9 September 1976: Pemimpin Revolusi Komunis China Mao Zedong Meninggal Dunia di Usia 82 Tahun

Bagaimana jejak perjuangan Mao sebagai bapak pendiri Republik Rakyat China (RRC)?

Diterbitkan 09 September 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Ketua Mao Zedong, arsitek utama revolusi China sekaligus pendiri Republik Rakyat China (RRC), meninggal dunia pada usia 82 tahun.

Kabar duka ini diumumkan pada pukul 00.10 waktu setempat oleh Komite Sentral Partai Komunis China, Dewan Negara, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, serta Komisi Urusan Militer partai, dilansir dari BBC, Selasa(9/9/2025).

Mao sudah lama dikabarkan sakit dan kondisi fisiknya semakin menurun dalam beberapa bulan terakhir. Ia bahkan tidak lagi menerima tamu asing sejak beberapa waktu lalu.

Hingga kini belum jelas siapa yang akan menggantikannya, sebab tidak ada pewaris yang ditunjuk secara resmi untuk memimpin rakyat China yang berjumlah 800 juta jiwa saat itu.

Berita wafatnya Mao cepat menyebar di ibu kota Beijing. Banyak warga terlihat mengenakan pita hitam di lengan sebagai tanda berduka. Sejumlah kelompok juga memberi penghormatan di depan potret besar Mao yang terpampang di gerbang utama Kota Terlarang.

Jenazah Mao akan disemayamkan di Balai Agung Rakyat. Upacara peringatan akan digelar di Lapangan Tiananmen pada 18 September, di mana seluruh rakyat, kecuali yang menjalankan tugas penting, diimbau untuk mengheningkan cipta selama tiga menit.

Dalam obituari resminya, Partai Komunis memuji perjuangan Mao dalam melawan "musuh-musuh" internal partai yang ia ikut dirikan pada 1921.

 

Jejak Perjuangan Mao

Mao dikenal luas sebagai pemimpin yang membawa pasukan komunis menempuh "long march" sejauh 6.000 mil ke arah utara China pada pertengahan 1930-an demi menghindari serangan Partai Nasionalis Kuomintang.

Pada 1949, ia memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat China dan menjadi ketua negara.

Di era 1950-an, Mao meluncurkan program "Lompatan Jauh ke Depan" untuk meningkatkan produksi industri lewat pembentukan komune rakyat di pedesaan.

Namun kebijakan ini berujung bencana: kelaparan besar yang menewaskan antara 10 hingga 35 juta orang.

Meskipun kemudian mundur sebagai ketua republik, Mao tetap berpengaruh sebagai Ketua Partai Komunis.

Pada 1966, ia menggagas Revolusi Kebudayaan yang menutup sekolah dan kampus, serta menggerakkan Red Guards dalam kampanye ideologi.

Gerakan ini membuat banyak pejabat digulingkan, disiksa, bahkan tewas, dan menghancurkan masa depan satu generasi.

Warisan dan Kontroversi

Mao juga dikenal berperan dalam membuka pintu diplomasi China ke dunia. Ia mendorong kunjungan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon pada 1972, yang menjadi titik balik hubungan kedua negara.

Sebelumnya, pada 1971, China berhasil meraih kursi di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Meski dihormati sebagai bapak bangsa modern China, Mao juga dikenang sebagai pemimpin keras yang penuh kontroversi.

Kebijakannya menelan puluhan juta korban jiwa dan menimbulkan luka sosial yang mendalam.

Wafatnya Mao meninggalkan kekosongan kekuasaan. Kelompok "Gang of Four" yang dipimpin jandanya sempat mencoba mengambil alih kendali, namun akhirnya ditangkap oleh penerus Mao, Hua Guofeng.

Dari situ, Deng Xiaoping kemudian muncul sebagai pemimpin baru pada 1978. Ia memperkenalkan reformasi ekonomi, melonggarkan diskusi akademis, dan mengurangi kekuasaan kolektif partai di pedesaan.

Namun Deng juga mencatat sejarah kelam ketika memerintahkan penindasan demonstrasi pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen pada 1989 yang menewaskan ratusan orang dan menuai kecaman internasional. Ia tetap berkuasa hingga meninggal pada 1997.