Tak Hanya Pengalaman, Penampilan dan Bahasa Tubuh Jadi Kunci Lolos Wawancara Kerja

Riset menunjukkan 51% perekrut pernah menolak pelamar akibat penampilan. Simak bagaimana pakaian bisa mendongkrak rasa percaya diri.

Diterbitkan 07 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meskipun pengalaman dan pencapaian akademik sangat penting saat melamar kerja, riset menunjukkan bahwa penampilan juga tak kalah menentukan. Dalam sebuah penelitian di Inggris pada tahun 2020, sebanyak 51% perekrut mengakui pernah menolak kandidat berdasarkan penampilan mereka, seperti pakaian yang berantakan atau rambut yang dicat tidak rapi.

Melansir BBC, Jumat (7/8/2026), Profesor SDM University of Buffalo, Min-Hsuan Tu, menekankan bahwa penilaian dalam wawancara kerja bisa saja terjadi sejak detik pertama pelamar melangkah masuk ke ruangan.

Ia menjelaskan bahwa orang yang berpenampilan menarik cenderung lebih mudah diterima karena secara tidak sadar orang lain menghubungkan penampilan menarik dengan sifat positif, seperti dapat dipercaya dan pintar.

"Individu yang dianggap menarik kemungkinan telah mendapat perhatian positif dan perlakuan baik sejak masa kecil, yang mengasah kemampuan komunikasi nonverbal mereka sejak dini," ujar Tu. Alhasil, mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri.

"Studi menunjukkan bahwa orang yang menarik memiliki kemampuan komunikasi dan bersosialisasi yang lebih baik. Mereka juga memiliki rasa percaya diri yang tinggi," tuturnya.

Namun, penampilan fisik yang menarik tidak melulu soal bentuk wajah atau tubuh, melainkan juga mencakup pakaian dan riasan wajah. Berusaha untuk tampil rapi dan menarik adalah hal yang sangat penting menurut Tu.

 

Kesan Pertama Lewat Pakaian

Sebagai contoh, Taya Reed (23), seorang lulusan sains dari salah satu universitas papan atas di London, berusaha melamar di sebuah perusahaan fashion. Ia sadar bahwa kesan pertama sangat krusial dan cara berpakaian menjadi kunci utamanya.

"Saya rasa pakaian bisa menjadi pembuka percakapan yang menarik," ujarnya. Saat wawancara, ia mengenakan pakaian serba putih dipadu rok panjang, rompi putih, dan sepatu balet yang memberikan kesan feminim ala musim panas.

"Saya ingin menunjukkan bahwa saya cocok dengan budaya perusahaan ini," kata Reed. Cara ini terbukti efektif karena ia berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut.

Contoh lainnya adalah Matt Cohen (31), warga Amerika Serikat yang pindah ke London dua tahun lalu. Memiliki gelar magister pemasaran, ia berhasil mendapatkan pekerjaan eksekutif di perusahaan media setelah satu tahun melamar dan mengirim sekitar 100 surat lamaran (cover letter).

Saat wawancara, Cohen memilih mengenakan kemeja lengan panjang, meskipun karyawan di perusahaan tersebut terbiasa mengenakan kaus.

"Saya harus tampil profesional, terutama untuk menunjukkan bahwa saya siap jika sewaktu-waktu harus bertemu dengan klien," ujarnya. Ia juga mencukur janggutnya dan memastikan rambutnya dipotong rapi.

 

Menguasai Sinyal Nonverbal dan Mengendalikan Stres

Selain penampilan luar, Cohen juga menguasai sinyal nonverbal. "Saya berusaha menjaga kontak mata dan mengangguk saat mendengarkan untuk menunjukkan bahwa saya menyimak," tutur Cohen.

Ia juga membagikan teknik khusus yang membantunya mengurangi tingkat stres sekaligus menjalin koneksi dengan pewawancara.

"Saya berpura-pura seakan-akan mereka sudah menjadi teman saya dan telah menawarkan pekerjaan tersebut, jadi wawancara ini hanya untuk menyelesaikan detailnya saja," kata Cohen. "Saya mencari titik nyamannya dan cara ini biasanya berhasil. Saya berusaha terlihat memegang kendali," simpulnya.

Seorang pelatih karier asal London, Caroline Hickey, yang menasihati Reed dan Cohen, sepakat bahwa penampilan sangat penting, terutama di lapangan pekerjaan yang kompetitif.

"Menjaga penampilan dan tampil profesional adalah sinyal bawah sadar bagi perekrut bahwa Anda serius mengambil peluang ini," ujar Hickey. Perekrut juga jadi lebih mudah membayangkan Anda bekerja di kantor mereka maupun berhadapan dengan klien. Ia menambahkan, saat seseorang merasa berpenampilan baik, percaya dirinya otomatis akan meningkat.

 

Tetap Rapi Meski Wawancara Daring

Madeline Drucker (21) menyetujui hal tersebut. Ia berhasil mendapatkan dua tawaran magang melalui wawancara rekaman video.

"Saya bersiap seakan-akan melakukan wawancara tatap muka. Saya menata rambut, merias wajah, mengenakan pakaian rapi, dan memastikan latar belakang rekaman rapi serta diburamkan agar perekrut fokus kepada saya," kata Drucker.

"Saat merasa berpenampilan bagus, saya jadi lebih percaya diri dan kinerja saya lebih baik," katanya. Hal ini sangat penting dalam panggilan video yang terkadang lebih sulit untuk menjalin koneksi antarpribadi.

Ia memilih pakaian berwarna hijau serta memakai cincin dan gelang yang bisa dimainkan di luar layar untuk menenangkan diri. "Saya orang yang mudah gelisah, dan gelang ini sangat membantu," tutur Drucker.

Sementara bagi Taya Reed, bagian dari persiapannya adalah melakukan pernapasan dalam-dalam di taman terdekat sebelum memasuki ruang wawancara tatap muka.

"Saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap santai, meskipun di dalam hati merasa stres. Saya sangat senang semuanya berjalan lancar," ucap Reed.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6