28 Januari 1986: Pesawat Ulang-Alik Milik AS Meledak Usai Lepas Landas, 7 Astronot Tewas

Ledakan terjadi 73 detik setelah pesawat lepas landas.

Diterbitkan 28 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Pesawat ulang-alik Amerika Serikat bernama Challenger meledak tak lama setelah lepas landas, menewaskan ketujuh awak di dalamnya, termasuk guru pertama yang dijadwalkan pergi ke ruang angkasa.

Ledakan terjadi hanya 73 detik setelah peluncuran dari Kennedy Space Center, menandai salah satu bencana paling memilukan dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa AS.

Korban terdiri dari lima pria dan dua wanita. Di antara mereka adalah Christa McAuliffe, guru sekolah berusia 37 tahun yang terpilih dari lebih dari 10.000 peserta untuk menjadi guru pertama di ruang angkasa, dikutip dari laman BBC News, Rabu (28/1/2026).

Komandan pesawat adalah Dick Scobee, 46 tahun, yang memimpin misi ke-25 pesawat ulang-alik tersebut.

Keluarga para astronot berada di pangkalan udara saat bencana terjadi, dan jutaan warga Amerika menyaksikan ledakan secara langsung melalui siaran televisi nasional. Puing-puing yang berjatuhan ke laut membuat upaya penyelamatan tidak bisa dilakukan selama lebih dari satu jam.

Tragedi ini menggandakan jumlah korban jiwa dalam sejarah 25 tahun eksplorasi ruang angkasa Amerika. Presiden Ronald Reagan menggambarkan peristiwa itu sebagai “kerugian nasional” dan langsung memerintahkan penyelidikan resmi.

Meskipun tragedi terjadi, Presiden menegaskan bahwa program ruang angkasa akan tetap berlanjut untuk menghormati keberanian para astronot. Wakil Presiden George Bush dikirim ke Cape Canaveral untuk mendampingi keluarga korban.

 

Sempat Ditunda Lantaran Cuaca Buruk

Peluncuran Challenger sebenarnya telah beberapa kali ditunda karena kondisi cuaca buruk, termasuk angin kencang dan pembentukan es, dari tanggal 22 Januari hingga hari tragedi.

Namun, pejabat NASA menegaskan keselamatan awak tetap menjadi prioritas, dan tidak ada tekanan untuk melakukan peluncuran.

Sebelum lepas landas, McAuliffe berbicara kepada media tentang misinya: “Salah satu hal yang ingin saya bawa kembali ke ruang kelas adalah membuat hubungan dengan para siswa bahwa mereka juga merupakan bagian dari sejarah. Program ruang angkasa adalah milik mereka dan untuk mencoba membesarkan mereka dengan era ruang angkasa.”

Malam itu, Presiden Reagan tampil di televisi nasional memberikan penghormatan kepada ketujuh awak.

“Kita tidak akan pernah melupakan mereka, juga tidak akan pernah melupakan saat terakhir kita melihat mereka pagi ini ketika mereka bersiap untuk perjalanan mereka, melambaikan tangan perpisahan, dan melepaskan diri dari ikatan bumi yang keras untuk menyentuh wajah Tuhan,” ujarnya.

Bencana Challenger menjadi peringatan pahit bagi bangsa Amerika tentang risiko tinggi eksplorasi ruang angkasa, namun juga menegaskan tekad pemerintah untuk melanjutkan program ini, sekaligus menghormati dedikasi dan keberanian para astronot yang gugur.