenuhnya terungkap. Namun, laporan media Israel dan keterangan pejabat Palestina setempat menyebutkan insiden bermula ketika sekelompok pemukim memasuki Desa Tell.

Kedatangan mereka dihadang warga yang khawatir desa tersebut akan diserang.

Menurut militer Israel, salah seorang warga Palestina kemudian merebut senjata milik seorang pemukim dan menembaki kelompok tersebut. Tembakan itu menewaskan Benayahu Mellet (32) seorang petugas keamanan dari permukiman terdekat.

Warga Palestina dan sejumlah kelompok hak asasi manusia semakin sering mendokumentasikan aksi pemukim Israel bersenjata yang memasuki desa-desa di kawasan tersebut. Pencurian ternak, pembakaran bangunan, dan perusakan masjid juga rutin dilaporkan.

Seruan Perdamaian dan Desakan terhadap Israel

Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Fahmy mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membatasi "ambisi ekstremis pemerintah Israel", termasuk upaya menerapkan "aneksasi de facto di Tepi Barat".

Ia meminta Trump bersikap tegas terhadap Netanyahu menjelang pertemuan keduanya di AS pekan ini.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengirimkan surat kepada negara-negara Arab dan sejumlah sekutu lainnya, termasuk Uni Eropa. Dalam surat tersebut, Abbas meminta mereka menekan Israel agar menghentikan kekerasan yang dilakukan para pemukim di Tepi Barat.

Kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa dalam suratnya Abbas menyebut kekerasan pemukim sebagai bagian dari kebijakan sistematis Israel sekaligus eskalasi yang berbahaya.

Otoritas Palestina merupakan perwakilan rakyat Palestina yang diakui masyarakat internasional.

Paus Leo XIV turut menyerukan perdamaian di Timur Tengah seusai memimpin doa Minggu.

"Saya mengikuti dengan penuh keprihatinan kekerasan di Tanah Suci yang terus berlangsung dan meningkat. Belakangan, kekerasan itu juga telah menewaskan banyak warga sipil di Tepi Barat dan Gaza," tuturnya.

Paus menyerukan agar semua pihak kembali merundingkan solusi politik yang adil.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, 87 warga Palestina tewas di Tepi Barat yang diduduki sejak awal tahun ini. Sebanyak 21 orang di antaranya tewas akibat serangan pemukim Israel.

Sementara itu, tiga warga Israel tewas dalam serangan militan Palestina sepanjang 2026, termasuk dua tentara yang terbunuh pada Jumat.

Lebih dari 700.000 pemukim Israel tinggal di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. Kedua wilayah itu direbut Israel pada 1967 dan diinginkan Palestina sebagai bagian dari negara merdeka pada masa depan.

Mayoritas masyarakat internasional menganggap permukiman Israel di wilayah pendudukan ilegal dan menjadi penghambat perdamaian.

Israel Setujui Kekebalan Hukum bagi Pasukan Internasional di Gaza

Kabinet keamanan Israel pada Minggu mengambil langkah menuju pengerahan pasukan stabilisasi internasional di Gaza dengan menyetujui pemberian kekebalan hukum kepada pasukan tersebut berdasarkan hukum Israel. Hal itu diungkapkan seorang sumber politik kepada Associated Press.

Israel juga akan menentukan negara mana saja yang diperbolehkan mengirimkan personel. Negara-negara peserta nantinya harus mendapat persetujuan dari perdana menteri, menteri pertahanan, dan menteri luar negeri Israel.

Pasukan internasional itu sejauh ini diperkirakan akan beranggotakan 200 personel dari sejumlah negara, termasuk Uganda dan Maroko, kata sumber tersebut.

Ia meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas keputusan yang diambil dalam rapat tertutup.

Pasukan Israel menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza. Sebagian besar wilayah kantong Palestina itu hancur akibat perang selama dua tahun yang pecah setelah serangan pimpinan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada Oktober. Namun, tahapan berikutnya dalam pelaksanaan kesepakatan, termasuk rekonstruksi Gaza, sebagian besar terhenti akibat perselisihan mengenai pelucutan senjata Hamas.

Israel menegaskan pasukannya tidak akan ditarik dari Gaza sebelum Hamas dilucuti.

Pekan lalu, Dewan Perdamaian bentukan AS yang ditugaskan mengawasi rekonstruksi Gaza mengatakan tengah menyiapkan zona percontohan untuk pemerintahan dan bantuan kemanusiaan di Gaza selatan.

Zona tersebut nantinya akan diamankan oleh pasukan internasional.