Contoh Majas Metafora: Pengertian, Jenis, Ciri-Ciri, dan Fungsinya dalam Bahasa Indonesia

Pelajari contoh majas metafora lengkap beserta pengertian, jenis, ciri-ciri, dan fungsinya dalam karya sastra maupun kehidupan sehari-hari.

Diterbitkan 26 Juni 2026, 11:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Majas metafora merupakan salah satu gaya bahasa yang paling sering dijumpai, baik dalam karya sastra maupun percakapan sehari-hari. Metafora digunakan untuk menciptakan gambaran yang hidup, melebih-lebihkan suatu karakteristik, atau mengekspresikan ide yang kompleks, dan lazim ditemukan dalam sastra, iklan, serta ujaran sehari-hari. Memahami contoh majas metafora akan membantu siapa pun mengenali kekayaan bahasa Indonesia secara lebih mendalam.

Dalam praktiknya, contoh majas metafora bertebaran di mana-mana, mulai dari puisi klasik hingga lirik lagu populer. Pada intinya, metafora adalah majas yang secara langsung membandingkan dua hal berbeda tanpa menggunakan kata "seperti" atau "bagai." Alih-alih mengatakan sesuatu mirip hal lain, metafora langsung menyatakan bahwa sesuatu adalah hal lain tersebut.

George Lakoff dan Mark Johnson, dalam bukunya Metaphors We Live By (1980), menyatakan formulasi yang kerap dikutip, "Esensi metafora adalah memahami dan mengalami satu jenis hal dalam kerangka hal lain." Dilansir dari Merriam-Webster, metafora adalah majas di mana sebuah kata atau frasa yang secara harfiah menunjukkan satu jenis objek atau tindakan digunakan sebagai pengganti hal lain untuk menunjukkan kesamaan atau analogi di antara keduanya.

Pengertian Majas Metafora

Memahami pengertian majas metafora adalah langkah awal untuk mengenali keindahan gaya bahasa kiasan dalam bahasa Indonesia. Secara sederhana, majas metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang menyamakan satu hal dengan hal lain secara langsung, tanpa menggunakan kata penghubung pembanding seperti "seperti," "bagai," "bak," atau "laksana."

Metafora adalah majas di mana sesuatu dideskripsikan melalui perbandingan non-literal dan langsung dengan hal lain. Kata aslinya dari bahasa Yunani, metaphora, berarti "memindahkan" atau "membawa." Dengan kata lain, metafora "memindahkan" makna dari satu objek ke objek lain berdasarkan kemiripan tertentu.

Mengacu pada Scribbr, metafora adalah majas yang secara implisit membandingkan dua hal yang tidak berhubungan, biasanya dengan menyatakan bahwa satu hal adalah hal lain. Dalam konteks bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan metafora sebagai pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Sebuah metafora terdiri dari komponen tenor dan vehicle. Tenor adalah subjek yang sedang dibicarakan, sementara vehicle adalah objek yang digunakan sebagai pembanding. Kesamaan di antara keduanya disebut ground, sedangkan perbedaan yang menjadikannya sebagai majas disebut tension. Sebagai contoh, dalam kalimat "Buku adalah jendela dunia," tenor-nya adalah "buku," vehicle-nya adalah "jendela dunia," dan ground-nya adalah kesamaan fungsi sebagai sarana untuk melihat sesuatu yang lebih luas.

Baca juga: Majas Metafora adalah Persamaan atau Perbandingan, Simak Pengertiannya

Ciri-Ciri Majas Metafora

Mengenali ciri-ciri majas metafora sangat penting agar tidak keliru membedakannya dengan jenis majas perbandingan lainnya. Berdasarkan LitCharts, metafora menyatakan perbandingan secara implisit dengan menyebutkan bahwa satu hal adalah hal lain. Alih-alih menyandingkan dua entitas melalui kata penghubung, metafora menumpangkan keduanya menjadi satu. Berikut ciri-ciri utamanya:

  1. Tidak menggunakan kata penghubung perbandingan. Majas metafora tidak memakai konjungsi seperti "seperti," "bagai," "laksana," "ibarat," dan sejenisnya. Inilah pembeda utamanya dengan majas simile.
  2. Mengandung perbandingan langsung antara dua hal berbeda. Dua objek yang sebenarnya tidak berhubungan disandingkan seolah-olah merupakan hal yang sama.
  3. Menggunakan kata atau frasa bermakna kiasan. Kata-kata dalam metafora tidak bisa diartikan secara harfiah. Makna yang disampaikan bersifat konotatif.
  4. Memiliki unsur pembanding (vehicle) dan yang dibandingkan (tenor). Kedua unsur ini bisa muncul bersamaan atau salah satunya tersirat dalam konteks kalimat.
  5. Bersifat ringkas dan sugestif. Metafora mampu menyampaikan gagasan kompleks dalam ungkapan yang padat dan menggugah imajinasi.
  6. Tidak dimaksudkan untuk menyindir. Berbeda dengan majas sindiran, majas metafora bertujuan untuk memperindah bahasa dan memperjelas gagasan, bukan untuk mengkritik.

Sebagaimana disampaikan Grammarly, metafora adalah majas yang membandingkan dua hal berbeda dengan menyatakan bahwa satu hal adalah hal lain, menyoroti kesamaan untuk penekanan atau simbolisme. Elemen-elemen yang dibandingkan memang tidak sama secara literal, tetapi dihubungkan untuk menciptakan pemahaman yang lebih mendalam. Metafora membantu menyampaikan konsep abstrak, emosi, atau ide kompleks melalui bahasa yang hidup dan imajinatif.

Jenis-Jenis Majas Metafora

Majas metafora tidak hanya terdiri dari satu bentuk saja. Terdapat beberapa jenis yang masing-masing memiliki cara kerja dan efek yang berbeda. Sebagaimana dikutip dari LiteraryDevices.net, definisi dasar metafora relatif sederhana, tetapi metafora bisa menjadi cukup kompleks dan bernuansa, sehingga penting untuk mengeksplorasi berbagai tipe dan penerapannya. Berikut jenis-jenis majas metafora yang perlu diketahui:

  1. Metafora Eksplisit (In Praesentia). Ini adalah tipe metafora paling umum, di mana perbandingan langsung dibuat secara jelas dan eksplisit. Pernyataannya terang dan gamblang. Contoh: "Dia adalah bintang kelas di sekolahnya." Baik objek yang dibandingkan (dia) maupun pembandingnya (bintang kelas) hadir dalam kalimat.
  2. Metafora Implisit (In Absentia). Metafora implisit tidak menyatakan perbandingan secara eksplisit. Sebaliknya, metafora ini memberi petunjuk melalui penggunaan bahasa, dan pembaca dituntut untuk menangkap sendiri hubungan perbandingannya. Contoh: "Amarahnya mendidih saat mendengar kabar itu." Di sini, kemarahan secara tersirat dibandingkan dengan air yang mendidih.
  3. Metafora Mati (Dead Metaphor). Metafora mati adalah majas yang sudah sangat lazim akibat penggunaan berulang sehingga orang tidak lagi mengenalinya sebagai metafora, dan dipahami sebagai ungkapan bermakna langsung. Contoh: "kaki gunung," "kepala surat," atau "mulut sungai."
  4. Metafora Diperluas (Extended Metaphor). Metafora diperluas terjadi ketika perbandingan awal dikembangkan sepanjang beberapa baris atau paragraf. Metafora jenis ini lazim digunakan dalam sastra dan iklan, tetapi jarang dalam percakapan sehari-hari. Dalam novel Invisible Man, misalnya, Ralph Ellison memperluas metafora "tak terlihat" untuk menggambarkan pengalaman komunitas tertentu dalam masyarakat.
  5. Metafora Campuran (Mixed Metaphor). Metafora campuran adalah majas yang menggabungkan dua atau lebih metafora berbeda, sehingga menghasilkan pernyataan yang membingungkan atau tidak masuk akal. Metafora campuran biasanya tidak disengaja dan kerap dipersepsikan sebagai humor yang tidak disadari.
  6. Metafora Konseptual. Dalam buku Metaphors We Live By, Lakoff dan Johnson memaparkan teori bahwa metafora memengaruhi pemikiran serta tindakan kita, dan bahwa sistem konseptual manusia pada dasarnya bersifat metaforis. Contoh: "waktu adalah uang" atau "hidup adalah perjalanan."

Baca juga: Metafora Adalah Gaya Bahasa Perbandingan, Kenali Jenis-jenis dan Contohnya

Contoh Majas Metafora dalam Kalimat dan Artinya

Memahami teori saja tentu belum cukup. Berikut ini kumpulan contoh majas metafora yang disusun dari yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks, lengkap dengan artinya. Filsuf Yunani Aristoteles, dikutip dari Wikipedia, menyatakan, "Hal terpenting di atas segalanya adalah menguasai metafora. Ini satu-satunya hal yang tidak bisa dipelajari dari orang lain; dan juga tanda kejeniusan, karena metafora yang baik menyiratkan persepsi intuitif terhadap kesamaan dalam hal-hal yang berbeda."

  1. "Dia adalah tangan kanan direktur di perusahaan itu." Arti: "Tangan kanan" merujuk pada orang kepercayaan yang paling diandalkan.
  2. "Si jago merah melahap habis permukiman warga." Arti: "Jago merah" adalah metafora untuk api atau kebakaran besar yang menghanguskan sesuatu.
  3. "Raja siang mulai terbit dari ufuk timur." Arti: "Raja siang" adalah metafora untuk matahari yang muncul di pagi hari.
  4. "Buku adalah jendela dunia." Arti: Buku disamakan dengan jendela karena keduanya berfungsi membuka wawasan ke dunia luas.
  5. "Para tikus kantor masih berkeliaran bebas di negeri ini." Arti: "Tikus kantor" adalah metafora untuk koruptor yang beroperasi di lingkungan pemerintahan.
  6. "Kegagalan adalah guru terbaik." Arti: Kegagalan disamakan dengan guru karena memberikan pelajaran berharga.
  7. "Anak itu benar-benar kutu buku." Arti: "Kutu buku" menggambarkan seseorang yang gemar sekali membaca.
  8. "Perpustakaan adalah gudang ilmu." Arti: Perpustakaan disamakan dengan gudang karena menyimpan banyak pengetahuan.
  9. "Ibunya adalah malaikat tanpa sayap." Arti: Ibu disamakan dengan malaikat karena kebaikan dan kasih sayangnya yang luar biasa.
  10. "Senyumnya adalah embun pagi di tengah kegelisahanku." Arti: Senyum disamakan dengan embun pagi yang menyegarkan dan menenangkan hati.

Penulis fiksi ilmiah Ray Bradbury, dikutip dari BrainyQuote, menyatakan, "Saya pikir alasan cerita-cerita saya begitu sukses adalah karena saya memiliki kepekaan metafora yang kuat."

Selain contoh di atas, contoh majas metafora juga sering ditemukan dalam puisi dan lirik lagu Indonesia. Ungkapan-ungkapan seperti "sampah masyarakat" (orang yang tidak berguna), "buah bibir" (bahan pembicaraan orang banyak), dan "kembang desa" (perempuan tercantik di kampung) merupakan metafora yang sudah sangat melekat dalam kehidupan berbahasa masyarakat Indonesia.

Baca juga: Majas Metafora adalah Menyampaikan Pesan dengan Persamaan, Ini Ciri dan Contohnya

Fungsi dan Peran Metafora dalam Bahasa serta Kognisi Manusia

Metafora bukan sekadar hiasan bahasa dalam karya sastra. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa metafora memengaruhi persepsi, penalaran, dan pengambilan keputusan dengan membentuk cara manusia mengonseptualisasikan ide-ide abstrak. Studi dalam linguistik kognitif menyarankan bahwa metafora bukan sekadar perangkat gaya, melainkan fundamental bagi kognisi manusia karena menyusun cara orang memahami dan berinteraksi dengan dunia.

Dari segi sastra, metafora memiliki sejumlah fungsi penting. Pertama, metafora menciptakan gambaran yang hidup dalam benak pembaca, membuat tulisan lebih menarik dan mudah diingat. Kedua, dengan membandingkan sesuatu yang asing dengan sesuatu yang familiar, metafora menyederhanakan konsep-konsep abstrak. Ketiga, metafora menambahkan resonansi emosional yang menciptakan koneksi lebih dalam antara penulis dan pembaca. Keempat, metafora menawarkan perspektif baru dengan membingkai sesuatu secara berbeda, sehingga bisa menantang asumsi dan memperluas pemahaman.

Penulis Orson Scott Card, dikutip dari BrainyQuote, menyatakan, "Metafora memiliki cara untuk menampung kebenaran paling banyak dalam ruang paling sedikit."

Eksperimen menunjukkan bahwa pembingkaian metaforis yang berbeda dapat mengubah penilaian dan perilaku seseorang. Misalnya, sebuah studi oleh Thibodeau dan Boroditsky (2011) menemukan bahwa menggambarkan kejahatan sebagai "binatang buas yang memangsa kota" membuat partisipan lebih mendukung kebijakan penegakan hukum yang keras, sedangkan membingkai kejahatan sebagai "virus yang menginfeksi kota" meningkatkan dukungan terhadap reformasi sosial dan langkah-langkah pencegahan. Temuan ini membuktikan bahwa majas metafora memiliki kekuatan nyata dalam membentuk opini dan perilaku manusia.

Dalam ranah gaya bahasa Indonesia, majas metafora membantu penulis dan pembicara menyampaikan gagasan secara lebih kreatif. Ungkapan metaforis seperti "sampah masyarakat," "jago merah," atau "raja siang" sudah menjadi kosakata yang memperkaya komunikasi sehari-hari. Albert Einstein sendiri, ebagaimana ditulis dalam esainya, menyatakan, "Semua agama, seni, dan ilmu pengetahuan adalah cabang-cabang dari pohon yang sama."

Baca juga: Apa Arti Majas? Ini Definisi, Jenis dan Contohnya

 

Perbedaan Majas Metafora dengan Majas Simile

Salah satu kekeliruan yang paling umum dalam memahami majas adalah mencampuradukkan antara metafora dan simile. Keduanya memang sama-sama merupakan majas perbandingan, tetapi memiliki perbedaan mendasar yang perlu dipahami.

Berdasarkan Grammarly, metafora berkerabat dekat dengan simile karena keduanya adalah majas yang membandingkan dua hal. Perbedaan utamanya adalah simile menggunakan kata "seperti" atau "bagai" untuk membuat perbandingan langsung, sementara metafora tidak. Simile secara eksplisit menyatakan bahwa dua hal itu serupa, menyoroti kemiripannya. Sebaliknya, metafora menyiratkan bahwa satu hal adalah hal lain, menciptakan koneksi figuratif yang harus ditafsirkan oleh pembaca.

Berikut tabel perbandingan untuk memperjelas:

Aspek Majas Metafora Majas Simile
Kata penghubung Tidak menggunakan Menggunakan (seperti, bagai, bak, laksana)
Sifat perbandingan Implisit dan langsung Eksplisit dan terang-terangan
Contoh "Dia adalah singa di lapangan." "Dia kuat seperti singa."
Efek Lebih kuat dan puitis Lebih jelas dan langsung
Interpretasi Pembaca menafsirkan sendiri Pembaca langsung memahami

Metafora cenderung lebih kuat dan puitis karena menuntut pembaca untuk menafsirkan sendiri koneksi figuratifnya. Di sisi lain, simile membuat perbandingan lebih eksplisit sehingga mengurangi kemungkinan salah tafsir dengan cara yang lebih langsung dan tidak terlalu bernuansa. Dalam karya sastra Indonesia, keduanya sama-sama berharga dan saling melengkapi untuk membangun narasi yang hidup.

Baca juga: 4 Macam-Macam Majas, Pengelompokkan, dan Contohnya

Memahami perbedaan ini juga penting bagi siapa pun yang ingin menulis dengan efektif. Majas hiperbola, majas sinekdoke, dan majas metonimia juga memiliki perbedaan karakteristik yang perlu dipelajari agar penggunaan gaya bahasa dalam tulisan menjadi lebih tepat sasaran.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Contoh Majas Metafora

Apa itu majas metafora?

Majas metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang menyamakan satu hal dengan hal lain secara langsung tanpa menggunakan kata penghubung seperti "seperti," "bagai," atau "laksana." Kata metaphora sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti "memindahkan." Dalam penggunaannya, metafora memindahkan makna dari satu objek ke objek lain berdasarkan kemiripan atau analogi tertentu, sehingga menciptakan gambaran yang lebih hidup dan bermakna bagi pembaca maupun pendengar.

Apa perbedaan majas metafora dengan majas simile?

Perbedaan utama terletak pada penggunaan kata penghubung. Majas simile menggunakan kata pembanding seperti "seperti," "bagai," atau "laksana" (contoh: "wajahnya cantik seperti bulan purnama"), sedangkan majas metafora langsung menyatakan persamaan tanpa kata pembanding (contoh: "wajahnya adalah bulan purnama"). Meskipun keduanya sama-sama majas perbandingan, metafora dianggap lebih puitis dan memerlukan interpretasi yang lebih mendalam dari pembaca.

Di mana saja contoh majas metafora bisa ditemukan?

Contoh majas metafora bisa ditemukan di berbagai konteks, mulai dari puisi, novel, cerpen, lirik lagu, pidato, hingga percakapan sehari-hari. Ungkapan seperti "tikus kantor" (koruptor), "raja hutan" (singa), "buah hati" (anak), dan "kembang desa" (gadis tercantik di kampung) merupakan contoh majas metafora yang sudah sangat melekat dalam budaya bahasa Indonesia. Bahkan iklan dan media massa kerap menggunakan metafora untuk menyampaikan pesan secara lebih menarik dan mudah diingat.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence