Korea Utara Larang Simbol Perdamaian dan Korsel, Hubungan Kian Memburuk?

Korea Utara seakan menutup pintu rekonsiliasi dengan Korea Selatan.

OlehDW
Diperbarui 02 Mei 2025, 17:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

, Pyongyang - Hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan kembali mengalami kemunduran drastis.

Dalam perkembangan terbaru, Pyongyang dilaporkan telah melarang lagu "Glad to Meet You" atau "Bangapseumnida" — sebuah lagu yang selama ini dikenal sebagai simbol rekonsiliasi antara kedua Korea.

Mengutip DW Indonesia, Sabtu (3/5/2025), langkah pelarangan lagu ini dilakukan setelah revisi konstitusi Korea Utara tahun lalu yang secara resmi menetapkan Korea Selatan sebagai "musuh utama".

Meskipun terdengar sepele, para analis melihat tindakan ini sebagai bagian dari pola yang lebih luas, yaitu penghapusan sistematis jejak-jejak persaudaraan dengan Korea Selatan dari narasi resmi Korea Utara.

Lagu “Glad to Meet You”, yang pertama kali dipertunjukkan pada 1991 oleh Pochonbo Electronic Ensemble dari Jepang, selama ini menjadi bagian dari diplomasi budaya antara Korea Utara dan Selatan.

Berbeda dengan lagu propaganda Korea Utara yang kental dengan slogan ideologis, lagu ini memuat pesan kehangatan dan keterbukaan, serta kerap diputar dalam pertemuan antarkedua negara.

Namun kini, lagu tersebut dilarang, mencerminkan sikap baru Pyongyang yang semakin menutup diri dan menjauh dari Seoul.

Bukan hanya lagu, kawasan wisata Gunung Kumgang yang dulunya menjadi simbol kerja sama ekonomi dan kemanusiaan kedua negara juga telah dihancurkan. Berdasarkan analisis citra satelit terbaru dari situs 38 North, hanya pondasi bangunan yang tersisa di wilayah utara Zona Demiliterisasi (DMZ) itu.

Kawasan tersebut dahulu dibangun oleh perusahaan-perusahaan Korea Selatan, mencakup hotel, restoran, resor golf, hingga tempat pertemuan keluarga-keluarga yang terpisah sejak Perang Korea 1950–1953. Proyek ini mendadak dihentikan pada 2008 setelah seorang wisatawan Korea Selatan ditembak mati karena keluar dari jalur yang ditentukan.

Pada 2019, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memerintahkan penghancuran semua bangunan di area tersebut. Kini, perintah itu telah dijalankan sepenuhnya.

Sejumlah langkah simbolik lain juga menunjukkan arah kebijakan baru Pyongyang. Lirik lagu kebangsaan Korea Utara diubah agar tidak lagi menyebut bagian selatan Semenanjung Korea. Bahkan dalam siaran prakiraan cuaca di televisi Korea Utara, wilayah Korea Selatan kini telah dihapus dari peta.

 

Korea Utara Alihkan Dukungan ke Rusia

Menurut Kim Sang-woo, mantan politisi progresif dan anggota Kim Dae-jung Peace Foundation, Pyongyang kini memilih mendekat ke Moskow dibanding Seoul. Ia menilai Kim Jong Un merasa bahwa Korea Selatan tidak lagi menawarkan peluang strategis berarti.

"Kim sangat aktif mempererat hubungan dengan Rusia, yang telah memberikan teknologi militer dan menjanjikan dukungan keamanan jika konflik dengan Korea Selatan atau Amerika Serikat terjadi," ungkap Kim.

Rah Jong-yil, mantan diplomat dan pejabat intelijen Korea Selatan, menyebut bahwa perubahan sikap Kim bisa ditelusuri kembali ke kegagalan pertemuan puncaknya dengan Presiden AS Donald Trump di Hanoi tahun 2019.

"Kim datang dengan harapan tinggi akan tercapainya kesepakatan, pencabutan sanksi, dan masuknya investasi. Tapi pertemuan itu gagal total, menjadi pukulan besar bagi harga dirinya," kata Rah.

Hubungan Pyongyang-Seoul Membeku

Hubungan kedua Korea kini benar-benar membeku. Contohnya, ketika dua nelayan Korea Utara ditemukan di perairan Korea Selatan pada 7 Maret lalu dan menyatakan ingin kembali ke Utara, upaya berulang kali dari otoritas Korea Selatan untuk menghubungi Pyongyang tidak mendapat respons sama sekali.

Rah Jong-yil menegaskan bahwa posisi resmi Korea Utara saat ini adalah bahwa kedua Korea merupakan negara yang benar-benar terpisah dan bermusuhan.

Kim Sang-woo juga pesimistis bahwa hasil pemilu parlemen Korea Selatan pada 3 Juni mendatang akan membawa perubahan berarti, meskipun partai oposisi progresif Democratic Party meraih kemenangan.

"Kalaupun menang, saya yakin presiden dari partai itu akan mencoba menjangkau Korea Utara untuk menunjukkan niat baik," katanya.

"Namun saya rasa Kim Jong Un akan melihat bahwa kedekatan dengan Moskow lebih menguntungkan bagi rezimnya."