Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan soal 'Jebakan Thucydides'

Presiden China Xi Jinping bertemu Donald Trump, menyerukan kerja sama luas untuk hindari "jebakan Thucydides" di tengah ketegangan AI, perdagangan, dan Taiwan.

Diterbitkan 25 September 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden China Xi Jinping menyerukan kerja sama yang lebih luas dengan Amerika Serikat (AS) untuk menghindari apa yang disebut sebagai “jebakan Thucydides”, yang dapat membawa kedua negara menuju konflik militer di tengah meningkatnya ketegangan terkait kecerdasan buatan (AI), perdagangan, dan Taiwan.

Dikutip dari The Guardian, Jumat (25/6/2026), seruan tersebut disampaikan Xi saat membuka pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Xi memaparkan sejumlah syarat untuk membangun saling pengertian yang menurutnya dapat mengarahkan dua negara adidaya yang bersaing itu menjauh dari potensi konflik militer dan menuju hubungan yang saling menguntungkan.

Alih-alih konfrontasi, Xi mengatakan China dan AS perlu menciptakan kondisi agar “peremajaan besar bangsa China dan membuat Amerika kembali hebat dapat berjalan beriringan”. Ia menggunakan slogan politik Trump untuk menggambarkan tujuan tersebut.

“Kita harus memperkuat komunikasi. China dan Amerika Serikat memiliki kondisi nasional yang berbeda, tetapi melalui dialog yang jujur, mendalam, dan berkelanjutan, kedua negara dapat lebih memahami satu sama lain, mencari kesamaan sembari menyisihkan perbedaan, serta membangun kepercayaan,” kata Xi, seperti dikutip dari pernyataannya saat Trump berada di sampingnya.

Xi: China dan AS Sama-sama Rugi Jika Berkonfrontasi

Xi juga menyerukan agar China dan AS dapat hidup berdampingan secara damai. Menurutnya, sebagai dua negara besar, kedua pihak akan memperoleh manfaat dari kerja sama, tetapi sama-sama mengalami kerugian jika memilih konfrontasi.

“Kita harus hidup berdampingan dalam damai. China dan Amerika Serikat, sebagai dua negara besar, akan sama-sama memperoleh manfaat dari kerja sama dan sama-sama rugi dalam konfrontasi,” ujar Xi.

Ia juga menekankan pentingnya hubungan antara militer kedua negara.

“Militer kedua negara harus menjaga dialog secara rutin dan meningkatkan mekanisme komunikasi serta pencegahan krisis,” lanjutnya.

Dengan kondisi tersebut, Xi mengatakan “jebakan Thucydides dapat diatasi”. Istilah itu merujuk pada fenomena yang dijelaskan sejarawan Yunani Thucydides mengenai ketegangan yang muncul ketika kekuatan yang sedang berkembang mulai menantang dominasi kekuatan yang telah mapan.

Xi sebelumnya menggunakan istilah tersebut saat bertemu Trump di Beijing pada Mei. Saat itu, ia bertanya kepada Trump mengenai bagaimana AS berencana menghindari jebakan tersebut.

Xi Tawarkan Pertukaran Pelajar

Usulan Xi untuk meredakan ketegangan juga mencakup ajakan kepada 100.000 anak muda Amerika untuk mengunjungi China dalam program pertukaran pelajar.

Langkah tersebut disampaikan di tengah persaingan sengit China dan AS dalam bidang AI dan perdagangan. Kedua negara juga masih saling memberlakukan tarif.

Sebelumnya, Trump menyambut Xi dan istrinya, Peng Liyuan, di Gedung Putih. Trump menyebut Xi sebagai pemimpin China pertama yang melakukan kunjungan kenegaraan kedua ke AS. Kunjungan sebelumnya berlangsung pada 2015 ketika Barack Obama menjabat sebagai presiden.

“Presiden Xi dan Madame Peng tiba pada momen penting bagi Amerika, yakni peringatan 250 tahun berdirinya negara kami,” kata Trump.

Trump juga mengatakan dirinya telah membangun “persahabatan yang benar-benar hebat” dengan Xi.

“Presiden Xi dan saya telah membuat kemajuan luar biasa dalam berbagai persoalan yang dihadapi kedua negara kami,” ujar Trump.

Menurut Trump, tim kedua negara juga bekerja untuk mendorong hubungan perdagangan yang lebih seimbang, termasuk membuka akses pasar baru bagi petani dan peternak Amerika.

Trump mengatakan kunjungan tersebut akan mencakup pembahasan mengenai keamanan, teknologi, dan AI yang ia sebut sebagai “super intelligence”, istilah yang diperkenalkannya dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Selasa.

 

Xi Puji Hubungan Pribadi dengan Trump

Xi juga menyinggung hubungan pribadinya dengan Trump. Ia mengatakan keduanya saling menghormati dan telah membangun hubungan personal.

“Presiden Trump dan saya saling menghormati. Kami telah membangun hubungan pribadi dan tetap berkomunikasi,” kata Xi.

Ia kemudian menyampaikan kesiapannya bekerja sama dengan Trump untuk menjaga hubungan kedua negara.

“Dalam kunjungan Anda ke China tahun ini, kita sepakat untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dengan stabilitas strategis. Saya siap bekerja sama dengan Anda untuk mengarahkan kapal besar hubungan China-AS pada jalur yang stabil menuju masa depan,” ujarnya.

Upacara penyambutan di Gedung Putih berlangsung setelah Trump mengambil langkah tidak biasa dengan datang langsung ke Pangkalan Angkatan Udara Andrews di Maryland pada malam sebelumnya untuk menyambut Xi dan Peng Liyuan di landasan.

Prosesi serupa kembali digelar pada Kamis. Lagu kebangsaan kedua negara dimainkan dalam upacara tersebut. Trump didampingi istrinya, Melania Trump, sementara anggota kabinet dan para penasihat senior turut menyaksikan acara tersebut.

Trump dan Xi kemudian menggelar pembicaraan bilateral setelah upacara penyambutan dan penyampaian pidato.

 

Xi Hadiri Jamuan Kenegaraan di Gedung Putih

Pada Kamis malam, Trump menjamu Xi dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih.

Sejumlah tokoh dunia teknologi turut diundang, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang, CEO Meta Mark Zuckerberg, Chairman Apple Tim Cook, CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk, serta CEO OpenAI Sam Altman.

Meski kedua pemimpin menunjukkan nada yang relatif harmonis, para analis masih skeptis terhadap kemungkinan tercapainya pengaturan stabil dalam jangka panjang terkait berbagai persoalan antara China dan AS.

Dalam persaingan AI, AS telah memberlakukan kontrol ekspor ketat terhadap mikrochip, semikonduktor, perangkat lunak, dan peralatan pembuatan chip. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperlambat perkembangan China di bidang tersebut.

Di bidang perdagangan, gencatan tarif yang disepakati Trump dan Xi di Korea Selatan tahun lalu semula akan berakhir pada November. Namun, kesepakatan tersebut kini diperpanjang hingga Februari, menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Para analis menilai perpanjangan tersebut menunjukkan Trump masih tidak puas dengan tawaran konsesi perdagangan dari Xi. Tekanan terhadap China dinilai tetap dipertahankan dengan harapan memperoleh kesepakatan yang lebih baik jika keduanya kembali bertemu dalam KTT G20 yang dijadwalkan berlangsung di Miami pada Desember.

Meski perang dagang masih berlangsung, impor China ke AS terus melonjak. China diperkirakan mencatat defisit perdagangan sebesar US$1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut.