Logam Tanah Jarang hingga Kedelai, Ini 6 Sorotan Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping

Tatap muka Trump dan Xi di Korea Selatan kemarin merupakan kali pertama sejak tahun 2019.

Diterbitkan 31 Oktober 2025, 11:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Donald Trump meninggalkan Bandara Busan di Korea Selatan pada Kamis (30/10/2025) sekitar pukul 13.07 waktu setempat setelah bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Presiden Amerika Serikat (AS) itu terdengar sangat optimistis mengenai hasil pembicaraan yang berlangsung kurang dari dua jam.

Trump menilai hasil pembicaraan setara dengan 12 dalam skala satu sampai 10 dan mengklaimnya menghasilkan serangkaian keputusan luar biasa. Ia menambahkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan dalam banyak hal penting yang sebelumnya menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Beijing.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Tiongkok menyebut Xi menilai hubungan antara Beijing dan Washington tetap stabil di bawah kepemimpinannya bersama Trump dan bahwa kedua negara memiliki prospek kerja sama yang baik ke depan.

Xi menekankan bahwa kedua pihak perlu memandang hubungan tersebut dengan perspektif jangka panjang dan menekankan manfaat dari kerja sama, bukan terjebak dalam lingkaran pembalasan yang saling merugikan.

Berikut enam sorotan dari pertemuan Trump dan Xi:

1. Logam Tanah Jarang

Salah satu topik paling penting dalam pertemuan adalah kebijakan ekspor logam tanah jarang yang baru-baru ini diumumkan Tiongkok. Kebijakan itu menetapkan larangan ekspor jika terdapat kemungkinan bahwa produk tersebut akan digunakan untuk kepentingan militer asing atau industri semikonduktor tertentu.

Tiongkok selama ini menguasai hampir seluruh penambangan dan pemrosesan logam tanah jarang di dunia. Kebijakan baru itu sempat memicu kekhawatiran global karena dapat mengganggu rantai pasok industri teknologi tinggi.

Trump menyatakan bahwa persoalan tersebut kini telah diselesaikan. Ia mengatakan bahwa dirinya telah membahas isu itu secara langsung dengan Xi, dan Tiongkok sepakat untuk tetap menjaga aliran pasokan logam tanah jarang ke pasar global. Menurut Trump, kedua negara akan menandatangani perjanjian pasokan selama satu tahun yang dapat diperpanjang setiap tahun.

"Semua urusan logam tanah jarang sudah selesai," ujarnya seperti dilansir The Guardian. "Rintangan itu sudah hilang sekarang, tidak ada hambatan sama sekali."

Kementerian Perdagangan Tiongkok tidak menyebut logam tanah jarang secara langsung dalam pernyataannya, tetapi kemudian menegaskan bahwa pengendalian ekspor yang diumumkan pada 9 Oktober akan ditangguhkan. Sebagai imbalannya, AS akan menangguhkan sebagian aturan kontrol ekspor yang membatasi penetrasi produk Tiongkok hingga 50 persen di pasar AS.

2. Tarif Turun Buntut Komitmen soal Fentanyl

Isu fentanyl turut menjadi perhatian utama dalam pembicaraan antara kedua pemimpin. Trump menyebut Xi berkomitmen untuk bekerja sangat keras menghentikan aliran bahan kimia prekursor yang digunakan untuk memproduksi obat terlarang itu.

"Saya rasa Anda akan melihat tindakan nyata dilakukan," tutur Trump kepada wartawan.

Sebagai bentuk respons atas komitmen itu, Trump mengumumkan pengurangan tarif dari 20 persen menjadi 10 persen terhadap sejumlah produk asal Tiongkok. Langkah itu dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi kerja sama konkret dalam memberantas peredaran fentanyl.

Kementerian Perdagangan Tiongkok membenarkan langkah tersebut. Mereka menyatakan bahwa Tiongkok akan menyesuaikan kebijakan tarif balasan sebagai bentuk timbal balik dan menunjukkan kesiapan untuk berkolaborasi lebih erat dalam mengatasi perdagangan ilegal obat-obatan.

Meski begitu, satu persoalan besar masih belum terselesaikan, yakni status "kesepakatan dagang tahap satu" yang pernah dicapai pada masa jabatan pertama Trump. Kesepakatan itu ditandatangani pada awal tahun 2020 dan berisi komitmen Tiongkok untuk meningkatkan pembelian barang dan jasa asal AS senilai USD 200 miliar per tahun, termasuk produk pertanian, energi, dan manufaktur.

Menurut pemerintah AS, target tersebut tidak pernah sepenuhnya terpenuhi. Karena itu, Washington kini melakukan penyelidikan ulang terhadap pelaksanaan kesepakatan untuk menilai sejauh mana Tiongkok telah memenuhi janji pembeliannya dan apakah pelanggaran itu berdampak pada keseimbangan perdagangan kedua negara.

3. Saling Kunjung

Trump mengonfirmasi bahwa ia akan melakukan kunjungan resmi ke Beijing pada April 2026, sebuah kunjungan yang telah lama direncanakan. Ia menyinggung pula kemungkinan kunjungan balasan oleh Xi ke AS, meskipun belum menentukan waktu dan lokasi pasti.

"Dia akan datang ke sini setelah itu, entah di Florida, Palm Beach, atau Washington DC," sebut Trump.

Dalam keterangan tertulisnya, pihak Tiongkok mengonfirmasi bahwa Trump berencana mengunjungi Beijing pada awal tahun depan, sementara Xi telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan kunjungan balasan ke AS.

 

4. Penjualan Chip

Dalam topik teknologi, Trump mengungkapkan bahwa dirinya dan Xi membahas kemungkinan pembelian chip buatan Nvidia oleh Tiongkok. Trump menekankan bahwa keputusan pembelian sepenuhnya berada di tangan Beijing, sementara AS akan bertindak sebagai "penengah atau wasit".

Ketika ditanya apakah ia akan mengizinkan penjualan chip AI terbaru Nvidia, seri Blackwell, ke Tiongkok, Trump menjawab tegas bahwa produk tersebut tidak termasuk dalam kesepakatan.

"Kita tidak membicarakan Blackwell … tapi banyak chip lainnya. Dan itu bagus untuk kita," ujarnya.

Chip Blackwell B30A merupakan generasi penerus dari H20 — chip yang dirancang khusus untuk pasar Tiongkok dengan performa yang dibatasi agar sesuai dengan aturan ekspor AS. Walaupun versi B30A juga dibatasi, kemampuannya tetap lebih tinggi daripada pendahulunya. Beberapa pihak di Washington telah menyuarakan kekhawatiran bahwa penjualan chip ini dapat memperkuat kemampuan teknologi Tiongkok di bidang kecerdasan buatan.

5. Bahas Ukraina, tapi Tidak Taiwan

Trump mengatakan bahwa perang di Ukraina menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraannya dengan Xi.

"Kami membicarakannya cukup lama dan kami berdua akan bekerja sama untuk melihat apakah kami bisa mencapai sesuatu," kata dia.

Namun, Trump juga menambahkan dengan nada santai, "Kedua pihak sedang bertempur sengit dan kadang Anda cuma bisa membiarkan mereka bertarung — ya, memang gila."

Trump mengakui bahwa Tiongkok adalah pembeli besar minyak Rusia, namun menegaskan bahwa isu tersebut tidak dibahas secara spesifik dalam pertemuan. Ringkasan resmi dari pihak Tiongkok menyebutkan bahwa Trump sangat antusias untuk menyelesaikan berbagai isu panas regional, sementara Xi menegaskan bahwa Tiongkok terus berupaya memajukan dialog damai di berbagai wilayah konflik.

"Dunia saat ini dihadapkan pada banyak masalah sulit," ujar Xi. "Tiongkok dan AS dapat bersama-sama memikul tanggung jawab kami sebagai negara besar, dan bekerja sama untuk mencapai lebih banyak hal besar dan nyata demi kebaikan kedua negara kami dan seluruh dunia."

Sementara itu, isu Taiwan sama sekali tidak dibahas dalam pertemuan tersebut.

"Itu sebenarnya tidak dibahas," ungkap Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One.

Aneksasi Taiwan diyakini merupakan tujuan Xi. Ia disebut-sebut tengah mempersiapkan militer untuk mengambil alih pulau itu dengan kekuatan jika diperlukan — sebuah langkah yang akan berdampak besar secara global.

AS tetap menjadi pendukung utama Taiwan dalam menghadapi tekanan Beijing, namun sikap Trump yang tidak konsisten terhadap dukungan itu menimbulkan kekhawatiran baru tentang bagaimana ia akan merespons jika Xi suatu saat meminta konsesi dari Washington.

6. Ekspor Kedelai

Trump mengatakan bahwa pihak Tiongkok telah berkomitmen untuk membeli jumlah yang sangat besar kedelai, sorgum, dan berbagai produk pertanian AS lainnya.

Pihak Tiongkok tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi Menteri Keuangan AS Scott Bessent seperti dikutip dari Associated Press menyampaikan bahwa Tiongkok telah sepakat untuk membeli 25 juta metrik ton kedelai AS setiap tahun sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Ia menambahkan bahwa Tiongkok akan memulai dengan pembelian 12 juta metrik ton kedelai AS antara sekarang hingga Januari.

Beijing mulai menargetkan ekspor pertanian AS tidak lama setelah Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu dan mengumumkan kenaikan tarif atas produk-produk asal Tiongkok. Pengurangan pembelian kedelai, daging sapi, dan produk lainnya oleh Tiongkok telah berdampak berat bagi para petani AS.

"Para petani sebaiknya segera membeli lebih banyak lahan dan traktor yang lebih besar," tulis Trump di platform Truth Social. "Saya ingin berterima kasih kepada Presiden Xi untuk hal ini!"

Industri kedelai AS berkembang pesat sejak tahun 1990-an sebagai respons terhadap lonjakan permintaan dari Tiongkok, ketika negara itu mulai tumbuh cepat secara ekonomi dan bergantung pada produsen asing untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Kedelai yang kaya protein merupakan bagian penting dari pola makan masyarakat Tiongkok.

Meskipun Tiongkok masih bergantung pada hasil panen domestik untuk kebutuhan kedelai kukus dan tahu, negara itu membutuhkan jumlah jauh lebih besar untuk produksi minyak dan pakan ternak. Pada tahun 2024, Tiongkok memproduksi 20 juta metrik ton kedelai, sementara mengimpor lebih dari 105 juta metrik ton dari luar negeri.

Tidak ada rincian khusus yang diberikan mengenai kesepakatan pembelian produk pertanian lainnya.