Ambil Uang untuk Biaya Pengobatan, Seorang Nenek Asal China Meninggal Dunia di Bank

Lantaran prosedur yang diwajibkan pihak bank, nenek yang sedang sekarat ini meninggal dunia saat hendak ambil uang.

Diterbitkan 28 Mei 2025, 20:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Sebuah insiden memilukan di Provinsi Hunan, China, menjadi sorotan nasional setelah seorang wanita lanjut usia meninggal dunia di depan sebuah bank usai diminta hadir langsung untuk menarik uang.

Kejadian ini berlangsung pada 14 Mei lalu di cabang Agricultural Bank of China di kota Zhuzhou. Nenek berusia 62 tahun, bermarga Peng, datang dalam kondisi sakit parah—duduk di kursi roda dan nyaris tidak sadar—demi bisa menarik uang sebesar 50.000 yuan (sekitar Rp115 juta) untuk biaya pengobatan. Ia ditemani oleh dua putrinya dan menantunya.

Sebelumnya, salah satu putri Peng telah mencoba mengambil uang dengan membawa kartu identitas dan buku tabungan sang ibu. Namun karena tiga kali salah memasukkan kata sandi, transaksi diblokir, dikutip dari laman SCMP, Rabu (28/5/2025).

Meski sudah menjelaskan bahwa ibunya tengah sakit keras dan dirawat di rumah sakit akibat patah tulang kaki serta menderita diabetes menahun, pihak bank bersikeras bahwa nasabah harus hadir sendiri untuk memverifikasi identitas.

Akhirnya, Peng dibawa langsung ke bank dalam kondisi lemah. Namun proses verifikasi pun tak berjalan mulus. Peng tak mampu menyelesaikan proses pengenalan wajah digital yang mengharuskannya mengangguk dan berkedip. Setelah satu jam menunggu tanpa kejelasan, keluarganya memutuskan membawa Peng keluar gedung untuk mencari udara segar. Sayangnya, ia mengembuskan napas terakhir di depan pintu masuk bank.

Polisi menyebut Peng meninggal akibat “penyakit mendadak,” dan investigasi masih berlangsung. Namun kejadian ini memicu gelombang kritik di media sosial Tiongkok, mempersoalkan apakah bank terlalu kaku menerapkan prosedur hingga mengabaikan kemanusiaan.

 

Respons Pihak Bank

Seorang staf bank yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada media lokal Sina bahwa pihak keluarga tidak memberi tahu kondisi medis Peng secara rinci. Saat melihat Peng kesulitan, staf sempat menyarankan agar keluarganya membawanya pulang untuk beristirahat, namun permintaan itu ditolak.

Meski begitu, publik tetap mempertanyakan akuntabilitas bank. “Mengapa tidak ada rekaman CCTV yang dirilis? Bank pasti punya kamera dengan kualitas tinggi. Kenapa justru langsung memberikan uang kompensasi?” tulis seorang warganet.

Pada 16 Mei, keponakan Peng mengonfirmasi bahwa keluarga telah menyepakati penyelesaian dengan pihak bank. Bank akan menanggung biaya pemakaman dan memberikan kompensasi sebesar 100.000 yuan (sekitar Rp230 juta) sebagai bentuk “uang duka”.

“Kesepakatan sudah ditandatangani oleh sepupu saya dan pihak bank. Kami tidak akan membawa kasus ini lebih lanjut. Sekarang kami bersiap kembali ke kampung halaman,” ujarnya.

Namun perdebatan tak berhenti di situ. Beberapa netizen justru mempertanyakan keputusan keluarga membawa Peng ke bank dalam kondisi seperti itu. “Apakah tidak berisiko memaksa ibu mereka datang langsung dalam kondisi lemah seperti itu?” tulis komentar lainnya.

Insiden ini menyoroti tantangan di tengah transformasi layanan keuangan digital yang kerap tak ramah bagi warga lanjut usia dan kelompok rentan. Sampai saat ini, publik menanti hasil investigasi penuh dari pihak berwenang.