Sukses

Mahathir Ingin Klaim Singapura, Ini Reaksi Ketua Parlemen Negeri Singa

Liputan6.com, Singapura - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad memicu kontroversi karena ucapannya terkait Singapura dan Kepulauan Riau. Ia ingin agar kedua lokasi itu diklaim lagi oleh Malaysia. 

Kementerian Luar Negeri RI telah menyampaikan rasa kecewa atas ucapan politikus senior negeri jiran tersebut. Sementara, Ketua Parlemen Singapura Tan Chuan-Jin menanggapi bahwa ia bangga jadi orang Singapura. 

Melalui Instagram, Tan Chuan-Jin menampilkan screenshot dari ucapan Mahathir Mohamad yang diberitakan oleh media massa. Awalnya, ia menyayangkan ada orang-orang Singapura yang menyanjung Malaysia berdasarkan pengalaman anekdotal mereka dan seakan menjatuhkan negara sendiri. 

"Kita tentunya tidak sempurna dan bisa menjadi lebih baik dan akan meningkatkan diri. Tetapi saya bangga menjadi orang Singapura dan tidak menghabiskan waktu saya menjatuhkan negara dan warga saya sendiri," ujar Tan Chuan-Jin.

Sementara, warga Singapura di kolom komentar mengingatkan bahwa dulu pemerintah Malaysia sendiri yang melepas Singapura. Ada juga netizen yang menyorot Malaysia menginginkan Singapura ketika negara itu sudah maju seperti sekarang.

Dulu, Perdana Menteri Pertama Malaysia Tunku Abdul Rahman mengakui sendiri bahwa melepas Singapura adalah idenya. Tunku Abdul Rahman berpendapat perbedaan pemerintahan di Singapura dan Malaysia sudah terlalu banyak, sehingga lebih baik Singapura lepas dari federasi. 

Perpisahan Malaysia dan Singapura dinilai bisa meningkatkan hubungan damai antara kedua negara. Singapura lantas merdeka pada 9 Agustus 1965 dengan Lee Kuan Yew sebagai pemimpin.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Ucapan Mahathir

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan bahwa Singapura pernah dimiliki oleh Johor dan negara bagian Johor harus menuntut agar Singapura dikembalikan ke asalnya, yaitu Malaysia.

"Namun, tidak ada tuntutan apapun dari Singapura. Sebaliknya, kami menunjukkan apresiasi kami kepada kepemimpinan negara baru bernama Singapura ini," ujar Mahathir Mohamad saat berpidato pada Minggu (19 Juni) di Selangor.

Mahathir juga mengatakan, pemerintah Malaysia menganggap lebih berharga bahwa mereka memenangkan kendali atas pulau Sipadan dan Ligitan di lepas Kalimantan melawan Indonesia di Mahkamah Internasional (ICJ), demikian dikutip dari The Straits Times, Selasa (21/6).

"Seharusnya kita tidak hanya menuntut agar Pedra Branca, atau Pulau Batu Puteh, dikembalikan kepada kita, kita juga harus menuntut Singapura dan Kepulauan Riau, karena mereka adalah Tanah Melayu," tambahnya yang disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Mantan perdana menteri berusia 96 tahun itu berbicara pada hari Minggu kemarin di sebuah acara di Selangor yang diselenggarakan oleh beberapa organisasi non-pemerintah di bawah bendera Kongres Survival Melayu.

Dalam pidato pembukaannya yang disiarkan langsung di media sosial, Mahathir mengatakan bahwa apa yang dikenal sebagai Tanah Melayu dulu sangat luas, membentang dari Tanah Genting Kra di Thailand selatan sampai ke Kepulauan Riau, dan Singapura, tetapi sekarang terbatas di Semenanjung Malaya.

"Saya bertanya-tanya apakah Semenanjung Malaya akan menjadi milik orang lain di masa depan," katanya.

3 dari 4 halaman

Prihatin dengan Kondisi Malaysia

Ia juga mengatakan, Malaysia saat ini bukan milik bumiputera, karena banyak orang Melayu yang tetap miskin dan cenderung menjual tanahnya.

Mendesak pendengarnya untuk belajar dari masa lalu, dia berkata, "Jika kami menemukan kami salah, kami harus memperbaiki kesalahan ini sehingga tanah kami tetap tanah Melayu."

ICJ pada tahun 2002 memutuskan bahwa Sipadan dan Ligitan milik Malaysia dan bukan milik Indonesia.

Pada tahun 2008, ICJ memutuskan bahwa Pedra Branca milik Singapura, sementara kedaulatan atas Middle Rocks di dekatnya diberikan kepada Malaysia.

Pada 2017, Malaysia mengajukan permohonan kepada ICJ untuk merevisi putusan ini. Tetapi pada Mei 2018, setelah Mahathir menjadi perdana menteri lagi, Malaysia mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan proses tersebut.

4 dari 4 halaman

Mahathir Mohamad Sebut Pembangunan Malaysia Mulai Ketinggalan Indonesia dan Vietnam

Sebelumnya Mahathir Mohamad juga pernah menyampaikan pandangan bahwa negaranya mulai tertinggal dari Indonesia. Ia bahkan menyebut Malaysia kalah dari negara-negara Afrika. 

"Saya siap untuk menyetujui bahwa dalam hal pembangunan, Malaysia telah tertinggal di belakang Indonesia dan Vietnam belakangan ini. Tentu kita selalu di belakang Singapura," ujar Mahathir tertuang di akun Twitter miliknya, @chedetofficial dikutip Kamis (18/4).

Mahathir mengaku kaget saat menyebut Malaysia mulai ketinggalan oleh negara-negara Afrika, meski ia tak menyebut negara mana yang ia maksud. Namun, Mahathir menyebut masalahnya adalah korupsi dan parlemen.

Ia menyalahkan parlemen yang dilaporkan protes keras terhadap penerapan teknologi tersebut, Mahathir Mohamad menduga itu karena banyak anggota parlemen yang terlibat bisnis ekspor dan impor.

"Kita tidak siap untuk menggunakan teknologi terbaru untuk mencapai efisiensi dan membatasi korupsi. Kita menolak teknologi ini karena ia bisa mengekspor tindakan-tindakan salah dari Anggota Parlemen kita," ujar Mahathir.

"Dan jadinya negara kita terus kehilangan uang karena kita menolak jalan-jalan yang lebih baik untuk manajemen," jelasnya.