Cuma dengan Tidur, Alat Bantu AI Ini Bisa Prediksi Risiko Penyakit Seseorang

Penyakit apa saja yang bisa terdeteksi dari dengan alat bantu AI ini?

OlehDW
Diterbitkan 29 Januari 2026, 18:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

, Jakarta - Hanya dengan tidur satu malam di laboratorium, di mana sinyal fisiologis direkam, sebuah model kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) baru bisa memperkirakan risiko seseorang terhadap sekitar 130 penyakit di masa depan.

Risiko ini termasuk penyakit Parkinson, demensia, penyakit jantung, hingga kanker prostat dan payudara, dikutip dari laman DW Indonesia, Kamis (29/1/2026).

SleepFM bisa membuat prediksi ini bertahun-tahun sebelum gejala pertama muncul, kata James Zou, profesor ilmu data biomedis di Universitas Stanford di Amerika Serikat sekaligus salah satu penulis utama studi SleepFM, yang diterbitkan awal Januari di jurnal Nature Medicine.

SleepFM dilatih menggunakan hampir 600.000 jam data tidur dari 65.000 orang. Studi dan pengukuran tidur ini disebut polisomnografi, yang menggunakan berbagai sensor untuk mengukur gelombang otak, aktivitas jantung, pernapasan, ketegangan otot, serta gerakan mata dan kaki saat pasien tidur.

Untuk SleepFM, tim peneliti menggunakan data yang sebagian besar dikumpulkan dari Sleep Medicine Center Universitas Stanford di California, AS.

AI Dilatih dengan Data Tidur

Pertama, SleepFM diperlihatkan sinyal dari otak, jantung, dan tubuh saat tidur normal, dengan rata-rata “normal” dihitung secara statistik.

Setelah itu, SleepFM diajarkan tentang berbagai tahap tidur, termasuk sleep apnea, yaitu gangguan di mana pernapasan berhenti dan mulai berulang kali saat tidur. Para peneliti kemudian menghubungkan data tidur ini dengan catatan kesehatan elektronik selama 25 tahun terakhir, untuk melihat bagaimana diagnosis kesehatan di masa depan berkorelasi dengan pengukuran polisomnografi.

Pola Data

SleepFM kemudian mampu mendeteksi pola dalam data, dan dari sekitar 1.000 penyakit yang mungkin, berhasil mengidentifikasi 130 penyakit yang bisa diprediksi dengan akurasi sedang hingga tinggi menggunakan data tidur.

“Hasil kami menunjukkan bahwa banyak kondisi, termasuk strok, demensia, gagal jantung, hingga berbagai penyebab kematian, dapat diprediksi dengan baik dari data tidur, semakin memperkuat potensi tidur sebagai biomarker yang kuat untuk kesehatan jangka panjang,” kata Rahul Thapa, mahasiswa doktoral di ilmu data biomedis dan salah satu penulis utama studi tersebut.

“Secara prinsip, model AI bisa dilatih untuk jumlah prediksi yang sangat besar, asalkan data dasarnya tersedia,” kata Sebastian Buschjäger, pakar machine learning dari Technical University Dortmund, Jerman, yang sedang mengerjakan proyek tidur bernama Sleepwalker di Jerman. Project ini tidak terlibat dalam proyek SleepFM di AS.

Kombinasi Sinyal Tubuh yang Paling Informatif

Analisis menggunakan algoritma canggih menunjukkan bahwa sinyal jantung saat tidur bisa membantu memprediksi penyakit kardiovaskular, sementara sinyal otak lebih penting untuk penyakit neurologis dan psikologis di masa depan. Namun, hasil paling informatif justru muncul dari kombinasi berbagai sinyal tersebut.

Contohnya, ketika aktivitas listrik otak menunjukkan tidur stabil, tetapi jantung tampak lebih “terjaga.” Ketidaksesuaian antara sinyal otak dan jantung seperti ini bisa menjadi indikasi adanya tekanan fisik tersembunyi akibat penyakit awal, jauh sebelum gejala terlihat.