Mahalnya Biaya Senjata, Sanggupkah AS Berperang Lama Melawan Iran?

Persediaan senjata AS mungkin tidak akan habis dalam perang di Iran. Tetapi pertanyaan yang tersisa, berapa senjata yang tersisa setelah perang itu berakhir.

Diterbitkan 12 Maret 2026, 11:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat melancarkan serangan bertajuk “Operation Epic Fury” ke Iran pada 28 Februari 2026. Ribuan serangan AS dilancarkan ke seluruh wilayah Iran dengan mengerahkan lebih dari 20 sistem persenjataan. Baik dari laut maupun udara.

Dalam gelombang pertama serangan gabungan AS–Israel, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas. Presiden AS Donald Trump mengatakan perang akan berlangsung lama. Sekitar empat hingga lima minggu. AS memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu.

Pemerintahan Trump percaya diri mengandalkan kemampuan militer AS.

“Kami tidak kekurangan amunisi,” kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat mengunjungi Komando Pusat AS (CENTCOM) di Florida. Dikutip dari DW.com, Kamis (12/3/2026).

“Persediaan senjata defensif dan ofensif kami memungkinkan kampanye ini berlanjut selama yang kami perlukan.”

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine juga menyatakan hal yang sama.

“Kami memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas ini, baik untuk serangan maupun pertahanan.”

Perhitungan Biaya Perang

Sejak awal konflik, AS, Israel, dan Iran saling meluncurkan serangan besar di kawasan teluk. Menurut CENTCOM, AS menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam tujuh hari pertama.

Tak tinggal diam, Iran meluncurkan ribuan drone Shahed-136 dan ratusan misil ke target AS di kawasan. Mari kita hitung biaya yang dikeluarkan.

Biaya untuk produksi satu Drone Shahed Iran diperkirakan antara USD 20.000 - 50.000 (sekitar Rp 337 juta – Rp 843 juta). Namun metode pencegatan oleh AS jauh lebih mahal.

Pesawat tempur yang menembakkan misil AIM-9 membutuhkan sekitar USD 450.000 per tembakan (sekitar Rp 7,6 miliar). Angka itu belum termasuk biaya operasional pesawat sekitar USD 40.000 (sekitar Rp 675 juta) per jam.

“Biaya mengoperasikan pesawat tempur selama satu jam setara dengan harga satu drone Shahed,” kata Grieco.

“Itu tidak efisien. Ini perbandingan biaya yang tidak menguntungkan.”

Menurutnya, AS seharusnya belajar dari pengalaman Ukraina, yang menggunakan metode lebih murah. Seperti drone pencegat yang lebih murah dari Shahed.

“Amerika Serikat sudah menguji teknologi itu, hanya saja belum membelinya dalam jumlah yang cukup,” kata Grieco.

Sementara itu, misil pertahanan Patriot yang jauh lebih mahal. Sekitar USD 3 juta (sekitar Rp 50,6 miliar) per misil. Digunakan untuk mencegat misil balistik Iran. Di sinilah muncul kekhawatiran terkait persediaan.

Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperkirakan stok misil Patriot mulai terkuras cepat.

“Di awal konflik, mungkin ada sekitar 1.000 misil Patriot, dan saya kira kita sudah menggunakan cukup banyak dari inventaris itu,” katanya.

Dia memperkirakan 200–300 misil Patriot telah digunakan.

Persoalannya, senjata kelas tinggi seperti ini membutuhkan waktu lama untuk diproduksi. Lockheed Martin hanya mengirim sekitar 620 interceptor PAC-3 sepanjang tahun 2025.

“Jika hari ini Anda memesan satu Patriot lagi, kemungkinan butuh setidaknya dua tahun sebelum sistem itu tersedia,” kata Cancian.

Untuk senjata jarak pendek seperti bom, kit JDAM, dan misil Hellfire, situasinya berbeda.

“Secara militer, saya kira kita bisa mempertahankan operasi ini untuk waktu yang sangat lama. Kita memiliki amunisi darat untuk itu,” kata Cancian.

Produksi Senjata Militer

Pada 6 Maret 2026, Trump bertemu sejumlah perusahaan pertahanan. Setelah pertemuan tersebut, dia menulis di Truth Social bahwa para produsen sepakat melipatgandakan produksi senjata kelas tertinggi hingga empat kali lipat.

Gedung Putih menekankan pertemuan itu sebenarnya sudah dijadwalkan sejak beberapa minggu sebelumnya. Namun Grieco meragukan kebaruan pengumuman tersebut.

“Bagi saya itu seperti bukan pengumuman baru, karena sebagian besar rencana itu sudah diumumkan beberapa bulan lalu,” katanya.

Kesepakatan Lockheed Martin untuk meningkatkan produksi interceptor Patriot PAC-3 dari 600 menjadi 2.000 per tahun sebenarnya sudah dipublikasikan sejak Januari. Setelah pertemuan di Gedung Putih, tidak ada jadwal baru yang diumumkan. Targetnya masih tahun 2030.

Bahkan dengan percepatan produksi, prosesnya tetap rumit.

“Ada banyak titik kemacetan dalam rantai produksi. Bahkan jika Anda menggelontorkan banyak uang, tidak semudah menyalakan sakelar untuk langsung memproduksi. Tetap membutuhkan waktu,” kata Grieco.

Masa Depan Senjata Militer AS

Para analis sepakat, AS kemungkinan tidak akan kehabisan senjata selama perang di Iran. Tetapi kekhawatiran itu muncul untuk masa depan.

“Saya tidak akan mengatakan kita akan kehabisan,” kata Grieco.

“Namun masalahnya adalah kita bisa berakhir dengan persediaan yang sangat menipis, dan itu akan membatasi pilihan strategis AS dalam beberapa tahun ke depan di Indo-Pasifik, Eropa, bahkan Timur Tengah.”

Kondisi ini menarik perhatian Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Dia menyuarakan kekhawatiran yang sama.

“Ada kekhawatiran bahwa jika perang berlangsung lama, Amerika mungkin mengurangi pasokan sistem pertahanan udara dan misil pertahanan udara ke Ukraina,” katanya kepada penyiar nasional Italia RAI.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, mantan Menteri Luar Negeri Antony Blinken juga memberikan peringatan serupa. Operasi berkepanjangan di Iran bisa membuat AS lebih rentan terhadap ancaman dari Rusia dan Cina, katanya.

AS Terlalu Meremehkan Iran

Jenderal Dan Caine melaporkan peluncuran misil balistik Iran turun 86 persen dibanding hari pertama pertempuran. Washington menganggap ini sebagai tanda kemajuan.

Sulit mengetahui penyebab pasti penurunan peluncuran misil ke Iran. Tetapi kemungkinan besar AS telah melemahkan kemampuan misil balistik Iran secara signifikan. Namun untuk drone Shahed, estimasi jumlahnya sangat sulit karena produksinya tersebar.

“Bahkan sebelum perang, kita tidak benar-benar punya estimasi yang baik tentang jumlahnya,” kata Grieco.

Dia menilai AS mungkin telah meremehkan Iran.

“Jika tujuannya adalah perubahan rezim, kekuatan udara saja tidak akan cukup untuk menjatuhkan rezim,” katanya.

Menurutnya, sikap Iran yang sebelumnya relatif menahan diri terhadap serangan AS dan Israel mungkin disalahartikan sebagai kelemahan, sehingga menyebabkan kegagalan dalam strategi pencegahan.

“Mereka bertarung demi kelangsungan rezim. Mereka punya insentif untuk bertarung keras dan menanggung biaya besar,” katanya.

Cancian juga sepakat.

“Kita telah memukul mereka cukup keras dan mereka belum meminta perdamaian,” katanya.

“Mungkin itu tidak diantisipasi.”

Keberhasilan cepat AS dalam menangkap mantan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro sebelumnya meningkatkan kepercayaan diri Washington terhadap hasil Operation Epic Fury. Namun sejarah menunjukkan AS pernah salah memperkirakan durasi dan biaya perang sebelumnya.

Persediaan senjata AS mungkin tidak akan habis dalam perang di Iran. Tetapi pertanyaan yang tersisa adalah berapa banyak yang akan tersisa setelah perang itu berakhir.