Ketegangan AS-China Reda Sementara, Persaingan Teknologi Diperkirakan Berlanjut

Sejumlah analis menilai China memanfaatkan jeda ketegangan saat ini untuk memperkuat posisinya dalam sektor manufaktur canggih.

Diterbitkan 02 Juni 2026, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Hubungan Amerika Serikat dan China memasuki fase jeda sementara setelah Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping mencapai kesepahaman untuk meredakan sebagian ketegangan perdagangan dan teknologi.

Namun, di balik langkah tersebut, kedua negara dinilai tetap mempersiapkan diri menghadapi babak baru persaingan rantai pasokan dan teknologi strategis.

Dalam kesepakatan terbaru, Beijing disebut tetap mengizinkan ekspor terbatas magnet tanah jarang ke Amerika Serikat, sementara Washington menunda sejumlah pembatasan yang sebelumnya direncanakan terhadap perusahaan semikonduktor China, dikutip dari laman FT, Selasa (2/6/2026).

Meski demikian, kedua negara secara paralel terus memperkuat instrumen kebijakan yang dapat digunakan dalam konflik ekonomi di masa depan.

Menjelang pertemuan puncak Trump-Xi bulan lalu, pemerintah China mengumumkan regulasi baru yang memungkinkan Beijing memberikan sanksi terhadap perusahaan asing yang mematuhi pembatasan atau sanksi dari negara ketiga. Kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap perusahaan multinasional yang beroperasi di pasar China.

Di Amerika Serikat, Kongres mendorong langkah yang lebih tegas terhadap sektor teknologi China. Sejumlah anggota parlemen mengusulkan rancangan undang-undang baru untuk memperketat kontrol ekspor teknologi, termasuk pembatasan penjualan chip kecerdasan buatan (AI) ke China.

China Fokus pada Manufaktur

Sejumlah analis menilai Beijing memanfaatkan jeda ketegangan saat ini untuk memperkuat posisinya dalam sektor manufaktur canggih.

China saat ini memegang posisi dominan dalam berbagai rantai pasokan global, termasuk baterai kendaraan listrik, komponen industri, serta sejumlah bahan baku strategis seperti tanah jarang.

Keunggulan tersebut bahkan mendorong sejumlah negara Barat, termasuk Uni Eropa, mempertimbangkan langkah-langkah proteksi perdagangan guna melindungi industri dalam negeri mereka dari produk-produk China.

Selain itu, pembatasan ekspor tanah jarang dan komponen semikonduktor yang pernah diterapkan Beijing menunjukkan kemampuan China untuk memengaruhi rantai pasokan industri global.

Pemerintah AS sendiri masih berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari China melalui investasi besar di sektor mineral kritis dan manufaktur strategis. Namun, berbagai proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum menghasilkan dampak signifikan.

 

Washington Bertaruh pada AI

Sementara China berfokus memperkuat kapasitas produksi industri, Amerika Serikat dinilai bertaruh pada keunggulan di bidang kecerdasan buatan.

Perusahaan-perusahaan teknologi AS seperti OpenAI dan Anthropic saat ini masih mendominasi pengembangan model AI generatif dan memperoleh pendapatan jauh lebih besar dibandingkan perusahaan AI terkemuka di China.

Pemerintah AS juga meningkatkan investasi dalam teknologi AI untuk kebutuhan keamanan nasional. Baru-baru ini, Washington dilaporkan memesan chip AI senilai sekitar USD 9 miliar untuk mendukung operasional badan intelijen Amerika.

Langkah tersebut menunjukkan keyakinan bahwa kecerdasan buatan akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan keunggulan ekonomi dan strategis Amerika Serikat di masa depan.

Namun, para pemimpin China tampaknya tetap memprioritaskan penguatan basis industri dan manufaktur sebagai fondasi utama kekuatan nasional.

Beijing juga terus mengalokasikan sumber daya besar untuk memperkuat kapasitas produksi industri dibandingkan mempercepat pembangunan pusat data AI dalam skala yang sama dengan Amerika Serikat.

 

Dua Strategi Berbeda

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun ketegangan antara Washington dan Beijing mereda untuk sementara, persaingan antara kedua negara belum berakhir.

Amerika Serikat memilih memperkuat dominasi teknologi melalui pengembangan kecerdasan buatan dan semikonduktor mutakhir. Sementara itu, China terus memperdalam pengaruhnya dalam rantai pasokan manufaktur global dan industri strategis.

Perbedaan pendekatan tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah persaingan ekonomi dan geopolitik dunia dalam beberapa tahun mendatang.