Liputan6.com, Jakarta Pancasila merupakan filosofi resmi negara Indonesia yang terdiri dari lima prinsip saling berkaitan, mencakup kepercayaan kepada Tuhan, masyarakat yang adil dan beradab, persatuan nasional, demokrasi, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Contoh ketuhanan yang Maha Esa menjadi landasan utama yang menjiwai keempat sila lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sila ke-1 berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa," yang bermakna setiap warga negara memiliki keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa serta negara berdasar pada ketuhanan. Menerapkan contoh ketuhanan yang Maha Esa secara nyata adalah kewajiban setiap individu demi terciptanya kerukunan dan toleransi dalam masyarakat yang majemuk.
Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, prinsip pertama Pancasila mengakui kepercayaan kepada Tuhan tanpa menetapkan satu agama negara, sehingga memberikan ruang bagi keragaman agama. Dilansir dari Britannica, Soekarno menyatakan bahwa negara Indonesia harus didasarkan pada Lima Prinsip, salah satunya adalah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Advertisement
Pengertian dan Makna Ketuhanan Yang Maha Esa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5133832/original/011214400_1739591891-1739589025193_arti-ketuhanan-yang-maha-esa.jpg)
Memahami pengertian sila pertama Pancasila menjadi langkah awal sebelum mengidentifikasi contoh ketuhanan yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari. Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pengertian keyakinan adanya Tuhan yang Maha Kuasa, pencipta alam semesta beserta isinya. Secara harfiah, "Ketuhanan" berasal dari kata "Tuhan" yang berarti Zat Yang Maha Esa, sedangkan "Yang Maha Esa" menegaskan keesaan atau ketunggalan Tuhan.
Mengacu pada riset yang diterbitkan EBSCO Research Starters, prinsip pertama Pancasila dinyatakan dalam konstitusi Indonesia sebagai "negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa." Konsep ini bersifat inklusif dan tidak merujuk pada satu agama tertentu. Prinsip ini bisa disebut sebagai prinsip sekuler-teistik yang terbuka terhadap interpretasi tentang Tuhan mana yang dimaksud, sehingga mengakomodasi semua sistem kepercayaan di Indonesia.
Makna yang terkandung dalam sila pertama ini antara lain pengakuan akan keberadaan Tuhan sebagai pencipta kehidupan, jaminan kebebasan memeluk agama sesuai keyakinan masing-masing, larangan memaksakan agama kepada orang lain, serta kewajiban menjalankan ibadah sesuai ajaran agama yang dianut. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi dalam menerapkan contoh penerapan nilai Pancasila secara konkret.
Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, terjemahan resmi BPIP untuk sila pertama adalah "Belief in the One and Only God," yang secara morfologis bermakna "Ketuhanan yang Esa." Sila ini berfungsi sebagai pengakuan eksplisit terhadap Dzat Yang Maha Kuasa sebagai prinsip bagi masyarakat yang memiliki keragaman agama dan kepercayaan.
Advertisement
Sejarah Perumusan Sila Pertama Pancasila
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8512261/original/054814800_1782435321-image_24688dbb.jpg)
Sejarah perumusan sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak bisa dilepaskan dari dinamika perdebatan para pendiri bangsa. Sila ini pertama kali diartikulasikan pada 1 Juni 1945, dalam pidato yang disampaikan Soekarno kepada panitia persiapan kemerdekaan Indonesia. Proses kelahiran sila pertama ini penuh dengan kompromi yang mencerminkan semangat persatuan di atas kepentingan golongan.
Berdasarkan catatan sejarah, sila pertama dalam Piagam Jakarta awalnya berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya." Namun, pada 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menghapus klausul tersebut, menyisakan sila pertama sebagai "Ketuhanan Yang Maha Esa" demi menjamin persatuan nasional.
Perubahan ini terjadi atas inisiatif Mohammad Hatta. Mengutip dokumen yang diarsipkan dalam buku teks sejarah kurikulum Indonesia, dikutip dari Issuu, Hatta menegaskan, "Pernyataan fundamental mengenai seluruh bangsa tidak akan layak jika hanya menyangkut identitas sebagian rakyat Indonesia, meskipun mereka bagian dari mayoritas."
Soekarno sebagai bapak pendiri bangsa mengusulkan ideologi baru ini sebagai kompromi antara negara Islam dan negara sekuler. Pada 1 Juni 1945, Soekarno menjelaskan lima prinsip Pancasila dalam pidatonya: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan Indonesia, demokrasi, dan keadilan sosial. Soekarno, dikutip dari ASEAN Parliamentarians for Human Rights (APHR), menyatakan, "Saya menginginkan negara yang beriman kepada Tuhan, di mana setiap orang bebas menjalankan agama atau kepercayaannya."
Baca juga: Mengenal Nilai-Nilai Pancasila dan Maknanya
Contoh Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Kehidupan Sehari-hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4312903/original/097203100_1675422446-4741430_2492241_1_.jpg)
Menerapkan sila pertama bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata yang bisa dilakukan di berbagai aspek kehidupan. Setiap butir sila dalam Pancasila mengandung nilai-nilai yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari dalam pergaulan pertemanan maupun lingkungan sosial lainnya. Sebagaimana dilaporkan EBSCO Research Starters, prinsip ini menegaskan bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan dan berhak mendapat penghormatan atas martabatnya.
Berikut sejumlah contoh ketuhanan yang Maha Esa yang bisa dipraktikkan sehari-hari:
- Beribadah sesuai agama masing-masing. Menjalankan salat, kebaktian, sembahyang, atau bentuk ibadah lainnya secara rutin merupakan wujud paling mendasar dari sila pertama.
- Menghormati teman atau tetangga yang berbeda agama. Menghormati teman atau guru yang berbeda agama adalah contoh pengamalan yang dianjurkan BPIP.
- Tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain. Tidak memaksa orang lain untuk memeluk agama atau kepercayaan tertentu merupakan penghormatan terhadap toleransi antarumat beragama.
- Memberikan kesempatan orang lain menjalankan ibadah. Misalnya, tidak membuat keributan saat ada umat agama lain sedang beribadah di dekat lingkungan tempat tinggal.
- Menjaga kerukunan antarumat beragama. Ikut menjaga suasana damai di lingkungan tempat tinggal yang memiliki warga dengan beragam latar belakang agama.
- Tidak menistakan atau menghina agama lain. Tidak menistakan agama seseorang seperti membakar rumah ibadah dan menghina ajarannya menjadi batasan penting dalam kehidupan beragama.
- Bekerja sama antarumat beragama untuk kepentingan umum. Saling bekerja sama antarumat beragama dalam hal yang bersifat memajukan kepentingan umum, misalnya kerja bakti atau gotong royong di desa.
- Tidak menjadikan perbedaan agama sebagai penghalang berteman. Membina hubungan sosial yang sehat tanpa memandang latar belakang agama seseorang.
- Mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain. Tradisi salam lintas agama di Indonesia mencerminkan semangat toleransi yang mengakar dalam kehidupan berbangsa.
- Mendukung pembangunan rumah ibadah semua agama. Memberikan dukungan bagi pembangunan tempat ibadah tanpa membedakan agama merupakan bentuk nyata penghargaan terhadap kemajemukan.
Advertisement
Penerapan Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa di Berbagai Lingkungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411184/original/072778700_1763004588-Bertamu.jpg)
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat. Penerapan contoh ketuhanan yang Maha Esa tidak terbatas pada satu ruang saja, melainkan harus meresap ke seluruh lini kehidupan. Mengutip laporan U.S. Department of State mengenai kebebasan beragama di Indonesia, hukum di Indonesia mewajibkan seluruh organisasi masyarakat untuk menjunjung ideologi nasional Pancasila, yang mencakup prinsip kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keadilan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Di lingkungan keluarga, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai ketuhanan sejak dini kepada anak-anak. Mengajarkan doa sebelum makan, membawa anak ke tempat ibadah, serta menumbuhkan rasa hormat terhadap perbedaan agama merupakan langkah awal yang penting. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila.
Di lingkungan sekolah, guru bisa menjadi teladan dalam mengamalkan sila pertama. Contoh nyatanya meliputi: tidak membeda-bedakan siswa berdasarkan agama, memberikan waktu bagi siswa untuk beribadah, serta menyelenggarakan kegiatan yang mempererat toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Menunjukkan sikap toleran kepada semua warga sekolah juga termasuk pengamalan yang digarisbawahi oleh BPIP.
Di lingkungan masyarakat dan tempat kerja, penerapan sila pertama tercermin melalui sikap saling menghormati saat perayaan hari besar keagamaan. Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan sila pertama terlihat melalui sikap saling menghargai saat beribadah dan menjaga hubungan sosial tanpa membedakan keyakinan. Berpartisipasi dalam kegiatan moderasi beragama juga menjadi contoh penerapan yang relevan di era modern.
Alexander Hendra Dwi Asmara S.J., dosen pendidikan agama Katolik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dikutip dari America Magazine, menyatakan, "Paus Fransiskus mengirimkan pesan toleransi dan kemanusiaan melalui tema Iman, Kebersamaan, dan Kasih Sayang."
Peran Toleransi Beragama sebagai Cerminan Ketuhanan Yang Maha Esa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5083060/original/067744900_1736236396-1736232558677_apa-yang-dimaksud-toleransi.jpg)
Toleransi beragama merupakan inti dari pengamalan sila pertama Pancasila. Indonesia sebagai negara dengan keragaman agama memiliki tantangan sekaligus kekayaan dalam menjalankan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Merujuk jurnal Pancasila: Jurnal Keindonesiaan yang diterbitkan BPIP, Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa negara Indonesia didirikan atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, sementara ayat (2) menjamin setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinannya.
Dalam konteks internasional, model toleransi beragama ala Indonesia mendapat perhatian luas. Eva Kusuma Sundari, anggota DPR RI dan anggota International Panel of Parliamentarians for Freedom of Religion or Belief (IPPFoRB), dikutip dari IPPFoRB, menyatakan, "Di negara saya Indonesia, pelukan terhadap agama sebagai alat memerangi ekstremisme tertanam dalam ideologi Pancasila."
Upaya positif telah dilakukan oleh pemerintah dan dua organisasi Islam terkemuka, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, melalui Pancasila sebagai filosofi nasional yang mempromosikan kepercayaan kepada Tuhan dan persatuan dalam keberagaman. Pemerintah sering merujuk Pancasila sebagai dasar toleransi dan koeksistensi beragama. Prinsip ini yang membuat Indonesia memiliki karakter unik di antara negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya.
Pada kunjungannya ke Indonesia tahun 2024, Paus Fransiskus, dikutip dari America Magazine, menyampaikan, "Saya mendorong kalian untuk menabur benih cinta dan menempuh jalan dialog dengan penuh percaya diri." Seruan ini selaras dengan semangat Pancasila yang mengedepankan dialog antarumat beragama sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari memang bukan tanpa tantangan. Father Hendra, dikutip dari America Magazine, mengakui bahwa, "Di Indonesia, agama kerap dimanipulasi untuk kepentingan politik, terutama saat pemilihan lokal dan presiden." Meski demikian, semangat toleransi dan kerukunan tetap menjadi ciri khas kehidupan beragama di Indonesia.
Pada akhirnya, simbol bintang dalam Pancasila bukan sekadar lambang visual semata. Lambang bintang melambangkan cahaya spiritual yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber kehidupan bagi seluruh makhluk. Bintang emas berlatar hitam itu mengingatkan setiap warga negara akan pentingnya menjadikan nilai ketuhanan sebagai pijakan utama kehidupan berbangsa.
Mengamalkan sila pertama Pancasila berarti turut menjaga warisan luhur para pendiri bangsa. Alasan sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama dalam urutan kelima sila yaitu karena nilai-nilai pada sila pertama meliputi nilai-nilai pada sila setelahnya. Dengan demikian, setiap contoh ketuhanan yang Maha Esa yang dipraktikkan di kehidupan sehari-hari turut memperkuat fondasi persatuan Indonesia, kemanusiaan yang adil, demokrasi yang bijaksana, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Baca juga: Arti Lambang Pancasila dan Maknanya
Baca juga: Contoh Perilaku Sila Ke-2 di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
Advertisement
Pertanyaan seputar Contoh Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Kehidupan Sehari-hari dan Penerapannya
Apa yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa?
Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pengertian keyakinan adanya Tuhan yang Maha Kuasa, pencipta alam semesta beserta isinya. Secara harfiah, "Ketuhanan" berasal dari kata "Tuhan" yang berarti Zat Yang Maha Esa, pencipta segala yang ada. Prinsip ini menjadi landasan spiritual bagi seluruh sila dalam Pancasila dan mewajibkan setiap warga negara untuk beriman kepada Tuhan sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
Mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa diletakkan di urutan pertama?
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ditempatkan di urutan pertama karena nilai-nilai pada sila pertama meliputi nilai-nilai pada sila setelahnya. Sila ke-2 hingga ke-4 merupakan penjabaran sila pertama Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, nilai ketuhanan menjadi roh yang menjiwai seluruh aspek kehidupan yang diatur oleh Pancasila.
Bagaimana cara paling sederhana mengamalkan sila pertama Pancasila?
Cara paling sederhana adalah beribadah sesuai ajaran agama masing-masing, menghormati teman yang berbeda agama, tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain, serta menjaga kerukunan antarumat beragama di lingkungan sekitar. Penerapan sila pertama sangat penting untuk menciptakan toleransi dan kedamaian di lingkungan masyarakat.
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520488/original/002175600_1782447973-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T112427.080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261577/original/041528400_1781746737-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_07.45.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5164799/original/043621100_1742183216-dbe96acd3b3529457b7c0146890290a1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3812570/original/003638900_1721276093-11038741_663053793805693_2579242043740350740_n.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8396198/original/087323800_1782277248-cTvnChmPny3oAfMdgxRlp1WRicJvxaFYyeZMlHhF.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860530/original/010220100_1777609466-pp.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261449/original/024360400_1781704034-000_B7CB6XN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8530300/original/023508000_1782462492-AP26175847717345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528304/original/000911800_1782459714-AP26177049351866.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5448078/original/040755400_1765983961-Barcelona-Pau-Cubarsi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524143/original/085744300_1782453577-Yuto_Nagatomo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520782/original/001156700_1782448403-turki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5378177/original/005816700_1760215354-Spain_s_Mikel_Oyarzabal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257100/original/080406300_1781208059-selebrasi_julian_quinones_meksiko_afrika_selatan_ap_eduardo_verdugo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520243/original/086003700_1782447581-063_2283364709.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519978/original/083186800_1782447080-063_2283364620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516459/original/090325000_1782441883-Cover.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263017/original/042773100_1781856637-VI8m5oexn0LZ1xtRSCqLkUrpvIFVnLHo6OMSA4WH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263030/original/025290000_1781856652-xL2yE0Zq2aNR95jsCj3fcfQycmsfuwT3zoiAIK9B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472795/original/022273400_1782376365-Screenshot_2026-06-25_151116.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8467583/original/035754700_1782369387-Untitled3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8396205/original/078384800_1782277252-XtWiusr7ZAOq2oxb0zSL0g82dm2XSohb0qo3isPA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8401855/original/074961800_1782283845-3TR3me0F81LCl4qRH7qGiWCviNC49LSkUxWWUWE7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8473527/original/016782300_1782382949-Begadang_Nonton_Piala_Dunia.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8396214/original/026476000_1782277259-67lFuHtDdZuRzObhTMIZcEWgpikre0l0EGlZHuis.jpg)