Trump Batal Kirim Utusan AS ke Pakistan untuk Negosiasi dengan Iran

Apa alasan Trump membatalkan utusan khusus AS ke Pakistan?

Diterbitkan 26 April 2026, 09:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz dan program nuklir Teheran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pengiriman utusan khusus Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner, dinilai hanya akan membuang waktu. Ia menegaskan bahwa Iran tidak perlu perantara jika ingin berunding. 

“Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa Washington “memegang semua kartu” dalam situasi ini, dikutip dari BBC, Minggu (26/4/2026).

Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan dengan Pakistan sebagai mediator. Araghchi menyebut pertemuan itu “produktif” dan telah menyampaikan posisi Iran terkait kerangka penyelesaian permanen konflik, namun meragukan keseriusan AS dalam menempuh jalur diplomasi. 

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tetap terbuka untuk dialog, tetapi menilai pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman menjadi hambatan utama bagi negosiasi yang tulus.

Upaya diplomasi ini berlangsung di tengah perpanjangan gencatan senjata oleh Trump, yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 22 April. Meski diperpanjang untuk memberi ruang bagi perundingan, belum ada kemajuan berarti.

Ketegangan kedua negara juga dipicu oleh konflik di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran diketahui membatasi lalu lintas di kawasan tersebut setelah serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari lalu. Sebagai respons, Washington meningkatkan kehadiran militernya guna menghalangi ekspor minyak Iran.

Di sisi lain, rencana pertemuan langsung antara pejabat AS dan Iran yang sempat diharapkan terjadi, akhirnya batal. Gedung Putih sebelumnya menyebut Iran “ingin berbicara”, namun Teheran membantah adanya rencana pertemuan langsung. 

 

Singgung Ketidakpastian Kepemimpinan Iran

Trump juga menyinggung adanya ketidakpastian dalam kepemimpinan Iran. “Ada konflik internal yang besar dan kebingungan. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang memimpin,” ujarnya.

Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya disebut siap bergabung dalam pembicaraan jika menunjukkan perkembangan positif. Namun absennya Vance dalam rencana delegasi awal dinilai sebagai sinyal bahwa terobosan besar belum diharapkan.

Pakistan dalam beberapa pekan terakhir memainkan peran sebagai mediator, termasuk memfasilitasi pertemuan pejabat tinggi kedua negara pada 11 April yang berakhir tanpa kesepakatan.

Konflik ini juga berakar pada kekhawatiran AS dan Israel terhadap ambisi nuklir Iran. Washington menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk energi. Namun, pengayaan uranium Iran yang mendekati tingkat senjata tetap menjadi sorotan internasional. 

Dengan situasi yang masih tegang dan minim kemajuan diplomasi, masa depan hubungan AS-Iran kembali berada dalam ketidakpastian.