Israel Lancarkan Serangan ke Lebanon, 4 Orang Tewas Termasuk Anak-anak

Selain anak-anak, serangan Israel ke Lebanon juga menewaskan petugas keamanan.

Diterbitkan 10 Februari 2026, 12:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beirut - Serangan militer Israel di Lebanon selatan pada Senin (9/2/2026) menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk seorang anggota pasukan keamanan Lebanon dan anaknya yang berusia tiga tahun.

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah tentara Israel menangkap seorang anggota kelompok Islamis Jamaa Islamiya, memicu kecaman keras dari pemerintah Lebanon, dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (10/2).

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa tiga korban tewas dalam serangan udara Israel di desa Yanuh, wilayah selatan negara itu. Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan Ahmad Ali Salameh, yang disebut sebagai kepala unit artileri Hizbullah dan dituduh berupaya memulihkan kemampuan militer kelompok tersebut.

Namun, Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan bahwa serangan itu juga menewaskan seorang anggota pasukan keamanan Lebanon serta anaknya yang masih balita, yang kebetulan melintas di lokasi kejadian. Militer Israel mengatakan insiden tersebut “sedang ditinjau” setelah muncul klaim bahwa warga sipil yang tidak terlibat turut menjadi korban.

Beberapa jam kemudian, Kementerian Kesehatan Lebanon kembali melaporkan satu korban tewas akibat tembakan Israel di desa perbatasan Aita al-Shaab. Militer Israel mengklaim korban merupakan anggota Hizbullah yang dituduh mengumpulkan informasi intelijen tentang pasukan Israel dan terlibat dalam upaya rehabilitasi infrastruktur militer Hizbullah di Lebanon selatan.

Serangan terbaru ini terjadi di tengah gencatan senjata yang disepakati pada November 2024 untuk mengakhiri lebih dari satu tahun permusuhan antara Israel dan Hizbullah. Meski demikian, Israel masih secara rutin melancarkan serangan ke wilayah Lebanon dan mempertahankan pasukan di lima titik perbatasan yang dinilainya strategis.

 

Ketegangan Meningkat

Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Jamaa Islamiya, sekutu Hamas, menuduh Israel menculik salah satu pejabatnya, Atwi Atwi, dari rumahnya di distrik Hasbaya, Lebanon selatan, dan membawanya ke lokasi yang tidak diketahui. Militer Israel membenarkan penangkapan tersebut, menyebut Atwi sebagai “teroris senior” yang kemudian dipindahkan ke wilayah Israel untuk diinterogasi.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam keras penangkapan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon, perjanjian gencatan senjata, dan hukum internasional. Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah Salam menyelesaikan kunjungan dua hari ke wilayah selatan Lebanon yang rusak parah akibat konflik dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.

Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil langkah tegas di tingkat politik, diplomatik, dan hukum guna melindungi warga negara. Lebanon juga menuding Israel telah menculik sejumlah warga sejak gencatan senjata berlaku. Seorang anggota parlemen Hizbullah, Hussein al-Haj Hassan, mengatakan Israel saat ini menahan sekitar 20 warga Lebanon, dengan setidaknya 10 orang di antaranya diduga diculik dari wilayah Lebanon setelah gencatan senjata.

Pemerintah Lebanon menuntut Israel membebaskan para tahanan tersebut, menarik pasukan dari posisi perbatasan yang masih ditempati, serta menghentikan serangan udara di wilayahnya.