Liputan6.com, Pyongyang - Pemerintah Amerika Serikat dan Korea Selatan menghentikan operasi sejumlah media yang selama ini menyiarkan informasi ke Korea Utara. Keputusan ini membuat puluhan ribu warga di negara paling tertutup di dunia itu kembali terputus dari kabar dunia luar.
"Ini sangat buruk bagi rakyat Korea Utara dan merupakan kemunduran besar bagi hak asasi manusia," ujar Kim Eu-jin, yang membelot dari Korea Utara pada 1990-an bersama ibu dan saudara perempuannya, dikutip dari laman Taiwan News, Selasa (4/10/2025).
"Pemerintah-pemerintah ini telah menolak hak rakyat Korea Utara untuk mengakses informasi. Sekarang satu-satunya yang akan mereka dengar hanyalah propaganda Pyongyang," katanya kepada DW.
Advertisement
Selama bertahun-tahun, warga Korea Utara yang berani mengambil risiko bisa mendengarkan Radio Free Asia (RFA) dan Voice of America (VOA) dari AS, serta siaran Voice of Freedom dari Korea Selatan. Aktivis menyebut siaran ini membantu warga memahami dunia di luar Korea Utara, sesuatu yang sangat ditakuti rezim.
Kim mengakui dirinya tidak pernah mendengar radio asing sebelum membelot karena risikonya terlalu besar. Rezim Pyongyang secara aktif memburu mereka yang mengakses media luar; sebagian dijatuhi kerja paksa, bahkan ada yang menghadapi hukuman mati.
Ia menegaskan bahwa ancaman terhadap mereka yang mencoba mengakses informasi asing semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Mengapa Siaran Dihentikan?
VOA mulai bungkam sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih awal tahun ini. Pemerintah baru memecat ratusan staf dan melalui perintah eksekutif membubarkan lembaga induk VOA, yakni US Agency for Global Media.
Pada akhir Agustus, pemerintah Korea Selatan turut menghentikan siaran Voice of Freedom setelah 15 tahun mengudara. Bahkan pengeras suara raksasa di perbatasan yang dulu memutar berita dan musik pop Korea Selatan juga telah dibongkar.
Seoul menyebut langkah itu sebagai upaya meredakan ketegangan dan membuka peluang dialog dengan Pyongyang — meski sejauh ini belum ada tanda Korea Utara bersedia bernegosiasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325090/original/085800900_1755927689-Untitled.jpg)
Ketidakpastian Pendanaan
Pada 29 Oktober, Rosa Hwang, editor eksekutif RFA, mengumumkan bahwa siaran mereka dihentikan sementara karena ketidakpastian pendanaan. Ini adalah kali pertama dalam 29 tahun sejarah RFA.
"Ruang redaksi gelap. Mikrofon dimatikan. Siaran terhenti. Penerbitan di media sosial dan situs web kami dibekukan," tulisnya. Ia menegaskan bahwa 26 juta warga Korea Utara kini kehilangan salah satu sumber informasi independen yang selama ini membantu mereka memahami dunia di luar propaganda rezim.
Situs analisis Korea Utara, 38 North, mengungkapkan bahwa siaran radio anti-rezim turun hingga 85% dan siaran televisi dari luar negeri kini sepenuhnya hilang. Meski sulit mengukur jangkauan siaran, para analis menilai besarnya upaya rezim untuk memblokirnya adalah bukti bahwa siaran tersebut sebenarnya cukup efektif.
Pandemi COVID-19 juga membuat penyelundupan USB dan kartu memori berisi konten asing semakin sulit. Sementara itu, undang-undang baru seperti Anti-Reactionary Thought and Culture Law yang disahkan pada 2020 menunjukkan betapa seriusnya Pyongyang menanggapi ancaman informasi luar.
Â
Advertisement
Keheningan yang Menguntungkan Rezim
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1589558/original/029708200_1494329884-170329_01_Focus.jpg)
Lim Eun-jung, profesor studi internasional di Universitas Nasional Kongju, menilai bahwa Pyongyang kemungkinan besar menyambut baik perkembangan ini.
"Dengan dihentikannya siaran, warga Korea Utara kini hanya memiliki akses ke media pemerintah. Mereka akan semakin tidak tahu apa pun tentang dunia luar," ujarnya kepada DW.
Lim memahami keinginan Korea Selatan untuk mencegah eskalasi dan membuka jalur komunikasi. Namun ia menilai langkah itu justru semakin mempersempit ruang informasi bagi masyarakat yang hidup dalam kondisi menyerupai penjara.
Kim, pembelot Korea Utara, mengatakan siaran asing kini memainkan peran jauh lebih penting dibanding saat ia melarikan diri tiga dekade lalu.
"Siaran-siaran itu mengajarkan hak asasi manusia dan memberi warga gambaran tentang arti kebebasan. Bagi sebagian orang, itu menjadi pendorong untuk membelot," katanya. "Saya tidak mengerti mengapa kita justru membantu rezim dengan mematikan siaran-siaran ini."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782154/original/031089800_1782878025-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-01T104708.110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493673/original/005478800_1770263148-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-05T103223.078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5449906/original/063102600_1766118428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-19T112523.408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2517373/original/056384700_1544154740-koreta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409540/original/032500600_1479454815-korea_utara.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4018641/original/010503200_1652184876-025430200_1652095595-20220509-Gelombang-Arus-Balik-via-Kereta-Api-Masih-Tinggi-IQBAL-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776150/original/042954000_1782857106-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1630299/original/099218000_1498026113-20170621-Drone-Milik-Korea-Utara-Jatuh-di-Korea-Selatan-AFP-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5313720/original/013816600_1755053631-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8440972/original/063692400_1782333943-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8402811/original/027823400_1782284937-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5504462/original/009512800_1771237713-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258680/original/053706900_1781401116-Folarin_Balogun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1884666/original/033449700_1518236836-Adik-Kim-Jong-Un2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3363106/original/087286500_1611910974-New_Project__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5034274/original/035323000_1733270905-Untitled.jpg)