Serangan Udara Terbesar Rusia ke Ukraina: 367 Drone Tewaskan 12 Orang

Rusia melancarkan serangan udara terbesar ke Ukraina dengan 367 drone atau pesawat nirawak dan rudal. Skala serangan itu sangat mencengangkan.

Diterbitkan 26 Mei 2025, 10:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kyiv - Pihak berwenang mengatakan serangan besar-besaran Rusia yang menggunakan drone alias pesawat nirawak dan rudal menargetkan ibu kota Ukraina dan wilayah lain pada Minggu (25/5) dini hari di negara itu untuk malam kedua berturut-turut, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan orang.

Skala serangan itu sangat mencengangkan.

Menurut juru bicara Angkatan Udara Ukraina Yuriy Ihnat, dalam laporan Associated Press (AP) yang dikutip Senin (26/5), Rusia menyerang Ukraina dengan 367 drone atau pesawat nirawak dan rudal, menjadikannya serangan tunggal terbesar dalam perang yang berlangsung lebih dari tiga tahun.

"Secara keseluruhan, Rusia menggunakan 69 rudal dari berbagai jenis dan 298 drone, termasuk drone Shahed yang dirancang Iran," katanya kepada Ihnat kepada The Associated Press.

Itu adalah "serangan paling besar dalam hal jumlah senjata serangan udara di wilayah Ukraina sejak dimulainya invasi skala penuh pada tahun 2022," imbuh Ihnat.

Tidak ada komentar langsung dari Moskow. Bagi Kyiv, hari itu sangat suram karena kota itu merayakan Hari Kyiv, hari libur nasional yang jatuh pada hari Minggu terakhir bulan Mei untuk memperingati berdirinya kota itu pada abad ke-5.

 

 

Serangan Drone Ukraina ke Moskow Dikritik Donald Trump

"Korban tewas termasuk tiga anak di wilayah utara Zhytomyr," kata pejabat setempat di sana seperti dikutip dari BBC.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meminta Amerika Serikat, yang telah mengambil sikap publik yang lebih lunak terhadap Rusia dan pemimpinnya, Vladimir Putin, sejak Presiden Donald Trump menjabat, untuk angkat bicara.

"Diamnya Amerika, diamnya negara lain di dunia hanya mendorong Putin," tulisnya di Telegram.

"Setiap serangan teroris Rusia seperti itu adalah alasan yang cukup untuk sanksi baru terhadap Rusia."

Itu adalah serangan terbesar dalam perang dalam hal senjata yang ditembakkan, meskipun serangan lain telah menewaskan lebih banyak orang.

Trump pada hari Minggu menyatakan ketidaksenangannya yang mendalam atas serangan terbaru Rusia ke Ukraina itu, dengan mengatakan bahwa dia "tidak senang dengan Putin".

"Saya tidak tahu apa yang salah dengannya. Apa yang terjadi padanya? Benar? Dia membunuh banyak orang. Saya tidak senang dengan itu," kata presiden AS kepada wartawan di bandara di Morristown, New Jersey, saat dia bersiap untuk kembali ke Washington.

Setelah kembali ke Washington, Trump mengunggah lebih banyak komentar di media sosial, mengatakan tentang Putin, "Dia benar-benar gila!"

Trump juga mengkritik Zelenskyy, mengunggah bahwa pemimpin Ukraina itu "tidak membantu negaranya dengan berbicara seperti itu. Semua yang keluar dari mulutnya menyebabkan masalah, saya tidak menyukainya, dan sebaiknya itu dihentikan".

 

60 Orang Terluka Jelang Hari Ketiga Pertukaran 1.000 Sandera

Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko mengatakan 12 orang tewas dan 60 lainnya luka-luka. Jumlah korban tewas sebelumnya yang diberikan secara terpisah oleh otoritas regional dan penyelamat menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 13 orang.

"Ini adalah serangan gabungan yang kejam yang ditujukan pada warga sipil. Musuh sekali lagi menunjukkan bahwa tujuannya adalah ketakutan dan kematian," tulisnya di Telegram.

Serangan itu terjadi saat Ukraina dan Rusia bersiap untuk melaksanakan hari ketiga dan terakhir pertukaran tahanan di mana kedua belah pihak akan menukar total 1.000 orang.

Utusan Khusus AS untuk Ukraina Keith Kellogg mengatakan pada hari Minggu bahwa serangan itu merupakan "pelanggaran yang jelas" terhadap Protokol Perdamaian Jenewa 1977 dan menyerukan gencatan senjata segera.

Serangan ke 30 Kota

Dalam laporan AP disebut bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan rudal dan drone Rusia menghantam lebih dari 30 kota dan desa di seluruh Ukraina dan mendesak mitra-mitra Barat untuk meningkatkan sanksi terhadap Rusia. Itu telah menjadi tuntutan lama pemimpin Ukraina tetapi — meskipun ada peringatan kepada Moskow oleh Amerika Serikat dan Eropa — belum terwujud dalam cara-cara untuk menghalangi Rusia.

Zelenskyy menulis di X bahwa target hari Minggu termasuk wilayah Kyiv, Zhytomyr, Khmelnytskyi, Ternopil, Chernihiv, Sumy, Odesa, Poltava, Dnipro, Mykolaiv, Kharkiv, dan Cherkasy.

"Ini adalah serangan yang disengaja terhadap kota-kota biasa. Bangunan perumahan biasa dihancurkan dan dirusak," kata Zelenskyy.

"Tanpa tekanan yang benar-benar kuat pada kepemimpinan Rusia, kebrutalan ini tidak dapat dihentikan. Sanksi pasti akan membantu. Tekad penting sekarang — tekad Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan semua pihak di seluruh dunia yang mencari perdamaian."

Sementara itu, laporan BBC menyebut Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa telah berupaya mendesak Moskow untuk menandatangani gencatan senjata selama 30 hari sebagai langkah awal untuk menegosiasikan akhir perang yang telah berlangsung selama tiga tahun.

Upaya mereka mengalami pukulan awal minggu ini ketika Trump menolak untuk memberikan sanksi lebih lanjut kepada Moskow karena tidak menyetujui penghentian pertempuran segera, seperti yang diinginkan Kyiv.

Â