Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles Sebut Trump Punya Kepribadian Seperti Pecandu Alkohol

Apa dasar tuduhan yang dilontarkan Susie Wiles terhadap Trump?

Diterbitkan 17 Desember 2025, 12:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles melontarkan serangkaian pernyataan blakblakan mengenai Presiden Amerika Serikat Donald Trump, agenda masa jabatan keduanya, serta sejumlah sekutu terdekat presiden dalam wawancara panjang dengan majalah Vanity Fair yang terbit Selasa (16/12/2025) waktu setempat.

Dalam lebih dari 10 sesi wawancara selama setahun terakhir dengan penulis Chris Whipple, Wiles menyampaikan penilaian yang jarang terdengar dari pejabat setinggi dirinya.

Ia menggambarkan Trump memiliki “kepribadian seorang pecandu alkohol,” meski presiden dikenal tidak mengonsumsi minuman keras, dikutip dari CNN, Rabu (17/12).

Menurut Wiles, banyak keputusan Trump pada periode kedua pemerintahannya juga dipengaruhi oleh dorongan balas dendam politik.

Wiles secara terbuka mengakui bahwa sejumlah langkah pemerintahan Trump dapat dipersepsikan sebagai tindakan pembalasan terhadap lawan politik.

Menanggapi pertanyaan soal kegagalan penuntutan terhadap mantan Direktur FBI James Comey, ia mengatakan, “Orang-orang mungkin berpikir itu terlihat seperti balas dendam. Saya tidak bisa memberi tahu Anda mengapa Anda tidak boleh berpikir demikian.”

Ia menambahkan, Trump tidak selalu memulai hari dengan niat membalas dendam, namun akan memanfaatkannya ketika ada peluang. “Ketika ada kesempatan, dia akan mengambilnya,” kata Wiles.

Komentar tersebut menjadi sorotan karena Wiles selama ini dikenal sebagai figur yang tertutup dan berhati-hati. Berbeda dengan para kepala staf pada masa jabatan pertama Trump, ia dipandang berhasil menjaga stabilitas internal Gedung Putih dan mempertahankan kepercayaan presiden dengan tidak secara terbuka membatasi dorongan Trump.

Trump sendiri kerap menyebut Wiles sebagai “wanita paling berkuasa di dunia,” mengisyaratkan besarnya pengaruh kepala stafnya dalam urusan pemerintahan. Namun, pernyataan publik Wiles selama masa jabatan kedua Trump terbilang minim, sehingga wawancaranya dengan Vanity Fair dinilai tidak lazim.

Menanggapi publikasi artikel tersebut, Wiles menyatakan bahwa ucapannya telah diambil di luar konteks. Dalam unggahan di platform X, ia menyebut artikel itu sebagai “serangan yang dibuat-buat” terhadap dirinya, presiden, serta jajaran kabinet. “Konteks penting diabaikan dan banyak pernyataan positif tentang presiden dan tim kami dihilangkan,” tulisnya.

 

Pujian Trump untuk Susie Wiles

Trump menanggapi secara singkat. Dalam wawancara dengan New York Post, ia mengatakan tidak membaca artikel tersebut, namun tetap memuji kinerja Wiles.

“Dia telah melakukan pekerjaan yang fantastis,” ujar Trump, seraya mengakui bahwa dirinya memiliki “kepribadian yang posesif dan adiktif.”

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt turut membela Wiles. Ia menyatakan Trump “tidak memiliki penasihat yang lebih hebat atau lebih setia” dibandingkan kepala stafnya itu, serta menegaskan bahwa pemerintahan sepenuhnya mendukung kepemimpinan Wiles.

Chris Whipple membela laporannya dalam wawancara dengan CNN, menegaskan bahwa seluruh wawancara direkam dan disajikan secara kontekstual. “Mereka belum mampu membantah satu pun fakta,” katanya.

Dalam wawancara tersebut, Wiles juga menyinggung sejumlah isu sensitif lainnya. Ia mengakui Trump tidak memiliki bukti atas tuduhannya bahwa mantan Presiden Bill Clinton pernah mengunjungi pulau milik terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. “Presiden salah tentang itu,” ujarnya.

Ia juga melontarkan kritik terhadap beberapa tokoh kunci pemerintahan. Wakil Presiden JD Vance disebutnya pernah menjadi “penganut teori konspirasi selama satu dekade,” sementara miliarder teknologi Elon Musk digambarkan sebagai sosok “sangat aneh,” meski diakui sebagai jenius. Wiles mengaku terkejut atas peran Musk dalam pembubaran Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).

 

Penanganan Sejumlah Masalah di Pemerintahan Trump

Terhadap Jaksa Agung Pam Bondi, Wiles menilai penanganan berkas Epstein sebagai sebuah kegagalan serius. Ia menyebut tidak ada “daftar klien” seperti yang sebelumnya disinggung Bondi. Bondi kemudian membela Wiles dan menyebut pemerintahan Trump sebagai “satu keluarga” yang solid.

Wiles juga mengungkapkan perbedaan pandangan kebijakan dengan presiden, termasuk soal deportasi dan rencana terhadap Venezuela.

Ia mengatakan Trump ingin terus menekan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, bahkan melalui opsi militer, meski mengakui bahwa langkah tersebut memerlukan persetujuan Kongres.

Serangkaian pernyataan Wiles itu menambah dinamika politik di Washington, sekaligus membuka tabir perdebatan internal di lingkar kekuasaan Gedung Putih pada masa jabatan kedua Donald Trump.