Orang Kaya India Makin Banyak Beri Donasi untuk Sains

Konglomerat India mulai donasi dan investasi dalam bidang sains dan pengembangan institusi dari sebelumnya di bidang teologi.

Diterbitkan 10 Juli 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ahli menilai, orang kaya di India mulai peduli untuk memberikan donasi di bidang ilmu pengetahuan atau sains. Hal ini dinilai menjadi titik balik lantaran sebelumnya kegiatan filantrofi diprioritaskan untuk ilmu teologi sehingga didonasikan ke kuil dan organisasi religius.

Fisikawan India-Amerika, penerima penghargaan Wolf Prize 2025, Jainendra Jain menerima panggilan telepon mengejutkan terkait investasi dari seorang konglomerat properti India pada tahun lalu. 

Mengutip BBC pada Jumat (10/7/2026), sosok yang terkenal karena riset fisika kuantumnya yang revolusioner itu menerima panggilan dari pemilik Lodha Group, Abhishek Lodha. Konglomerat yang telah mencetak nama di berbagai proyek, termasuk Trump Tower itu meminta profesor Penn State University untuk menjadi direktur pendiri lembaga fisika teoritis baru.

“Saya terkejut seseorang yang membangun gedung pencakar langit bisa tiba-tiba tertarik untuk investasi dalam sains fundamental. Hal ini wajar bagi orang-orang kaya di AS, tapi lain halnya di India,” ujar Jain kepada BBC pada akhir Mei pada peluncuran Lodha Theoretical Physics Institute.

Beberapa minggu setelahnya, keturunan salah satu dinasti bisnis tertua di India, Rajiv Bajaj, meluncurkan program beasiswa terbesar untuk perempuan. Program tersebut bergerak dalam  bidang teknik inti, di mana peneliti perempuan akan menerima biaya pendidikan di universitas terpilih sebesar 800 ribu rupee atau US$ 8.411. Nilai itu setara Rp 151,8 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.055).

Menurut pandangan ahli, tren ini merefleksikan kesadaran di antara kalangan atas sains dan daya saing nasional jangka panjang saling berkaitan.

Pergeseran Teologi ke Sains

India adalah negara yang memprioritaskan ilmu teologi dibanding ilmu sains dalam filantropinya, di mana hampir setengah donasi diberikan kepada kuil dan organisasi religius. Oleh karenanya, komitmen baru untuk perkembangan sains dan pembangunan institusi menjadi titik balik cara pandang kalangan atas India terhadap kedermawanan.

"Tidak ada negara hebat yang bertahan tanpa dasar sains mendalam. Kami percaya India menciptakan pemikir-pemikir hebat. Jadi, letak kekurangan bukanlah pada bakat, melainkan infrastruktur,” ujar Lodha.

Tren ini dipicu oleh “Inter-Gen (filantropis keluarga tradisional generasi terkini) dan Now-Gen (pencipta kekayaan baru),” pungkas co-founder Dasra, organisasi strategi filantropi, Neera Nundy.

"Kelompok ini lebih melek teknologi, berorientasi data, dan fokus pada hasil, yang sejalan dengan investasi dalam sains, inovasi, dan solusi berbasis riset," ia menambahkan.

Namun, Nundy menilai, kendati komitmen yang bernilai tinggi dan strategis, investasi filantropis dalam bidang sains di India tetap lebih kecil dibandingkan sektor pendidikan dan layanan kesehatan, yang terus mendominasi arus keseluruhan.

Mengingat pendapatan per kapita yang rendah dan prioritas pembangunan yang saling bersaing, hal ini tidak mengherankan. Penelitian di India juga terhambat oleh kurangnya sumber daya yang memadai.

 

 

Perubahan Krusial Terhadap Perkembangan India

Namun, ia menuturkan potensi pemberian donasi berbasis sains sangat signifikan.

"Diperkirakan keluarga saja akan memiliki potensi tambahan donasi sebesar US$ 14-US$ 15 miliar pada tahun fiskal 2030. Sejauh mana sains mendapat manfaat dari hal ini akan bergantung pada seberapa efektif ekosistem berkembang, khususnya dalam hal pembangunan institusi dan menciptakan jalur yang kredibel untuk investasi ilmiah skala besar dan jangka panjang," Nundy menambahkan.

Shaw menuturkan, sektor-sektor di mana inisiatif filantropi memiliki sinergi langsung dengan bisnis, seperti farmasi, harus memimpin.

"Perusahaan farmasi India tidak melakukan penelitian mutakhir. Tetapi peluang penciptaan nilai berikutnya bagi mereka terletak pada obat-obatan inovatif, yang membutuhkan lebih banyak pendanaan untuk lembaga penelitian."

Pengeluaran bruto India untuk penelitian dan pengembangan yang terpatok sebesar 0,6-0,7% dari Gross Domestic Product (GDP). Angka ini jauh di bawah China, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, dengan sektor swasta yang hanya menyumbang sebesar 36%, dibandingkan negara-negara besar yang mencapai angka 70%.

Investasi pada sains dan perkembangan ini marak di titik krusial dalam tahap perkembangan India, di mana terdapat kekhawatiran India tertinggal dalam bidang inovasi terbaru, seperti Artificial Intelligence (AI) dan robotik. Lodha menuturkan, seiring perekonomian terbesar ketiga di Asia ini menapaki tangga pembangunan, tidak diragukan lagi hal ini akan terjadi.

"Ini adalah bentuk evolusi. Sebuah peradaban yang membutuhkan dongkrak dipertemukan dengan filantropi layanan, dan sekarang Anda akan melihat pergerakan menuju filantropi keunggulan," ujar Lodha.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6