Putra Aung San Suu Kyi Desak Myanmar Buktikan Ibunya Masih Hidup

Dalam upayanya, putra Aung San Suu Kyi meminta bantuan Prancis, salah satu pendukung terkuat demokrasi Myanmar.

Diterbitkan 06 Mei 2026, 11:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Putra dari pemimpin Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi, pada Selasa (5/5/2026) meminta bantuan Prancis untuk memperoleh bukti yang dapat diverifikasi secara independen bahwa ibunya masih hidup, setelah ia dipindahkan ke tahanan rumah. Demikian disampaikan oleh tim pengacaranya.

Pemimpin militer Myanmar yang kemudian menjadi presiden, Min Aung Hlaing, pada Kamis (30/4) memerintahkan agar peraih Nobel Perdamaian berusia 80 tahun itu dipindahkan, lima tahun setelah ia ditahan dalam kudeta.

Namun, putranya, Kim Aris, mengatakan bahwa hingga kini ia masih belum menerima kabar apa pun dari ibunya, yang tetap sangat populer di dalam negeri Myanmar.

"Saya memohon kepada Prancis untuk turut menyuarakan seruan ini bersama saya agar kami dapat memperoleh bukti kehidupan yang diverifikasi secara independen, serta memastikan bahwa hak-hak dasar beliau dijamin, termasuk perawatan medis yang layak, akses kepada pengacaranya, dan kepada keluarganya," tulisnya dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron, sebagaimana dilihat oleh AFP. 

Pengacara Francois Zimeray mengatakan bahwa Aris menyerahkan surat tersebut kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean-Noel Barrot dalam sebuah pertemuan pada Selasa.

"Kami tidak memiliki bukti bahwa ia masih hidup, tidak ada foto selama bertahun-tahun, bahkan tidak ada indikasi bahwa ia benar-benar telah dipindahkan. Kami masih tidak tahu di mana ia berada," ujarnya kepada AFP.

Kantor Min Aung Hlaing pada Kamis membagikan sebuah foto tanpa tanggal yang menunjukkan Aung San Suu Kyi duduk diapit oleh dua pria berseragam.

"Namun kami tidak tahu apakah itu asli atau hasil kecerdasan buatan (AI)," kata Zimeray.

 

Sikap Prancis

Pengacara lainnya, Catalina de la Sota, yang juga mewakili Aung San Suu Kyi, menambahkan, "Kami tidak dapat membayangkan bahwa beliau sudah tidak lagi hidup. Namun, mengapa ia ditahan dalam kerahasiaan total? Hal ini melanggar semua konvensi internasional. Kami khawatir dengan kesehatannya."

Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan bahwa Prancis akan terus berupaya untuk pembebasan segera dan tanpa syarat Aung San Suu Kyi.

Min Aung Hlaing menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada tahun 2021, lalu menahannya dengan berbagai dakwaan yang menurut kelompok hak asasi manusia dibuat-buat untuk menyingkirkannya dari panggung politik.

Perang saudara yang terjadi setelahnya telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi di negara Asia Tenggara yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa tersebut.Â