15 September 1950: Serangan Kilat PBB di Incheon, 50 Ribu Tentara dan 262 Kapal Perang Bikin Korea Utara Kewalahan

Bagaimana strategi penyerangan yang dipimpin oleh Jendral Douglas MacArthur?

Diterbitkan 15 September 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendaratkan hingga 50 ribu tentaranya di belakang garis musuh di wilayah Incheon, pesisir barat Korea Selatan pada 15 September 1950.

Serangan ini menjadi serangan balasan besar pertama dalam Perang Korea yang dipimpin Amerika Serikat bersama sekutunya dan tentara Korea Selatan, dilansir dari BBC, Senin (15/9/2025).

Langkah ini langsung menekan pasukan Korea Utara yang sejak 25 Juni 1950 menduduki Seoul, ibu kota Korea Selatan. Saat itu, pemerintahan republik terpaksa melarikan diri, sementara invasi Korea Utara dikecam keras oleh PBB.

Jenderal Douglas MacArthur, Komandan Pasukan Amerika Serikat yang mengawasi langsung jalannya operasi dari kapal induk.

"Inilah pagi terbaik bagi Angkatan Laut dan Marinir," ujarnya.

 

 

Operasi Chormite

Serangan yang dinamakan Operasi Chromite ini dimulai pukul 06.00 waktu setempat. Armada besar berisi 262 kapal, termasuk kapal Inggris, Kanada, dan Australia, bergerak menuju Incheon.

Pasukan Marinir AS lebih dulu mendarat di Pulau Wolmi yang terhubung ke daratan Korea dengan jembatan sepanjang setengah mil.

Pulau itu berhasil direbut hanya dalam waktu 30 menit, sebelum pasukan bergerak melintasi jembatan menuju daratan utama. Gelombang kedua pasukan infanteri sempat tertunda karena pasang tinggi, namun berhasil mendarat pada sore hari sekitar pukul 17.00. Dipimpin tank, mereka maju sejauh dua mil ke pedalaman dengan dukungan serangan udara yang menghantam posisi artileri Korea Utara.

MacArthur kemudian melaporkan ke Departemen Pertahanan di Washington bahwa korban tergolong ringan dan operasi berjalan sesuai rencana. Ia juga memuji koordinasi dan kerja sama yang berjalan seakan jam tangan di antara semua angkatan yang terlibat.

Sementara itu, Panglima Tertinggi Korea Selatan, Mayor Jenderal Chung Il Kwon, menyebut serangan itu berhasil memberi tekanan pada pasukan komunis di sekitar Pangkalan Udara Kimpo, salah satu basis militer penting di utara Inchon.

Pasukan Korea Utara dilaporkan tidak memberikan banyak perlawanan, diduga karena serangan ini datang tiba-tiba dan membuat mereka lengah.

Titik Balik Perang Korea

Pendaratan Inchon tercatat sebagai salah satu serangan amfibi terbesar dalam sejarah militer dan menjadi titik balik Perang Korea. Pasukan Korea Utara yang sebelumnya mendominasi justru terdesak mundur.

Menjelang akhir September, PBB berhasil merebut kembali Seoul. Pasukan MacArthur bahkan terus mendorong tentara Korea Utara hingga melintasi garis lintang 38, batas pemisah Korea setelah Perang Dunia II.

Meski begitu, kemenangan itu tidak bertahan lama. Ketika Cina masuk perang pada 26 November 1950, situasi berbalik. Tentara Amerika dan sekutunya dipukul mundur lagi ke selatan. Seoul sempat jatuh ke tangan lawan dua kali sebelum perang akhirnya terhenti dalam kebuntuan.

Perundingan panjang selama 18 bulan berakhir dengan penandatanganan gencatan senjata pada 27 Juli 1953. Garis lintang 38 kembali ditetapkan sebagai perbatasan dengan zona demiliterisasi selebar 4 kilometer.

Hingga kini, kedua Korea masih secara teknis berstatus perang karena belum pernah menandatangani perjanjian damai.