Liputan6.com, Tokyo - Jepang mengecam seorang diplomat China atas pernyataan yang dianggap "sangat tidak pantas" dan diyakini ditujukan kepada Perdana Menteri Sanae Takaichi, setelah ia menyatakan bahwa Tokyo dapat mengambil tindakan militer jika Beijing menyerang Taiwan.
Dalam unggahan di platform X pada Sabtu (8/11/2025), Konsul Jenderal China di Osaka Xue Jian membagikan artikel berita tentang pernyataan Takaichi mengenai Taiwan dan menambahkan komentar, "Pihak yang ikut campur urusan orang lain harus disingkirkan."
Unggahan tersebut kemudian dihapus.
Advertisement
Beijing membela unggahan "pribadi" yang dibuat oleh utusannya itu di tengah meningkatnya perang kata-kata dengan pemimpin baru Jepang yang dikenal berhaluan keras, yang berpotensi memperkeruh hubungan antara dua rival bersejarah tersebut setelah periode ketenangan relatif.
Duta besar Amerika Serikat untuk Jepang seperti dikutip dari CNA juga ikut menanggapi, dengan mengatakan bahwa Xue telah mengancam Takaichi.
"Topengnya terbuka — lagi," tulis Duta Besar Amerika Serikat untuk Jepang George Glass di X, menambahkan bahwa komentar Xue merupakan ancaman terhadap Takaichi dan rakyat Jepang.
Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menyatakan bahwa meskipun maksud unggahan tersebut tidak sepenuhnya jelas, Xue telah membuat pernyataan yang tidak pantas dan Jepang telah berulang kali meminta Beijing untuk mengambil tindakan yang sesuai.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers rutin pada Senin (10/11), menyatakan bahwa unggahan Xue merupakan tanggapan atas pernyataan Takaichi yang salah dan berbahaya mengenai Taiwan. Ia mendesak Tokyo agar meninjau kembali dan menghadapi dengan serius tanggung jawab historisnya.
Sementara itu, juru bicara kantor kepresidenan Taiwan Karen Kuo mengatakan bahwa pihaknya menanggapi dengan serius pernyataan bernada ancaman yang dibuat oleh pejabat China terhadap Jepang.
"Perilaku seperti itu jelas melampaui etika diplomatik," kata Kuo.
"Mengancam Kelangsungan Hidup Jepang"
Takaichi menyampaikan kepada parlemen Jepang pada Jumat (7/11) bahwa serangan terhadap Taiwan — yang berjarak hanya sekitar 100 kilometer dari wilayah Jepang — dapat dianggap sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang, sebuah istilah hukum yang diperkenalkan pada tahun 2015 dan memungkinkan perdana menteri Jepang untuk mengerahkan Pasukan Bela Diri.
Hingga saat ini, para perdana menteri Jepang sebelumnya telah menghindari menyebut Taiwan secara langsung ketika membahas skenario yang dapat memicu respons militer.
Perselisihan diplomatik ini muncul kurang dari sebulan setelah Takaichi menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang dan kurang dari dua minggu setelah ia membuat Beijing marah dengan mengunggah foto pertemuannya dengan seorang perwakilan Taiwan dalam pertemuan regional di Seoul awal bulan ini.
Ia juga bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam kesempatan yang sama, di mana kedua pemimpin sepakat untuk mengejar hubungan yang konstruktif dan stabil.
Salah satu tindakan pertama Takaichi sebagai perdana menteri adalah mempercepat pembangunan pertahanan Jepang yang bertujuan untuk menghalangi ambisi militer China di Asia Timur.
Pada Senin (10/11), Takaichi mengatakan bahwa pernyataannya bersifat "hipotetis" dan ia akan menahan diri untuk tidak membuat komentar serupa lagi di parlemen.Â
Presiden Donald Trump belum lama ini mengklaim bahwa Presiden Xi telah memberitahunya ia tidak akan menyerang Taiwan selama Trump masih menjabat sebagai presiden. Trump sendiri sejauh ini belum menyetujui penjualan senjata baru apa pun kepada Taipei.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3341307/original/037033900_1609899603-cek_fakta_kosmetik_cega_covid-19.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320548/original/068244200_1786355298-cek_fakta_-_bansos_hut_ri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3372858/original/061241900_1612917784-Vaksin-Nakes-Lansia1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317472/original/091873000_1786014229-IMG_3312.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5391474/original/000288700_1761324598-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411723/original/069752100_1479709693-Jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409459/original/084990600_1479451750-Xi_Jinping.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319062/original/045273700_1786179594-pexels-tbd-traveller-2149583744-30770662.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1802978/original/038406000_1513333656-800px-Nagasakibomb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317989/original/046139200_1786083478-000_C3QU39L-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262853/original/066200900_1781850563-107139155-1666426301839-gettyimages-1243511682-AFP_32K492Z.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317410/original/067619500_1786010704-IMG_20260806_153815_639.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1881704/original/035883300_1518159850-Kim-Yo-Jong-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1671124/original/050547800_1502097528-Hiroshima6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4446821/original/055216700_1685431148-flag-gf0c737295_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303944/original/039795900_1784701533-Untitled.jpg)