Inggris dan Swiss Pecahkan Rekor Suhu Terpanas pada Juni

Gelombang panas ekstrem terus memicu rekor suhu di Eropa Barat.

Diterbitkan 26 Juni 2026, 09:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Inggris dan Swiss mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni pada Kamis (25/6/2026), di tengah gelombang panas ekstrem yang diperparah oleh krisis iklim di Eropa.

Di Inggris, suhu mencapai 36,4 derajat Celsius di Yeovilton, Somerset. Angka tersebut melampaui rekor sehari sebelumnya, yakni 36,1 derajat Celsius di Gosport, Hampshire, sekaligus memecahkan rekor sebelumnya, 35,6 derajat Celsius, yang tercatat di Southampton pada 1976.

Di Swiss, badan meteorologi nasional MeteoSuisse melaporkan suhu untuk pertama kalinya melampaui 37 derajat Celsius pada bulan Juni, memecahkan rekor yang bertahan sejak 1947. Demikian seperti dilaporkan The Guardian.

MeteoSuisse juga menyatakan suhu 38 derajat Celsius tercatat di stasiun cuaca Basel, lokasi yang sama dengan pencatatan rekor pada 1947.

Sebelumnya pada Kamis, Met Office melaporkan Cardiff mencatat malam terpanas yang pernah terjadi pada bulan Juni. Suhu di ibu kota Wales itu hanya turun hingga 23,5 derajat Celsius pada malam hari, menjadi suhu minimum tertinggi yang pernah tercatat pada bulan Juni.

Gelombang panas juga melanda sebagian besar Eropa Barat. Menurut kantor berita Agence France-Presse, sedikitnya 101 juta orang diperkirakan mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius pada Kamis.

Para ilmuwan menyatakan gelombang panas kini menjadi lebih parah dan lebih sering terjadi akibat polusi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil. Mereka memperkirakan suhu ekstrem yang saat ini melanda Eropa berada sekitar 2 hingga 4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan jika tidak dipengaruhi perubahan iklim.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mencatat lebih dari 10.000 orang meninggal di Inggris akibat gelombang panas selama musim panas periode 2020 hingga 2024.

UKHSA memperpanjang peringatan merah kesehatan akibat gelombang panas selama 24 jam hingga pukul 23.00 waktu setempat pada Jumat (26/6). Menurut lembaga tersebut, ini merupakan kali kedua peringatan merah dikeluarkan.

Met Office juga memperpanjang peringatan merah untuk wilayah tenggara Inggris hingga pukul 21.00 waktu setempat pada Jumat.

Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim Simon Stiell mengatakan gelombang panas yang melanda Eropa merupakan dampak dari polusi bahan bakar fosil.

"Gelombang panas ekstrem akan terus memburuk dan dampak perubahan iklim lainnya—mulai dari kekeringan besar, banjir, kebakaran hutan hingga badai—akan terus menghantam setiap perekonomian dan masyarakat dengan semakin keras setiap tahun," kata Stiell.

Ia mengatakan pemanasan global tidak akan berhenti hingga emisi karbon mencapai nol bersih (net zero). Namun, emisi karbon global justru meningkat pada 2025. 

 

 

Target Emisi dan Adaptasi Iklim

Parlemen Inggris pada Rabu menyetujui target yang mengikat secara hukum untuk memangkas emisi sebesar 87 persen pada 2040. Target tersebut direkomendasikan oleh Komite Perubahan Iklim, yang pada Mei menyatakan infrastruktur Inggris dibangun untuk menghadapi kondisi iklim yang "sudah tidak lagi ada" dan perlu segera ditingkatkan untuk melindungi masyarakat dari dampak krisis iklim.

Gelombang panas pekan ini menyebabkan banyak sekolah ditutup dan perjalanan kereta dibatalkan di Inggris. Kondisi tersebut juga diperburuk oleh tingkat kelembapan yang tinggi.

National Education Union mendesak pemerintah menyusun jadwal penyediaan pendingin ruangan di sekolah-sekolah, yang hingga kini belum diterapkan secara merata di seluruh Inggris.

Wali Kota London Sadiq Khan pada Kamis meluncurkan rencana penanganan gelombang panas pertama di kota tersebut.

"Suhu ekstrem bukan lagi ancaman di masa depan, tetapi bahaya yang dihadapi saat ini," kata Khan.

Rencana tersebut mencakup renovasi rumah yang paling berisiko mengalami panas berlebih, penambahan tutupan pohon, serta penyediaan akses yang aman ke lokasi bermain air dan berenang.

Sebuah studi pada 2025 menemukan proporsi rumah di Inggris yang mengalami panas berlebih pada musim panas meningkat empat kali lipat dalam satu dekade hingga mencapai 80 persen.