Sukses

Idul Fitri 2022 Pemimpin Taliban Pidato Perdana, Puji Kemenangan di Afghanistan

Liputan6.com, Jakarta - Pemimpin Taliban yang tertutup, dalam penampilan publik yang langka, Minggu (5/1) memuji apa yang dikatakan sebagai kembalinya keamanan dan sistem Islam ke Afghanistan, setelah kelompok garis kerasnya merebut kekuasaan Agustus lalu.

“Selamat atas kemenangan, kebebasan, dan kesuksesan ini,” kata Hibatullah Akhundzada kepada ribuan jemaah di masjid pusat di Kandahar, kota di Afghanistan selatan.

Ia berbicara pada awal perayaan Idul Fitri selama tiga hari. Kota terbesar kedua di Afghanistan ini dikenal sebagai tempat kelahiran Taliban dan pusat kekuatan de facto-nya. Demikian seperti dikutip dari laman VOA Indonesia, Senin (2/5/2022).

Akhundzada menyampaikan pidato publik pertamanya sejak pengambilalihan itu. Ia menyampaikan pidato singkat tanpa menoleh ke arah para jemaah.

Petugas keamanan Taliban membatasi wartawan, termasuk awak televisi resmi Afghanistan, ke sudut masjid dan tidak mengizinkan mereka mendekati Akhundzada.

Seorang saksi mata mengatakan kepada VOA bahwa kompleks masjid itu dijaga ketat, dengan posisi senapan mesin di atap masjid di sekitar kubah dan menara yang sedang dibangun di sebelah gedung itu.

Sejumlah besar tentara Taliban dikerahkan di dalam dan di luar rumah ibadah itu dan helikopter MI-17 buatan Rusia serta satu pesawat Cessna melayang di atas masjid itu ketika Akhundzada menyampaikan pidatonya.

Langkah-langkah keamanan yang ketat itu disebabkan oleh rangkaian pemboman di masjid, sekolah dan sasaran sipil lainnya di kota-kota besar Afghanistan, termasuk ibu kota, Kabul, selama dua minggu terakhir, menewaskan dan melukai sejumlah orang.

Para korban kebanyakan adalah anggota komunitas minoritas Muslim Syiah. Beberapa serangan telah diklaim oleh afiliasi ISIS di Afghanistan, ISIS Provinsi Khorasan, yang lebih dikenal dengan singkatan ISIS-K.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Pemerintah Rusia Kembali Buka Wacana Akui Taliban

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kembali membuka wacana pengakuan rezim Taliban di Afghanistan. Lavrov meminta adanya pemerintahan yang inklusif.

Dilaporkan TOLO News, Jumat (29/4/2022), hingga kini belum ada negara yang secara resmi mengakui rezim Taliban. Pihak Rusia meminta adanya pemerintahan inklusif, tak hanya secara etno-konfesional (keagamaan), tetapi secara politik.

"Kami ingin bekerja menuju pengakuan diplomatik yang sepenuhnya pada otoritas-otoritas baru di Afghanistan dalam pengertian mereka akan memenuhi janji mereka dan membentuk sebuah pemerintahan yang inklusif, tidak hanya dari sudut pandang etno-konfesional, sebab mereka sekarang punya kelompok Uzbek, Tajik, dan Hazara, mereka semua anggota-anggota Taliban. Tetapi inklusivitas politik yang mesti menentukan langkah-langkah lebih jauh, terutama karena Taliban sudah memproklamirkan tujuan ini," ujar Sergei Lavrov.

Menlu Rusia itu turut menyatakan bahwa negaranya selalu berkomunikasi dengan Taliban melalui kanal-kanal diplomatik, termasuk kedutaan besar. Isu yang dibahas termasuk masalah ekonomi.

3 dari 5 halaman

Langkah Emirat

Sementara, deputi jubir Emirat Islam, Bilal Karimi, menyatakan bahwa negaranya sudah mengambil langkah-langkah terkait inklusivitas tersebut.

"Emirat Islam ... telah mengambil langkah-langkah untuk hal ini untuk pemerintahan yang akuntabel yang akan mendapatkan dukungan rakyat dan legitimasi penuh," ujarnya.

Politisi di Afghanistan juga meminta agar ada pemerintahan yang inklusif di Afghanistan jika ingin diakui oleh dunia internasional.

"Kecuali pemerintahan Emirat Islam itu inklusif, tidak ada negara yang dekat atau jauh yang siap mengakuinya," ujar Ishaq Gailani, kepala Gerakan Solidaritas Nasional Afghanistan.

4 dari 5 halaman

Pemimpin Tertinggi Taliban Larang Opium Ditanam dan Diperdagangkan di Afghanistan

Sebelumnya dilaporkan, pemimpin tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada melarang penanaman poppyopium dan perdagangan opium di Afghanistan. Perintah itu tertuang dalam keputusan pemerintahan sementara pimpinan Taliban.

"Penegakan keputusan ini adalah wajib. Pelanggar akan dituntut dan dihukum oleh pengadilan," kata pemerintahan sementara pimpinan Taliban dalam sebuah pernyataan.

"Sesuai dengan keputusan pemimpin tertinggi Emirat Islam Afghanistan, semua warga Afghanistan diinformasikan bahwa mulai sekarang, penanaman poppyopium telah dilarang keras di seluruh negara ini." 

Pernyataan itu menambahkan bahwa jika ada yang melanggar keputusan tersebut, tanaman yang dimaksud akan segera dimusnahkan dan pelanggar akan dihukum.

"Selain itu, penggunaan, pengangkutan, perdagangan, ekspor dan impor semua jenis narkotika, seperti alkohol, heroin, tablet K (obat dengan efek stimulan yang sering dijual di Afghanistan), hashishdan lain-lain, termasuk pabrik pembuatan obat di Afghanistan, kini dilarang keras," ungkap pernyataan itu.

"Penegakan keputusan ini adalah wajib. Pelanggar akan dituntut dan dihukum oleh pengadilan," menurut pernyataan itu.

Diketahui, sebagian besar poppyopium di dunia ditanam di negara Asia yang dilanda militansi itu. Pada 2020, sekitar 6.300 ton opium diproduksi di negara itu, menurut data resmi. 

5 dari 5 halaman

Menlu Retno Marsudi Minta Taliban Penuhi Janji Jika Ingin Dipercaya Dunia

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan pentingnya Taliban untuk memenuhi janji-janji yang telah disampaikan jika ingin mendapatkan kepercayaan dari dunia.

"Penting bagi Taliban untuk memenuhi janji-janjinya," ujar Retno Marsudi dalam konferensi pers virtual, Kamis (31/3).

"Karena pemenuhan janji tersebut atau pemenuhan komitmen tersebut akan menciptakan enabling environment bagi dukungan internasional terhadap pembangunan ekonomi Afghanistan," tambahnya.

Menurutnya, penting membangun kepercayaan antara Taliban dengan dunia internasional.

"Saya sampaikan trust atau kepercayaan ini tidak jatuh dari langit. Namun harus dibangun dan dipelihara," ujar Retno Marsudi.

"Trust akan tercipta apabila Taliban melakukan langkah maju dan memenuhi semua komitmen yang telah disampaikan pada Agustus tahun lalu."

Ketika  menghadiri Doha Forum, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat negara, salah satunya adalah Taliban.

Dalam pertemuan itu, Retno Marsudi menyikapi keputusan Taliban yang tidak mengizinkan perempuan bersekolah di secondary school.

Dalam pertemuan tersebut, saya juga sampaikan concern Indonesia atas kebijakan penutupan akses terhadap sekolah tingkat atas bagi perempuan di Afghanistan," ujar Retno Marsudi dalam pernyataan pers, Senin (28/3).

"Saya menegaskan bahwa pendidikan perempuan sangat penting bagi masa depan Afghanistan."