Dokter di Korea Selatan Temukan Benang Emas di Lutut Seorang Wanita, Apa Penyebabnya?

Seorang dokter kaget saat menemukan ada benang emas di lutut seorang wanita.

Diterbitkan 10 September 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Seorang wanita di Korea Selatan yang tidak disebutkan namanya mengalami sakit parah dan kaku di lutut akibat osteoartritis. Ia sudah mencoba berbagai cara mulai dari obat pereda nyeri, obat antiinflamasi nonsteroid, hingga suntikan steroid langsung ke lutut.

Sayangnya, tidak ada yang benar-benar manjur membuatnya bisa hidup normal tanpa rasa sakit. Lebih buruk lagi, obat-obatan itu justru menimbulkan efek samping serius seperti sakit perut parah, dilansir dari Oddity Central, Rabu (10/9/2025).

Karena putus asa, wanita ini akhirnya mencoba pengobatan alternatif yang kontroversial, yaitu akupunktur benang emas. Awalnya, ia menjalani terapi mingguan dengan memasukkan benang-benang emas kecil di sekitar lututnya.

Namun, bukannya sembuh, rasa sakit akibat osteoartritis justru semakin parah. Ia pun menambah frekuensi kunjungan ke terapis hingga beberapa kali seminggu.

Sayangnya, kondisi lututnya semakin memburuk. Rasa sakit makin tak tertahankan sampai akhirnya ia kembali ke rumah sakit.

Hasil pemeriksaan X-ray menunjukkan adanya penebalan dan pengerasan tulang kering bagian dalam, pertumbuhan tulang baru di lutut, serta ratusan benang emas kecil yang menempel di jaringan sekitar lutut.

 

Menurut Dokter

Dokter memperingatkan bahwa akupunktur benang emas tidak memiliki manfaat medis yang terbukti, justru penuh risiko. Benang-benang kecil itu bisa memicu kista, berpindah ke bagian tubuh lain, hingga merusak jaringan di sekitarnya.

Lebih berbahaya lagi, benang emas bisa menghalangi pemeriksaan MRI yang krusial karena berisiko bergeser dan merusak pembuluh darah.

Metode akupunktur ini sebenarnya sudah lama digunakan di beberapa negara Asia untuk mengatasi nyeri dan masih populer, terutama di kalangan lansia. Benang emas dianggap bisa memberi stimulasi terus-menerus di dalam tubuh sehingga meredakan nyeri.

Namun, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Justru sebaliknya, banyak pasien yang kondisinya semakin parah karena terlambat mendapat pengobatan medis yang efektif.