Korban Tewas Demo Rusuh di Nepal Bertambah jadi 31 Orang, 15.000 Narapidana Kabur

Korban tewas akibat aksi demo berujung kerusuhan di Nepal bertambah menjadi 31 orang, Kamis (11/9/2025).

Diperbarui 11 September 2025, 16:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Korban tewas akibat aksi demo berujung kerusuhan di Nepal bertambah menjadi 31 orang, Kamis (11/9/2025). Departemen Kedokteran Forensik di Rumah Sakit Pengajaran Universitas Tribhuvan, tempat jenazah para pengunjuk rasa dibawa untuk keperluan autopsi, 25 korban berhasil diidentifikasi.

Sedangkan identitas enam korban lainnya, yang salah satunya perempuan, masih belum diketahui. Menurut harian berbahasa Inggris Kathmandu Post.

Dua korban tewas diketahui merupakan narapidana. Ini terjadi saat Tentara Nepal melepaskan tembakan untuk menggagalkan upaya pelarian mereka dari sebuah penjara. Tindakan tentara juga melukai lebih dari 12 orang lainnya.

15.000 Narapidana Kabur

Upaya pelarian terbaru itu terjadi di distrik Ramechhap, Provinsi Bagmati. Saat itu para narapidana berhasil merusak beberapa kunci bagian dalam dan mencoba mendobrak gerbang utama sebelum akhirnya aparat keamanan melepaskan tembakan. Penjara tersebut menampung lebih dari 300 narapidana.

Pihak kepolisian menyatakan situasi sudah terkendali dan tidak ada narapidana yang berhasil melarikan diri.

Nepal telah mengalami beberapa kali upaya pelarian dari penjara sejak aksi protes keras terjadi. Lebih dari 15.000 narapidana dilaporkan berhasil kabur dalam beberapa hari terakhir.

Militer telah mengambil alih kendali keamanan di negara tersebut setelah gelombang protes yang dipimpin oleh generasi muda, dikenal sebagai “Generasi Z”, memaksa Oli mengundurkan diri.

Para pemuda yang memimpin aksi protes memilih mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, melalui jajak pendapat daring sebagai kandidat kepala pemerintahan sementara. Awalnya, Karki menolak tawaran tersebut. Namun, 15 jam kemudian, setelah kelompok-kelompok Gen Z secara resmi memintanya, dia akhirnya bersedia menerima.

Sementara itu, sebagian kelompok pengunjuk rasa juga mengusulkan nama Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah, untuk memimpin pemerintahan transisi.

Sumber: Anadolu