Bagaimana Cara Astronot Buang Air Besar Saat Berada di Ruang Angkasa?

Kalau bisa buang air besar di ruang angkasa, kemana perginya kotoran para astronot?

Diterbitkan 30 Agustus 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS), kebutuhan dasar manusia tetap harus dilakukan, termasuk buang air besar (BAB). Bedanya, tanpa gravitasi, proses ini menjadi tantangan besar. Astronot tidak bisa sekadar duduk di toilet biasa karena kotoran bisa melayang dan mencemari kabin jika tidak ditangani dengan benar.

Untuk mengatasi masalah ini, NASA mengembangkan toilet khusus yang menggunakan sistem aliran udara. Astronot duduk di kursi kecil dengan sabuk pengaman agar tubuh tetap stabil, dikutip dari laman Mentalfloss, Sabtu (30/8/2025).

Toilet dilengkapi kantong sekali pakai yang terhubung dengan vakum udara, sehingga kotoran langsung tersedot dan terkumpul tanpa berantakan.

Kantong berisi kotoran itu kemudian disegel rapat dan disimpan dalam wadah bersama sampah lain dari ISS. Proses ini dilakukan dengan hati-hati karena ruang di stasiun terbatas dan menjaga kebersihan sangat penting untuk kesehatan para kru.

Apa yang Terjadi dengan Kotoran Astronot?

Berbeda dengan di Bumi, tidak ada sistem pembuangan di ruang angkasa. Oleh karena itu, sampah—termasuk kotoran manusia—akan dikirim keluar ISS dengan kapsul kargo yang sudah penuh. Setelah dilepaskan ke orbit Bumi, kapsul tersebut akan masuk kembali ke atmosfer. Di sinilah kotoran astronot akan terbakar habis karena panas ekstrem, serupa dengan meteor yang jatuh.

Fakta ini sering menimbulkan mitos bahwa kotoran astronot bisa berubah menjadi “bintang jatuh”. NASA menegaskan hal itu tidak benar. Memang, dari permukaan Bumi, benda yang terbakar di atmosfer terlihat seperti cahaya meteor, tapi sebenarnya itu hanyalah sampah yang hancur sebelum sempat mencapai tanah.

 

Studi Tentang Tubuh dan Pencernaan Astronot

Dalam misi selama satu tahun (2015–2016), astronot NASA Scott Kelly menghasilkan sekitar 81 kilogram kotoran. Selain itu, tubuhnya juga mengalami banyak perubahan: massa tubuh berkurang, cairan tubuh bergeser ke bagian atas, bahkan keragaman mikroba dalam ususnya menurun drastis.

Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan di ruang angkasa tidak hanya menantang dari segi teknologi, tetapi juga kesehatan. Kotoran manusia pun menjadi salah satu sumber data penting bagi ilmuwan untuk mempelajari dampak jangka panjang hidup di luar Bumi.

BAB di ruang angkasa bukanlah hal sederhana. Dengan teknologi toilet berbasis vakum dan sistem pembuangan khusus, astronot dapat menjaga kebersihan ISS sekaligus memastikan kesehatan kru. Pada akhirnya, kotoran astronot tidak pernah kembali ke Bumi, melainkan terbakar di atmosfer—menjadi jejak samar di langit malam yang sepintas mirip meteor.