Ibu Kota India Diduga Manipulasi Data Kualitas Udara untuk Menyembunyikan Tingkat Polusi

Seperti apa dugaan manipulasi yang dilaporkan terjadi di ibu kota India? Berikut selengkapnya.

Diterbitkan 04 Desember 2025, 07:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New Delhi - Setiap tahun, bulan Oktober datang ke ibu kota India disertai asap beracun, menyelimuti langit kota dan membuat warganya batuk-batuk.

Tahun 2025 pun sama, namun kali ini disertai perkembangan baru yang tidak kalah mengkhawatirkan: muncul keraguan terhadap keakuratan bacaan polusi di New Delhi, yang merusak kredibilitas data dan berpotensi menghambat upaya memerangi polusi.

Pemerintah New Delhi dituduh menyemprotkan air di sekitar stasiun pemantau kualitas udara untuk menurunkan angka bacaan yang buruk, bahkan mematikan alat-alat tersebut pada periode polusi tinggi—misalnya saat ledakan petasan selama Diwali pada bulan Oktober menambah beban polusi kota.

Indeks Kualitas Udara (AQI) India menetapkan bahwa polusi masuk kategori "parah", tingkat keenam sekaligus yang terburuk, ketika angkanya berada pada rentang 400–500. Sebaliknya, kualitas udara dinilai "baik" jika berada di kisaran 0–50.

Para pengkritik mengatakan bahwa menurunkan angka polusi secara artifisial membuat seolah-olah kampanye kota melawan polusi berjalan dengan baik, sehingga menutupi kegagalan pemerintah menangani masalah tersebut.

"Seakan-akan pada akhirnya tidak ada kemauan politik (untuk mengatasi polusi)," kata Vimlendu Jha, seorang aktivis lingkungan berbasis di New Delhi, kepada The Straits Times (ST) dalam sebuah aksi protes pada 18 November yang menyoroti meningkatnya polusi. "Mungkin lebih mudah mengelola persepsi daripada mengelola polusi."

ST melaporkan pihaknya menyaksikan dugaan manipulasi data tersebut di stasiun pemantau polusi di kawasan Jahangirpuri, New Delhi, pada 21 November.

Sebuah truk penyemprot air berkeliling berkali-kali di area kampus Industrial Training Institute (ITI) yang rindang—lokasi alat pemantau itu berada—menyemprotkan air bukan hanya di sekitarnya, tetapi juga ke arah peralatan tersebut.

Jumlah PM2.5—partikel sangat halus yang menjadi komponen utama polusi udara—yang tercatat di stasiun itu hari tersebut adalah 180 mikrogram per meter kubik, lebih dari 10 kali lipat batas harian yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Polutan berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan merusak fungsinya seiring waktu.

Staf yang bertugas dengan truk tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan, mengatakan kepada ST bahwa mereka telah bertugas di lokasi itu selama lebih dari sebulan, bekerja 16 jam sehari dan menyemprotkan sekitar 28.000 liter air setiap hari di kawasan tersebut. Rutinitas ini mencakup empat putaran per hari menggunakan truk berkapasitas 7.000 liter dan sesi penyemprotan khusus selama 10 menit di area kampus pada setiap putaran.

Sunil Dahiya, pendiri sekaligus analis utama di EnviroCatalysts, sebuah lembaga kajian berbasis di New Delhi, menjelaskan kepada ST bahwa penyemprotan seperti itu dapat menurunkan angka bacaan polusi karena air membantu menjatuhkan polutan di udara sekitar alat pemantau. Selain itu, penyemprotan meningkatkan kelembapan udara, membuat partikel polutan saling menempel, menjadi lebih berat, dan turun lebih cepat.

"Dengan dua cara itu, bacaan yang direkam stasiun pemantau akan lebih rendah," ujarnya.

Media India melaporkan adanya praktik penyemprotan di setidaknya tiga stasiun pemantau di Delhi.

"Ini berarti bacaan polusi di stasiun-stasiun tersebut dan bahkan rata-rata polusi kota akan sedikit lebih rendah dibanding jika praktik ini tidak dilakukan," tambah Dahiya.

Pemerintah juga dituduh memanipulasi data dengan mematikan stasiun pemantauan selama fase polusi puncak atau tidak mempublikasikan datanya.

 

 

 

 

 

 

Dibantah Otoritas Setempat

Para pejabat pemerintah menepis tuduhan manipulasi data dan menyebutnya sebagai serangan yang bermotif politik. Mereka juga berargumen bahwa penyemprotan air dilakukan di berbagai penjuru kota, bukan hanya di sekitar stasiun pemantau.

Dugaan manipulasi menarik perhatian Mahkamah Agung. Pada 17 November, pengadilan meminta pemerintah Delhi menyerahkan pernyataan resmi di bawah sumpah mengenai jenis dan efektivitas peralatan pemantau polusi yang digunakan.

Sementara itu, pemerintah kota mengklaim bahwa New Delhi mencatat paruh pertama bulan November yang paling bersih dalam tiga tahun. Rata-rata AQI harian pada periode itu adalah 348, lebih rendah dibanding 367 pada 2024 dan 376 pada 2023.

Klaim ini mungkin tidak terlalu dipikirkan oleh sebagian besar warga karena sebuah survei pada Oktober menunjukkan bahwa 87 persen penduduk Delhi dan sekitarnya memiliki sedikit atau bahkan tidak percaya terhadap data kualitas udara dari pemantau milik pemerintah.

Padahal, data yang akurat sangat penting untuk memahami tingkat dan jenis polusi di Delhi, serta melindungi kesehatan masyarakat. Ini karena berbagai peringatan publik dikeluarkan berdasarkan tingkat keparahan polusi.

New Delhi menerapkan Graded Response Action Plan (GRAP), sebuah mekanisme terstruktur yang mewajibkan pembatasan yang semakin ketat seiring meningkatnya polusi udara pada setiap tingkat klasifikasi AQI. Pada tingkat GRAP4—kategori paling parah—kegiatan konstruksi harus dihentikan dan truk dilarang memasuki New Delhi kecuali membawa barang-barang penting. Pembatasan lain, seperti sekolah daring dan kebijakan bekerja dari rumah, juga diberlakukan.

Bhavreen Kandhari, aktivis udara bersih di Delhi, mengatakan bahwa pemerintah kota mungkin memanipulasi data polusi untuk menghindari penerapan GRAP4, yang dapat memengaruhi kegiatan ekonomi.

"Mereka memang mengejar tujuan yang benar, tetapi caranya tidak benar," ujarnya.

 

Â