Trump Ingin Terlibat dalam Pemilihan Pemimpin Baru Iran

Keinginan Trump dinilai semakin mengaburkan tujuan dari operasi militer terhadap Iran.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kepada Axios dalam sebuah wawancara pada Kamis (5/3/2026) bahwa ia perlu terlibat dalam proses pemilihan pemimpin Iran berikutnya, sebagaimana ia terlibat dalam penunjukan kepemimpinan di Venezuela.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut secara eksklusif dalam percakapan telepon selama delapan menit. Percakapan itu merupakan pembicaraan kedua Trump dengan Axios untuk menjelaskan rencana perangnya.

Dalam wawancara itu, Trump juga mengakui bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran yang dibunuh, Ali Khamenei, merupakan sosok yang paling mungkin menjadi penerus. Namun pada saat yang sama ia menegaskan bahwa hasil tersebut tidak dapat diterimanya.

Sementara itu, selama beberapa hari terakhir Iran telah menunda pengumuman mengenai pemimpin tertinggi yang baru. Meski demikian, pernyataan dari sejumlah politikus Iran pada Kamis menunjukkan bahwa pengumuman tersebut kemungkinan akan segera dilakukan.

Menanggapi situasi tersebut, Trump mengatakan bahwa Iran hanya membuang-buang waktu.

"Mereka hanya membuang-buang waktu. Putra Khamenei bukan sosok yang kuat. Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti yang terjadi dengan Delcy (Rodriguez) di Venezuela," kata Trump. 

Ia kemudian menambahkan bahwa ia menolak menerima pemimpin baru Iran yang akan melanjutkan kebijakan Khamenei. Menurutnya, hal itu akan memaksa AS kembali berperang dalam waktu lima tahun.

"Putra Khamenei tidak dapat saya terima. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran," ujar Trump.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan sejumlah pejabat AS lainnya telah membantah bahwa tujuan operasi tersebut adalah "perubahan rezim". Mereka menegaskan bahwa fokus operasi itu adalah melemahkan kemampuan rudal Iran, program nuklirnya, serta angkatan laut negara tersebut.

 

Israel Ganggu Proses Pemilihan

Sebelumnya, ketika ditanya pada Selasa (3/3) mengenai siapa yang dapat menggantikan Khamenei, Trump mengatakan kepada para wartawan di Gedung Putih bahwa sebagian besar orang yang sempat dipertimbangkan sudah meninggal.

"Sebagian besar orang yang kami pikirkan sudah meninggal," kata Trump.

 Mojtaba— putra berusia 56 tahun dari pemimpin tertinggi Iran yang dibunuh — muncul sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan ayahnya, meskipun hingga kini belum ada pengumuman resmi.

Ia dikenal sebagai ulama garis keras yang memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Namun, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan publik.

Pada Selasa pula, Israel mengebom sebuah bangunan di Qom yang menjadi lokasi badan ulama yang bertanggung jawab memilih pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Serangan tersebut dilakukan dengan tujuan mengganggu proses penghitungan suara.

Â