Ukraina Akhirnya Teken Kesepakatan Mineral Langka, AS Klaim Bayaran Usir Tentara Rusia

Setelah negosiasi alot, AS dan Ukraina akhirnya menandatangani kesepakatan akses mineral langka, menandai babak baru kerja sama ekonomi dan pertahanan kedua negara.

Diterbitkan 01 Mei 2025, 11:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kyiv - AS dan Ukraina menandatangani kesepakatan mineral setelah Trump mendesak Kyiv untuk membayar kembali AS karena membantu mengusir Rusia.

Pada hari Rabu (30/4) AS dan Ukraina menandatangani kesepakatan yang akan memberi Washington akses ke mineral penting dan sumber daya alam Ukraina yang sangat banyak, menyelesaikan kesepakatan yang dibuat selama berminggu-minggu untuk memberi kompensasi kepada AS atas bantuannya dalam mengusir invasi Rusia.

Kedua belah pihak hanya memberikan rincian dasar tentang struktur kesepakatan mineral Ukraina AS, yang mereka sebut United States-Ukraine Reinvestment Fund (Dana Investasi Kembali Amerika Serikat-Ukraina). Namun, kesepakatan ini diharapkan akan memberi AS akses ke mineral tanah langka Ukraina yang berharga sekaligus memberi Kyiv jaminan tentang dukungan Amerika yang berkelanjutan dalam perang yang melelahkan dengan Rusia.

"Perjanjian ini memberi sinyal yang jelas kepada Rusia bahwa pemerintahan Trump berkomitmen pada proses perdamaian yang berpusat pada Ukraina yang bebas, berdaulat, dan makmur dalam jangka panjang," kata Menteri Keuangan Scott Bessent dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Associated Press (AP).

"Presiden Trump membayangkan kemitraan antara rakyat Amerika dan rakyat Ukraina ini untuk menunjukkan komitmen kedua belah pihak terhadap perdamaian dan kemakmuran abadi di Ukraina," imbuh Menteri Scott Bessent.

Pengumuman kerja sama mineral itu muncul di saat kritis dalam perang Rusia Ukraina yang sudah berlangsung tiga tahun, karena Trump semakin frustrasi dengan kedua belah pihak.

Adapun penandatanganan kerja sama mineral langka tersebut terjadi dua bulan setelah perjanjian yang berbeda tetapi serupa hampir ditandatangani sebelum gagal dalam pertemuan tegang di Ruang Oval yang melibatkan Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Trump telah lama mengkritik Zelenskyy, mengatakan bahwa dia tidak "memiliki kartu" untuk memenangkan perang dan menyalahkannya karena memperpanjang pembunuhan dengan tidak menyerahkan Krimea, tetapi dalam beberapa hari terakhir telah menegur Presiden Rusia Vladimir Putin juga, mengatakan bahwa dia mempersulit negosiasi dengan "waktu yang sangat buruk" dalam meluncurkan serangan mematikan di Kyiv.

Trump mengatakan Rabu (30/4) malam di NewsNation bahwa kesepakatan itu, "secara teori," berarti bahwa AS akan mendapatkan lebih banyak dari Ukraina daripada yang disumbangkannya. "Saya ingin dilindungi," katanya, seraya menambahkan bahwa dia tidak ingin terlihat "bodoh" dengan tidak mendapatkan kembali uang untuk investasi tersebut.

Ukraina Puji Kesepakatan Mineral dengan AS

Ukraina memuji penandatanganan tersebut sebagai 'kesepakatan internasional yang setara dan baik'

Bagi Ukraina, perjanjian tersebut dipandang sebagai kunci untuk memastikan aksesnya terhadap bantuan militer AS di masa mendatang.

"Ini sungguh merupakan kesepakatan strategis untuk pembentukan dana mitra investasi," kata Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal. "Ini sungguh merupakan kesepakatan internasional yang setara dan baik mengenai investasi bersama dalam pengembangan dan pemulihan Ukraina antara pemerintah Amerika Serikat dan Ukraina."

Menteri ekonomi Ukraina, Yulia Svyrydenko, terbang ke Washington pada hari Rabu (30/4) untuk membantu menyelesaikan kesepakatan tersebut.

"Bersama-sama dengan Amerika Serikat, kami menciptakan Fund (Pendanaan) yang akan menarik investasi global ke negara kami," katanya dalam sebuah posting di X setelah penandatanganan.

Gedung Putih Meragukan Perjanjian Tersebut Sudah Siap

<p>Ilustrasi Gedung Putih, Amerika Serikat. (Dok. Pixabay)</p>

Sementara itu, sebelumnya pada hari Rabu (30/4), Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan selama pertemuan Kabinet di Gedung Putih — beberapa jam setelah pejabat Ukraina mengindikasikan bahwa kesepakatan tersebut hampir selesai — bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.

"Ukraina memutuskan tadi malam untuk membuat beberapa perubahan pada menit-menit terakhir," kata Bessent ketika ditanya tentang laporan bahwa Ukraina siap menyetujui pakta tersebut. "Kami yakin mereka akan mempertimbangkannya kembali. Dan kami siap menandatanganinya sore ini jika mereka siap."

Menteri Keuangan Scott Bessent tidak menjelaskan lebih lanjut tentang perubahan-perubahan terakhir yang menurutnya dilakukan Ukraina.

Sejauh ini AS telah berupaya mengakses lebih dari 20 bahan mentah yang dianggap penting secara strategis bagi kepentingannya, termasuk beberapa bahan non-mineral seperti minyak dan gas alam. Di antaranya adalah endapan titanium Ukraina, yang digunakan untuk membuat sayap pesawat terbang dan manufaktur kedirgantaraan lainnya. Selain itu uranium, yang digunakan untuk tenaga nuklir, peralatan medis, dan senjata.

Ukraina juga diketahui memiliki litium, grafit, dan mangan, yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik.

Setelah Kyiv merasa rancangan awal kesepakatan AS secara tidak proporsional menguntungkan kepentingan Amerika, ia memperkenalkan ketentuan-ketentuan baru yang ditujukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Menurut Shmyhal, versi terbaru akan membentuk kemitraan yang setara antara kedua negara dan berlangsung selama 10 tahun. Kontribusi keuangan untuk dana bersama akan diberikan dalam bentuk tunai, dan hanya bantuan militer AS yang baru yang akan dihitung sebagai bagian Amerika. Bantuan yang diberikan sebelum perjanjian ditandatangani tidak akan dihitung. Tidak seperti rancangan sebelumnya, kesepakatan tersebut tidak akan bertentangan dengan jalur Ukraina menuju keanggotaan Uni Eropa — ketentuan utama bagi Kyiv.

 

Vladimir Putin Ingin Jawaban Sebelum Berkomitmen pada Gencatan Senjata

Negosiasi berbuah kesepakatan mineral antara AS dan Ukraina tersebut terjadi di tengah kemajuan yang terjal dalam upaya Washington untuk menghentikan perang antara Rusia dan Ukraina.

Putin mendukung seruan untuk gencatan senjata sebelum negosiasi perdamaian, "tetapi sebelum itu dilakukan, perlu untuk menjawab beberapa pertanyaan dan memilah beberapa perbedaan," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. Putin juga siap untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Ukraina tanpa prasyarat untuk mencari kesepakatan damai, tambahnya.

"Kami menyadari bahwa Washington ingin mencapai kemajuan yang cepat, tetapi kami berharap untuk memahami bahwa penyelesaian krisis Ukraina terlalu rumit untuk dilakukan dengan cepat," kata Peskov selama panggilan konferensi hariannya dengan wartawan.

Trump sejatinya telah menyatakan frustrasi atas lambatnya kemajuan dalam negosiasi yang bertujuan untuk menghentikan perang antara Rusia dan Ukrana. Para pemimpin Eropa Barat menuduh Putin mengulur waktu sementara pasukannya berusaha merebut lebih banyak tanah Ukraina. Rusia telah merebut hampir seperlima wilayah Ukraina sejak pasukan Moskow melancarkan invasi besar-besaran pada 24 Februari 2022.

Trump telah lama menganggap perang itu sebagai pemborosan nyawa dan uang pembayar pajak Amerika — sebuah keluhan yang diulangnya pada hari Rabu selama rapat Kabinetnya. Itu bisa berarti berakhirnya bantuan militer penting untuk Ukraina dan sanksi ekonomi yang lebih berat terhadap Rusia.

AS Ingin Kedua Belah Pihak Mempercepat Segalanya

Ilustrasi bendera Amerika Serikat (AS)

Departemen Luar Negeri AS pada hari Selasa (29/4) mencoba lagi untuk mendorong kedua belah pihak agar bergerak lebih cepat dan memperingatkan bahwa AS dapat menarik diri dari negosiasi jika tidak ada kemajuan.

“Kita sekarang berada pada saat proposal konkret perlu disampaikan oleh kedua pihak tentang cara mengakhiri konflik ini,” juru bicara departemen Tammy Bruce mengutip Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang mengatakannya kepadanya.

Rusia secara efektif telah menolak proposal AS untuk gencatan senjata segera dan penuh selama 30 hari, menjadikannya bersyarat pada penghentian upaya mobilisasi Ukraina dan pasokan senjata Barat ke Kyiv.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengklaim pada hari Rabu (30/4) bahwa Ukraina telah menerima gencatan senjata tanpa syarat hanya karena mereka didorong mundur di medan perang, di mana pasukan Rusia yang lebih besar memiliki keunggulan.

PBB Mengatakan Korban Sipil Ukraina Meningkat

Tim penyelamat Ukraina melakukan upaya pencarian korban di lokasi serangan rudal Rusia di Kyiv, Kamis 24 April 2025. (Genya SAVILOV/AFP)

Sementara itu, warga sipil Ukraina telah terbunuh atau terluka dalam serangan setiap hari tahun 2025 ini, menurut laporan PBB yang disampaikan pada hari Selasa (29/4) di New York.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengatakan dalam laporannya bahwa dalam tiga bulan pertama tahun ini, mereka telah memverifikasi 2.641 korban sipil di Ukraina. Jumlah itu hampir 900 lebih banyak daripada periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, antara tanggal 1-24 April, korban sipil di Ukraina meningkat 46% dari minggu yang sama pada tahun 2024, katanya.

Kesibukan perang sehari-hari tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Serangan pesawat nirawak Rusia pada malam hari di kota terbesar kedua Ukraina, Kharkiv, melukai sedikitnya 45 warga sipil, kata pejabat Ukraina.

Sebelumnya pada hari Rabu (30/4), Dinas Keamanan Ukraina mengklaim pesawat nirawaknya menyerang Pabrik Teknik Instrumen Murom di wilayah Vladimir, Rusia, yang menyebabkan lima ledakan dan kebakaran di fasilitas militer tersebut. Klaim tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.