Air Force One Baru Disempurnakan, Trump Kembali ke Pesawat Lama

Keputusan ini diumumkan di tengah sorotan terhadap kelengkapan sistem keamanan Air Force One baru.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Gedung Putih mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan kembali menggunakan pesawat Air Force One lama selama sekitar satu bulan. Adapun pesawat baru pemberian Qatar akan menjalani peningkatan dan penyempurnaan tambahan.

Penggunaan pesawat baru bercorak merah, putih, dan biru tua itu menuai banyak sorotan. Selain karena berasal dari pemberian pemerintah asing, pesawat tersebut juga diduga tidak dilengkapi sejumlah sistem pendeteksi rudal dan penangkal serangan yang tersedia pada Air Force One lama.

Sorotan terhadap pesawat itu semakin tajam bulan ini ketika Trump meninggalkan KTT NATO di Turki dengan Air Force One lama yang berwarna biru muda, kemudian singgah di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris Mildenhall. Persinggahan tersebut sebelumnya tidak masuk dalam jadwal.

Di Mildenhall, Trump berganti pesawat dan kembali melanjutkan perjalanan dengan pesawat baru pemberian Qatar.

"Air Force One yang baru sepenuhnya aman digunakan untuk perjalanan presiden, tetapi akan menjalani peningkatan dan penyempurnaan tambahan pada musim gugur. Proses tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar satu bulan," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Senin (20/7/2026), seperti dilaporkan Associated Press.

"Selama proses itu berlangsung, presiden akan menggunakan Air Force One lama."

Pernyataan Leavitt memperjelas komentar Trump saat kembali ke Washington pada Minggu (19/7) malam. Kepada wartawan, Trump mengatakan pesawat baru tersebut akan dikirim untuk disempurnakan semaksimal mungkin.

Trump sebelumnya mengklaim persinggahannya di Inggris pada awal bulan ini dilakukan agar pasukan AS di Mildenhall dapat melihat pesawat baru tersebut.

Ia membantah pergantian pesawat itu berkaitan dengan masalah keamanan. Namun, pada saat yang sama Trump mengaku dirinya menghadapi ancaman "sepanjang waktu" dan menjadi target "nomor satu" Iran.