Liputan6.com, Khartoum - Korea Selatan mengirim pesawat militer untuk mengevakuasi warganya yang terjebak di tengah pertempuran di Sudan.
Sebuah pesawat militer dengan 50 personel, termasuk di antaranya petugas keamanan dan medis, berangkat ke Djibouti pada Jumat (21/4), karena bandara di ibu kota Sudan ditutup sejak pertempuran meletus antara militer Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Jumlah warga negara Korsel yang berada di Sudan yaitu 25 orang --Anadolu mewartakan sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (22/4/2023).
Advertisement
"Sementara pesawat angkut dan pasukan kami berencana untuk bersiaga di pangkalan militer Amerika Serikat di Djibouti dan mengamati situasi, mereka akan memprioritaskan evakuasi," kata Kementerian Pertahanan Korsel.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Korsel menaikkan peringatan perjalanan ke Sudan menjadi Level 4, atau tertinggi dalam sistem peringatan perjalanan bagi warganya.
Pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan RSF dimulai sejak 15 April 2023 di Ibu Kota Khartoum dan wilayah sekitarnya.
RSF menuduh tentara menyerang pasukannya di selatan Khartoum dengan senjata ringan dan berat, sementara militer mengklaim bahwa pasukan paramiliter menyebarkan kebohongan dan menyebutnya sebagai kelompok pemberontak.
Kelompok paramiliter mengumumkan gencatan senjata kemanusiaan selama 72 jam mulai Jumat pukul 06.00 pagi waktu setempat, yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri umat Muslim.
Sudan tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi sejak Oktober 2021, ketika militer membubarkan pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan menyatakan keadaan darurat dalam suatu langkah yang oleh kekuatan politik disebut sebagai kudeta.
Militer AS Pertimbangkan Evakuasi Kedubes di Khartoum
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2893348/original/032287800_1566861215-sudan.jpg)
Militer Amerika Serikat sedang mempersiapkan opsi untuk mengevakuasi Kedutaan Besar AS di Khartoum, Sudan setelah perang saudara pecah di negara Afrika tersebut.
Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mempertimbangkan apakah akan menarik personel diplomatik keluar dari ibu kota Sudan yang semakin tidak stabil.
Rencana itu dielaborasi lebih lanjut oleh Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada Jumat 21 April 2023.
"Kami telah menyiagakan beberapa pasukan untuk memastikan bahwa kami memberikan opsi sebanyak mungkin jika kami diminta untuk melakukan sesuatu. Tetapi, kami belum diminta untuk melakukan apa pun," kata Austin dalam konferensi pers di Pangkalan Udara Ramstein di Jerman, dikutip dari Alarabiya, Sabtu (22/4/2023).
"Tidak ada keputusan tentang apa pun yang telah dibuat."
Setidaknya dua pejabat AS mengatakan keputusan tentang kemungkinan evakuasi kedutaan mungkin akan diumumkan segera, tetapi tidak jelas apakah akan ada pengumuman publik.
Juru bicara keamanan nasional AS, John Kirby, mengatakan bahwa Presiden telah menyetujui rencana untuk memposisikan pasukan AS ke dekat Sudan, sekiranya mereka diperlukan untuk mengevakuasi diplomat AS.
Pasukan yang dipimpin oleh dua dewan penguasa Sudan yang sebelumnya bersekutu memulai perebutan kekuasaan dengan kekerasan akhir pekan lalu.
Ratusan orang telah tewas sejauh ini. PBB menyebut kondisi di Sudan sebagai sebuah bencana kemanusiaan setelah penduduk negara itu kini bergantung pada bantuan makanan untuk bertahan hidup.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371798/original/091008600_1759721976-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__84_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147880/original/044633900_1662436165-WhatsApp_Image_2022-09-06_at_10.36.26_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4396840/original/039365100_1681602841-sudan2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409526/original/062736400_1479454522-Korea_Selatan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4665935/original/073959000_1701152551-4O38W2C_copyright_image_134562.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328040/original/034555200_1787133277-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302026/original/078434200_1753969683-Gemini_Generated_Image_wwcdvlwwcdvlwwcd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4724339/original/012032600_1706013622-000_33WN2XG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325641/original/090074000_1756009263-hongbin-FG6Kx5XOTzk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3046086/original/019208800_1581323845-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5076500/original/004014500_1735885889-000_32XK6HY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335667/original/045809700_1788017264-va5_4Kt2CiLIA_eQ92UpP4u-s5I86CAR9vJRXVM-KG8khHEks7WmolN6TtCwslw8dwvxbHaUBXceSowFBkbLuampnrrJtOwcFNp07fQmyEuZkaJ4JAvhfFlLfjb89VUGAzygcbQH-olKxE7y7ewxAg.jpg)