Protes Aturan Baru soal Pakaian, Lebih dari 2.000 Barista Starbucks AS Mogok Kerja

Apa kata para barista dan bagaimana Starbucks merespons protes mereka? Berikut selengkapnya.

Diterbitkan 17 Mei 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Ribuan barista Starbucks di Amerika Serikat (AS) melancarkan aksi mogok untuk memprotes aturan berpakaian baru perusahaan.

Menurut Starbucks Workers United, serikat pekerja yang mewakili karyawan Starbucks di AS, lebih dari 2.000 barista dari 120 gerai di seluruh AS telah melakukan aksi mogok sejak Minggu (11/5/2025).

Mulai Senin (12/5), Starbucks memberlakukan aturan baru yang membatasi pilihan pakaian yang boleh dikenakan di balik celemek hijau ikonik mereka. Karyawan yang bekerja di gerai yang dikelola langsung maupun yang berlisensi, baik di AS maupun Kanada, kini diwajibkan mengenakan atasan berwarna hitam polos serta bawahan berwarna khaki, hitam, atau denim biru.

Pada aturan sebelumnya, barista diperbolehkan mengenakan pakaian berwarna gelap dengan pilihan warna dan pola yang lebih beragam.

Starbucks menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan agar celemek hijau mereka lebih menonjol dan menciptakan kesan yang lebih akrab bagi pelanggan. Perusahaan menjelaskan pula bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya menciptakan suasana yang lebih hangat dan ramah di dalam gerai.

Suara Pekerja

Starbucks Workers United menyatakan bahwa kebijakan berpakaian tersebut seharusnya dirundingkan terlebih dahulu. Serikat ini mewakili pekerja di 570 dari sekitar 10.000 gerai milik Starbucks di AS.

"Starbucks telah kehilangan arah. Alih-alih mendengarkan barista yang menciptakan pengalaman khas Starbucks, mereka justru fokus pada hal-hal yang tidak penting, seperti memberlakukan aturan berpakaian yang ketat," ujar Paige Summers, seorang supervisor Starbucks dari Hanover, Maryland. "Pelanggan tidak peduli warna pakaian kami saat mereka harus menunggu 30 menit untuk mendapatkan latte mereka."

Summers dan rekan-rekannya juga mengkritik perusahaan karena menjual pakaian bermerek Starbucks yang kini justru dilarang dikenakan oleh karyawan, melalui situs internal perusahaan.

Saat mengumumkan aturan barunya, Starbucks menyatakan bahwa setiap karyawan akan menerima dua kaus hitam secara gratis.

Dalam pernyataannya pekan ini, Starbucks Workers United mengatakan telah mengajukan pengaduan kepada National Labor Relations Board, yang bertugas menegakkan hukum perburuhan. Mereka menuduh Starbucks tidak melakukan perundingan terlebih dahulu dengan pekerja terkait penerapan aturan berpakaian baru.

Respons Starbucks

Pada Rabu (14/5), Starbucks Workers United melaporkan bahwa sekitar 1.000 pekerja telah melakukan aksi mogok di 75 gerai Starbucks di AS. Menanggapi hal itu, Starbucks menyebutkan bahwa dampak dari aksi mogok masih terbatas terhadap operasional 10.000 gerainya di AS. Perusahaan menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, aksi mogok hanya menyebabkan penutupan gerai selama kurang dari satu jam.

"Lebih baik jika serikat pekerja mengerahkan upaya sebesar ini untuk kembali ke meja perundingan, daripada hanya memprotes kewajiban mengenakan kaus hitam ke tempat kerja," kata Starbucks dalam pernyataannya.

"Lebih dari 99 persen gerai kami tetap buka hari ini untuk melayani pelanggan — dan telah buka sepanjang minggu."

Â